Hancur

56 13 0
                                        

Halo!

Jangan lupa buat vote dan komen, yah!
Moga kalian masih semangat baca dipart ini!

Selamat membaca!


_
_
_
_
_
_

Belva memasuki rumah dengan keadaan wajahnya yang berantakan akibat menangis di puncak tadi. Baru memasuki ruang keluarga, dia langsung berhenti, karena Sella selaku ibunya ada di sana melihatnya dengan sinis. Otomatis Belva langsung menunduk dan melangkahkan kakinya dengan sangat pelan.

"Apa maksudnya ini?" tanya Sella membuang amplop di atas meja dengan kasar.

Sontak Belva berhenti dan menoleh melihat amplop yang berlogokan sekolah SMA Felix di atas meja.

"Kamu bolos? HAH!" bentak Sella

Belva menunduk, tidak berani melihat wajah ibunya. "Maaf."

Hanya kata itu yang bisa di keluarkan Belva dari mulutnya.

"Kemana kamu saat bolos?" tanya Sella berdiri dari sofa sambil melipat tangannya di depan dada.

Belva diam dan masih menunduk. Dia memutar bola matanya yang berkaca-kaca itu agar air matanya tidak merembes keluar. Dia seakan jengah dengan kehidupannya, yang setiap pulang ke rumah selalu mendapatkan hardikan, hardikan, dan hardikan. Tidak ada yang lain.

"Jawab, anak sialan?!" bentak Sella membuat Belva tersentak.

"Aku ... aku em ... waktu itu aku--"

"Jawab dengan benar." Sella geram

"Waktu itu aku ... aku terlambat karena ketinggalan Bus," jawab Belva bohong.

"Jawab dengan jujur!" geram Sella karena tau Belva bohong sambil mengangkat dagu Belva dengan kasar agar menatap matanya.

"Belva ke puncak, Mah." Belva menutup matanya dan air matanya mengalir begitu saja.

"Apa! Ke puncak?" ulang Sella.

Belva mengangkuk sambil menangis.

"Sudah berapa kali kamu di bilangin jangan keluar rumah kecuali sekolah?" tanya Sella pelan namun menekan suaranya.

"Berulang kali, Mah hiks ...." lirih Belva

"Lalu kenapa kau selalu melanggar sialan?!" Sella lalu menghempaskan Belva hingga terjatuh di lantai.

"Maaf, Mah"

"Ingat, kalau saya tau kamu masih bolos, saya akan kurung kamu atau saya bunuh saja kamu sekalian biar kamu itu tidak mengganggu!" kata Sella marah

Deg

Salsa mendengar itu berhenti melangkah saat sudah ingin memasuki ruang keluarga. Dia baru saja pulang, tapi kenapa harus dihadapkan dengan hal yang tidak enak untuk didengar dan dilihat.

Apa Mama tidak bisa menyaring perkataannya. Batin Salsa menunduk di balik tembok.

"Mah," geleng Belva

"Apa? Nggak seneng? Makanya jangan bikin malu nama saya di sekolah kamu! Dasar tidak tahu diri!" umpat Sella

Belva hanya bisa menangis mendengar perkataan Mamanya yang sangat menusuk baginya.

"Lalu siapa yang mengantarmu tadi, HAH?!" tanya Sella lagi.

Belva membulatkan matanya. Bagaimana bisa Mamanya tahu? Dia kan turun bukan di depan rumah.

"Itu ... itu teman sekelasku." Jawabnya jujur.

"Ck, memangnya kau punya teman?" kemudian Sella mengangkat dagu Belva dengan kasar.

Why Should Be Me [ Tamat ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang