Film Action

41 13 0
                                        

Angin berhembus sangat kencang hingga jendela kamar berhempaskan begitu saja dan membuat kain horden beterbangan. Gadis yang sudah sangat lelah menangis itu, akhirnya membuka kelopak matanya yang membengkak. Dia kemudian duduk dan melihat ke arah luar, dimana angin begitu kencang berhembus.

Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dan menuju balkon kamarnya. Dia tidak merasa takut sedikit pun, bahkan dia merentangkan tangannya seperti menikmati angin kencang itu. Wajahnya yang sembab diterpa angin hingga membuat rambutnya beterbangan.

"Bawa aku pergi," bisiknya

Seketika angin kenjang menjadi sedikit mereda. Gadis itu membuka matanya lalu tersenyum kecut.

"Bahkan angin tidak mau membawaku pergi dari sini."

Setelah melihat mobil di bawah sana sudah berangkat membawa pemiliknyaa pergi ke tempat tujuannya, gadis itu lalu memasuki kamarnya kembali dan merapikan tempat tidurnya kemudian beranjak ke kamar mandi.

Belva bercermin dan merapikan rambutnya. Dia menggerai rambutnya agar bisa menyembunyikan wajah sembabnya. Dia tidak memakai kaca mata untuk menutupinya ,karena kaca matanya hilang entah kemana di meja. Dia lalu berangkat membawa tas berukuran kecil yang hanya diisi satu buku dan pulpen saja.

Saat melewati ruang keluarga, Dia melihat ayahnya ralat, mantan Ayahnya yang sedang sibuk dengan ponselnya di sofa. Sebenarnya Belva ragu untuk lewat, tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada jalan lain selain menghadapi sang singa.

"Dasar anak tidak tahu diri" ucap Raymon saat Belva lewat di hadapannya.

Kata-kata itu sangat menusuk, namun Belva berusaha untuk tetap kuat dan mengabaikannya. Doa melanjutkan langkahnya keluar dari rumah dengan wajah datar dan dingin tak terbaca.

Belva berjalan santai di trotoar. Dia merasa ada yang mengikutinya dan memperhatikannya, namun dia sudah tidak takut lagi karena sudah tau pelakunya. Pelakunya adalah bodygard yang melewatinya saat pulang dari tumah Glen. Dia jugalah yang hampir membunuhnya di dalam hutan waktu itu.

"Apa lagi yang diinginkan dariku. Apa nyawaku harus melayang juga baru mereka puas," ucapnya jengkel.

"Hah! Sabar Belva, sabar. Sedikit lagi kamu akan bebas" lanjutnya sambil tersenyum.

Belva menahan taxi tepat di persimpangan jalan. Dia lalu masuk dan menoleh pada orang itu. Orang itu langsung menunduk menutupi wajahnya.

"Ck, pake ditutup. Aku udah tau kali!" ucapnya berbicara sendiri di dalam taxi.

Sesampainya di sekolah, Belva bingung. Karena melihat semua orang berlari kesatu perkumpulan. Tapi Belva tidak menghiraukannya, sebab untuk apa peduli dengan urusan orang lain, toh tidak ada yang peduli dengan keadaannya juga.

Belva memilih berjalan dengan santainya dengan menampilkan raut wajah datar sambil menikmati angin sopoi-sopoi yang menerpa wajahnya. Yah,  dia berusaha mengubah moodnya menjadi lebih baik walau sangat sulit. Semakin dia berjalan,  semakin dia dekat dekat kerumunan yang tuju banyak orang.

"Mana bukti perkataan lo kemarin? Hah!" tanya Audrea yang sayup-sayup di dengar Belva.

Plak.

"Dia bully siapa lagi? "tanya Belva

"Lo tau, kan. Kalau gue nggak suka di usik. Apalagi lo udah permaluin gue di depan banyak orang kemarin!" bentak Audrea menggema di lorong itu.

"Ini hukuman buat lo karena udah berani sama gue" lanjutnya.

Plak!

"Lo terlalu berani buat remehin ancaman gue" katanya lalu mendorong keras bahu sang korban.

Why Should Be Me [ Tamat ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang