Halo readers Q!
Kagen yah sama ceritaku yang bikin emosi ini?
Makanya kalau mau aku update lebih banyak, kalian vote dan komen dong!
Coment yang banyak-banyak yah, biar aku makin semangat!
Love U readers ku yang setia dan yang selalu nungguin ceritaku"
Selamat membaca!
Tinggalkan jejak kalian! 🙂
❤❤❤
============================
Aroma khas tanah seusai hujan tercium sangat jelas di indra penciumam semua orang yang tinggal di daerah sekitar Jakarta. Ditambah lagi suara kicauan burung di pagi hari sangat enak di dengar membuat siapapun ingin berada di waktu itu terus.
Seperti Belva yang sedang memeluk bantal guling saat ini. Tidurnya semalam sangatlah nyenyak, hingga rasa takutnya saja menghilang berkat kakak kesayangannya itu. Kejadian kemarin benar-benar menguras tenganya.
Dia lalu membuka matanya dan meregangkan otot-ototnya sambil berusaha mengumpulkan nyawanya. Setelah dirasa lebih baik, dia kemudian bangkit dari kasurnya mengambil handuk lalu melaksanakan ritual yang setiap hari dia lakukan.
Dia sudah tidak mencari keberadaan kakaknya itu, karena kebiasaan Salsa memang begitu. Pergi tanpa pamit dan datang sesukanya.
Y
ah seperti biasa, setelah mandi dan memakai seragam, Belva menyisir rambutnya lalu mengikatnya ke belakang dengan karet gelang dan menyisakan sedikit poninya. Kemudian memoleskan sedikit bedak baby di wajahnya dan memakai sedikit pelembab bibir yang dibelinya kemarin. Tangannya terulur ke meja mengambil kaca mata lalu memasangnya.
Belva kemudian melihat penampilannya di cermin. Penampilannya biasa-biasa saja, namun dia begitu seperti selebriti di sekolah. Mukanya yang datar seperti tripleks tanpa senyum sedikit pun membuatnya seperti tidak memiliki tujuan hidup. Lalu kenapa semua siswa di sekolahnya haus akan berita tentang dirinya?
Belva menatap dalam dirinya di dalam cermin, dan bayangan Mikeil datang di pikirnnya. Mengingat kejadian kemarin membuat dirinya sendiri tersenyum tipis, sangat tipis. Dan matanya memancarkan kebencian.
Dia kemudian menyisir kembali rambutnya agar lebih rapi. Mengenakan lipstik berwarna pink sedikit dan melepas kaca matanya.
Belva membuang nafasnya perlahan melihat penampilannya.
"Terlihat lebih baik dari sebelumnya," ucapnya tersenyum miring.
"Ini adalah hari pertamamu untuk kuat Belva, jadi jangan merasa gentar atau takut pada mereka nanti dan SETERUSNYA!" lanjutnya Belva menekan kata terakhir.
"Semoga kamu bisa!" sambungnya mengambil tasnya dari tempat tidur lalu memakainya.
Dia Kemudian menuju dapur untuk mengambil roti untuk di makannya. Di meja makan masih belum ada yang sarapan, karena memang masih sangat pagi. Dia sengaja berangkat sekolah lebih cepat agar bisa menghindari orang jahat itu.
Saat keluar pagar rumah, Belva melihat pria berpakaian dan bertopi hitam lagi sedang mengintainya dari jarak 10 meter darinya.
"Bagaiman ini?" ucapnya dengan tangan bergetar.
Belva berusaha menetralkan perasaan takutnya dengan manarik dan membuang nafasnya berkali-kali. Belva berusaha berfikir agar bisa menghindri orang itu. Tapi rasa takutnya seketika hilang saat matanya menangkap seorang laki-laki remaja SMA yang sepertinya seumuran dengannya sedang duduk di atas motor di depan jalan sana. Para pembersih jalan juga sudah mulai berdatangan, jadi tidak perlu terlalu takut sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Be Me [ Tamat ]
Mystery / Thriller> Follow dulu yah, karena sewaktu-waktu cerita ini akan di privat< Di benci oleh orang tua sendiri! Di bully! Di Teror! Di ancam! Di jadikan bahan taruhan! Dan ingin di bunuh! Siapa yang akan tahan jika menjalani hidup seperti itu? Yah, Dia Belva Am...
![Why Should Be Me [ Tamat ]](https://img.wattpad.com/cover/273926434-64-k730538.jpg)