Setelah beberapa menit berada di atas kendaraan beroda dua itu, Belva terbangun saat sudah hampir di depan rumahnya. Mereka sampai tepat waktu tanpa ada hambatan. Saat motor telah berhenti, barulah Belva turun dan melepas helmnya.
"Lo sakit? Muka lo pucat banget," tanya Mikeil menyentuh wajah Belva namun Belva menghempasnya cepat.
"Nggak. Mungkin cuma kecapean aja" jawab Belva mengambil tas di depan Mikeil.
Sebenarnya Mikeil sedikit kecewa, namun ia tepis hal itu jauh-jauh. Belva benar-benar tidak mau didekati olehnya.
"Makasih" ucap Belva lalu berbalik berjalan membuka pagar.
Saat membuka pagar, Belva memengang dadanya yang begitu sakit. Hal itu tidak lepas dari pandangan Mikeil. Dia berfikir apakah Belva sakit? Tapi dia tepis hal itu karena dia tidak menginginkan hal itu terjadi pada Belva.
Mikeil terus memantau Belva hingga masuk ke dalam rumahnya. Takut jika Belva terjatuh karena kecapean. Setelah memastikannya masuk rumah, dia kemudian melajukan motornya membela jalan raya.
Sedangkan di dalam rumah, ruangan
kerja seorang pria paruh. Terdapat sorang oria paruh baya yang sedang memeriksa dokumen-dokumen miliknya. Bunyi suara handphone mengalihkan konsentrasinya. Dia lalu mengambil benda pipi tersebut.
"Halo"
"...."
"APA? mereka membatalkan kontrak kerja bersama kita?" ucap Raymon dengan suara keras.
"...."
Tuttt....
"Anak sialan itu! Ini semua pasti karena dia tidak menerima perjodohan waktu itu" ucap Raymon marah sambil mengepal tangannya.
"HAAAAAAA" teriaknya lalu menjatuhkan semua barang di meja kerjanya.
"Tunggu bagianmu anak sialan!" teriaknya
Dia lalu keluar ruang kerjanya tidak lupa mengambil pistol di dalam laci miliknya terlebih dahulu.
"Dimana anak sialan itu?" teriaknya dengan nafas memburuh karena sangat marah.
"Papa kenapa?" tanya Salsa
"Di mana anak sialan itu sekarang?" tanyanya lagi sekali lagi.
"Dia pergi dengan Kakek tadi, dan sampai sekarang belum pulang?"
Setelah mengatakan itu, tanpa sengaja Salsa melihat pistol di tangan Ayahnya. Dan hal itu sontak membuatnya membulatkan matanya.
Jangan pulang Belva! Batin Salsa berharap. Tapi saat mendengar suara itu, pupuslah sudah harapannya.
"Papa kenapa cariin aku?" tanya Belva yang baru saja datang.
"Hah! Kau memang beruntung hari ini?" ucap Raymon tersenyum miring namun menakutkan.
"Maksud Papa apa?" tanya Belva takut melihat pistol yang di pegang Raymon.
Raymon langsung menarik kera baju Belva hingga Belva berjinjit.
"Papa kenapa?" tanya Belva sedikit takut melihat wajah Papanya yang menyeramkan.
"Gara-gara kamu, perusahaan saya kehilangan suntikan dana sialan! Harusnya kamu terima saja perjodohan itu!" bentak Raymon di depan wajah Belva.
"Maaf, Pah" ucap Belva
"Harusnya kamu terima perjodohan itu sebagai balas budi kamu pada kami, karena kami sudah membesarkan dan membiarkan kamu hidup sialan!" teriaknya lalu menarik Belva hingga kakinya bergantung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Be Me [ Tamat ]
Mystery / Thriller> Follow dulu yah, karena sewaktu-waktu cerita ini akan di privat< Di benci oleh orang tua sendiri! Di bully! Di Teror! Di ancam! Di jadikan bahan taruhan! Dan ingin di bunuh! Siapa yang akan tahan jika menjalani hidup seperti itu? Yah, Dia Belva Am...
![Why Should Be Me [ Tamat ]](https://img.wattpad.com/cover/273926434-64-k730538.jpg)