Saudara

51 11 0
                                        

Pagi hari mata Belva bengkak seperti mata panda,  dan hidungnya merah karena menangis. Alhasil dia kembali menggunakan kaca mata agar mata pandanya bisa tertutupi.

Sekarang Belva baru saja menuruni Bus yang sering ia naiki jika berangkat sekolah. Dia berjalan dengan sangat lesuh menuju gerbang sekolah yang sudah ramai dimasuki para siswa lainnya.

Tak sengaja matanya tertuju pada mobil berwarna hitam di depan sana. Seorang anak laki-laki turun dari dalam mobil itu dengan sangat senang dan senyum yang mengembang di bibirnya. Dia adalah Glen. Ayahnya mengantarnya ke sekolah, jadi dia merasa senang karena itu adalah pertama kalinya setelah setahun terakhir.

Belva menghentikan langkahnya dan mengepal kuat jemarinya itu seakan ingin dia patahkan. Bunyi gemelatuk dari dalam mulutnya terdengar begitu jelas. Dan matanya memerah karena menahan emosi.

"Nanti Papa jemput," ucap Cristhan lalu menutup kaca mobilnya dan kemudian menjalankan mobilnya.

"Siap, bos" balas Glen sambil memberikan senyum mengembang.

"Ck, seneng banget yah punya keluarga" gumam Belva sambil tersenyum kecut dan masih mengepal kuat jemarinya.

"Eh. Belva. Tumben lo nggak rapi" panggil Glen mendekati Belva lalu merangkulnya.

"Jangan sentuh gue!" Bentak Belva sambil menghempaskan tangan Glen lalu masuk ke dalam lingkungan sekolah.

Glen meregangkan otot lehernya merasa bingung.

"Sttt ... mungkin dia lagi banyak masalah kali yah" gumannya lalu berjalan memperhatikan Belva dari belakang.

Di koridor, teman-temannya tidak sengaja melempar kertas ke arah Belva.  Untung saja dia gesit menangkis bola kertas itu, jika tidak bola kertas itu akan mengenai kata mata miliknya lagi. Dan dia tidak suka itu.

"Lo bukan anak kecil lagi, kan. Jadi jangan lempar-lempar kertas!" geram Belva sambil meremas kertas di tangannya.

Siswa yang bernama Sindi itu kemudian meminta maaf lalu masuk ke dalam kelasnya karena takut melihat ekspresi Belva yang begitu dingin.

"Itu bukan Belva," gumam Glen yang masih mengikuti Belva dari kejauhan.

Krienggggggg!

Bel berbunyi. Menandakan siswa di haruskan masuk ke dalam ruangan masing-masing untuk melaksanakan ujian terakhir.

Di dalam kelas, Belva diam seribu bahasa menampilkan wajah datar dan dinginnya. Teman-temannya yang mengejeknya tidak dia hiraukan dan malah sibuk dengan pikirannya sendiri.

Mikeil yang melihat Belva sedikit Berbeda kemudian menyikut tangan Glen meminta penjelasan.

"Gue nggak tau. Dari pagi sikapnya berubah drastis" jawab Glen tanpa melihat Mikeil.

"Lo tanya langsung sana!" suruh Mikeil dan Glen mengangkuk.

Baru saja berdiri dari bangkunya,  pengawas sudah lebih dulu masuk membuat Glen mengurungkan niatnya dan kembali duduk.

Pengawas itu lalu membagikan lembar soal dan lembar jawaban untuk para siswa di kelas itu.

Selama ujian terakhir berlangsung, Belva mematahkan dua buah pensil dan lembar soalnya ada yang robek hingga bocor. Pengawas yang melihatnya dibuat heran bahkan teman yang duduk di dekatnya geleng-geleng melihat kelakuannya itu.

"Peserta bernama Belva Amaria" panggil pengawas.

Belva menoleh ke sumber suara tanpa menjawab.

"Apa kamu memiliki masalah dengan peralatan ujianmu?" tanyanya sambil melihat pensil Belva yang berserakan di lantai.

"Tidak!" jawab Belva singkat.

Why Should Be Me [ Tamat ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang