Salam Perpisahan

96 38 170
                                        


Di dalam ruang aula, semua orang duduk di kursi masing-masing. Para orang tua dan siswa sangat antusias dan amat bahagia, karena hari ini adalah hari  pengumuman kelulusan. Acara telah berlangsung selama setengah jam, dan semua siswa tidak sabar untuk mendengar pengumuman mereka.

Hari yang mereka tunggu-tunggu sangatlah menegangkan, tapi tidak dengan gadis berusia 16 tahun itu. Dia sama sekali tidak tertarik dengan acara kelulusannya sendiri. Pikirannya hanya fokus pada dirinya.

"Terima kasih untuk Bapak dan Ibu yang telah bersedia untuk datang di pengumuman ketulusan anak-anak kita. Terima kasih juga untuk anak-anakku yang sudah hadir. Saya akan mengumumkan siapa yang berhak lulus dan tidak." Perkataan kepala sekolah membuat semua orang menjadi tegang.

"Gue lulus nggak yah," ucap Salsa dan beberapa siswa lainnya.

Salsa meremas tangan Belva sambil memohon didalam hatinya.

"Yah lulus, lah. Sekolah juga malu kali, kalau siswanya ada yang nggak lulus," jawab Belva dengan pelan.

"BENARAN?" teriak Salsa sambil berdiri membuat semua orang yang tegang menjadi tersentak karena kaget.

Belva menelan ludahnya kasar. Karena lagi dan lagi semua orang melihat ke arah mereka karena ulah Salsa. Apalagi kepala sekolah melotot ke arah mereka sekarang.

Salsa yang sadar bahwa mereka menjadi pusat perhatian mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia lalu meminta maaf pada semua orang kemudian duduk kembali.

"Besok-besok kalau di tempat ramai jahuan aja, yah" kata Belva pada Salsa.

"Ihs ... nggak boleh gitu sama kakak sendiri" balas Salsa mencubit pelan tangan Belva.

"Tapi yang lo bilang benar, kan?" lanjutnya lagi.

"Yang berhak lulus berjumlah ...." lanjut kepala sekolah masih menggantungkan ucapannya.

"Belva. Yang lo bilang benar, kan?" tanyanya lagi dan lagi karena masih ingin memastikan.

"Iya, benar. Kapan sih aku bohong!" jawab Belva

"Berjumlah.... " ucap kepala sekolah sekali lagi.

"Alhamdulillah ya Allah" kata Salsa dengan suara yang sangat keras seperti berteriak sambil berdiri dari kursinya dengan mengadahkan tangannya.

Orang yang tadinya tegang lagi kembali kaget. Sedangkan teman-teman mereka geleng-geleng melihat Salsa.

"Ck, belum juga diumumin, udah senang duluan aja dia. Lucu," ucap Glen tersenyum melihat tingkah Salsa.

"Benar-benar gila nih anak!" ucap Audrea

Belva menutup wajahnya karena malu.

"Mah, anak kita kenapa? Dia bukan orang kayak gitu loh" tanya Raymon pada istrinya melihat kelakuan Salsa.

"Nggak tahu" jawab Sella bingung.

"Salsa tolong duduk kembali!" suruh kepala sekolah.

Salsa yang namanya di sebut di microfon menggaruk kepalanya malu, karena di lihat semua orang.

"Maaf pak, maaf semuanya" ucap Salsa sedikit membungkukkan badannya lalu duduk kembali.

"Aduh malu banget" gumam Salsa menutup wajahnya.

"Aku yang lebih-lebih malu" balas Belva membuang wajahnya ke arah lain.

Di belakang sana Mikeil tidak memperhatikan kepala sekolah yang sedari tadi berbicara. Dia hanya fokus pada Belva. Ditolak oleh Belva benar-benar membuatnya sedih. Tapi itu memang salahnya. Seandainya saja dia tidak menyetujui taruhan itu, mungkin Belva mau berpacaran dengannya sekarang.

Why Should Be Me [ Tamat ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang