Hi readersku tersayang!
Selamat membaca yah!
Moga aja emosi kalian terkendali saat membaca ceritaku ini.
Hati-hati banyak typo bertebaran dimana-mana. Maklum masih pemula hehehe
Coment yah!
Tembusin 100 coment, oke!
Vote jangan lupa, gratis kok!
Sekali lagi makasih yang udah setia!
❤❤❤❤
=============================
Krienggggggg!
Suara bel berbunyi menandakan jam istirahat telah tiba. Sudah seminggu setelah kepindahan Glen di SMA Felix dan semua kaum hawa jadi gila karena penyemangat mereka bertambah. Tidak jarang mereka memujinya secara terang-terangan, tapi Glen hanya menanggapinya dengan senyuman yang membuat mereka pangling.
Seminggu itu juga Belva merasa risih karena Glen selalu mengikutinya. Hal itu membuat Belva tidak suka karena para kaum hawa yang membencinya bertambah. Bahkan semua mata yang memandangnya sekarang adalah mata yang seakan ingin mengulitinya.
Diam-diam Salsa terus memperhatikan Belva. Dia sangat penasaran kenapa dia bisa kenal dengan Glen, secara Belva kan jarang keluar rumah.
Belva beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke kantin sekedar mengisi perutnya yang sedari pagi belum diisi.
"Woy. Lo mau kemana?" teriak Glen di dalam kelas.
"Ke kantin," jawab Belva
"Gue ikut, yah" kata Glen berjalan ke samping Belva.
"Mikeil lo nggak ikut?" tanya Glen
"Duluan aja," jawabnya singkat.
Glen mengedikkan bahunya melihat sikap Mikeil. Dia kemudian mengejar Belva di koridor.
Saat menuju kantin, mereka terus di pandang banyak orang. Begitupun di kantin. Mereka bahkan tidak segan-segan membicarakan Belva dengan suara yang keras. Sedangkan Belva tidak mempedulikan hal tersebut.
Malas!
Belva malah santainya memesan nasi goreng dan es jeruk. Sedangkan Glen memesan bakso dan es teh kesukaannya. Setelah itu, mereka menuju meja yang masih kosong.
Glen sangat heran kenapa Belva seperti selebriti di sekolahnya. Bukannya dia biasa-biasa saja, tapi kenapa orang-orang sangat suka membicarakannya. Glen jadi pusing memikirkannya.
"Lo nggak merasa marah gitu digosipin sama mereka?" tanya Glen menyeruput es tehnya.
"Nggak!" jawab Belva dengan datar.
Menurut Belva itu tidak penting. Yang penting itu adalah siapa orang yang ingin membunuhnya dan terus menerornya?
"Lo kaya selebriti yah, di sini!" ucap Glen sambil makan.
"Kenapa, kamu mau kaya aku?" tanya Belva.
"Yah enggak lah. Gue cuma salut sama lo, karena lo tahan di lingkungan kayakn gini yang di kelilingi orang-orang kepo," jawab Glen
Glen terus berbicara sendiri, sedangkan Belva diam memakan makanannya sampai habis.
"Aku duluan" ucap Belva sambil berdiri lalu pergi.
"Eh lo udah makan? Cepat banget. Tungguin gue bentar lagi gue selesai Kok ini," kata Glen menyeruput es tehnya hingga tandas.
"Nggak usah! Aku mau cari angin," balas Belva lalu pergi ke luar kantin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Be Me [ Tamat ]
Misteri / Thriller> Follow dulu yah, karena sewaktu-waktu cerita ini akan di privat< Di benci oleh orang tua sendiri! Di bully! Di Teror! Di ancam! Di jadikan bahan taruhan! Dan ingin di bunuh! Siapa yang akan tahan jika menjalani hidup seperti itu? Yah, Dia Belva Am...
![Why Should Be Me [ Tamat ]](https://img.wattpad.com/cover/273926434-64-k730538.jpg)