Setelah mayatnya di mandikan dan di makamkan, semuanya kembali ke rumah masing-masing. Semuanya menangis tanpa henti. Perasaan bersalah membesar di hati setiap orang terdwkat Belva. Apalagi Cristhan dan Isabel, mereka berdua sangat terpukul karena kesalahan mereka di masa lalu, putri mereka menjadi Imbasnya.
"Seandainya Belva nggak lahir di rahim Mama, pasti Belva akan hidup bahagia" racau Isabel
"Mah, udah kita harus kuat. Pasti Belva juga nggak suka kalau liat kita sedih kaya gini" Glen berusaha menenangkan ibunya.
"Memang kenyataannya seperti itu Glen. Belva menderita karena karena Mama yang melahirkannya" bentak Isabel
"Mah"
"Semuanya salah Papa. Papa yang nggak becus menjaga keluarga kita. Papa memang Nggak pantas menjadi seorang ayah" ucap Cristhan
"Papa jangan ngomong gitu dong"
Glen tidak tau harus melakukan apalagi untuk membuat kedua orang tuanya berhenti untuk menyalahkan diri mereka. Sebab dia juga masih merasa bersalah amat dalam pada adiknya itu. Sebagai seorang kakak, dia gagal menjaga adiknya dalam lingkaran bahaya.
"Assalamualaikum."
Glen berbalik ke arah pintu. Dan saat melihat orang yang mengucapkan salam, seketika emosinya kembali naik.
"Ngapain lagi lo ke sini, HAH!" bentak Glen
"Om Tante, saya dateng ke sini mau menyampaikan pesan Belva" ucapnya menghiraukan Glen.
"Belva menyampaikan sesuatu?" tanya Isabel
"Iya Tante. Ini" Mikeil lallu menyerahkan ponselnya
"Rekaman?" tanya isabel bingung melihat tampilan layar benda pipi tersebut.
Mikeil mengangkuk.
Tangan wanita itu pun terulur memutar rekaman itu.
"Mah, Pah, Glen."
Suara lemah itu mampu membuat hati mereka bergetar dan air mata mereka langsung terjatuh begitu saja dari pelupuk mata.
"Jangan sedih ... semuanya bukan kesalahan. Semuanya terjadi karena dendam Papa Raymon dan Mama Sella. Belva harap kalian tidak seperti mereka. Mereka jahat. Tapi Belva besyukur karena mereka tidak membunuh aku sebelum bertemu dengan kalian."
"Kalian tau nggak, Belva senang banget ... akhirnya doa yang ingin bahagia dan bebas bisa terkabul."
"Kalau Belva sembuh, Belva pengen piknik bareng Papa, Mama, sama Glen yang cerwetnya minta ampun itu. Janji yah Pah!"
"Ck. Gue cerewet yah" ucap Glen menyeka air matanya.
"Pah ... jangan salahin diri Papa yah, karena semuanya bukan salah Papa maupun Mama. Papa Raymon sama Mama Sella cuman dendam sama kalian dan lampiasin sama Belva. Lagian ... mereka itu sudah merawat aku sampai gede kaya gini. Jangan pernah marah sama Kakek dan Oma juga. Mereka baik dan sayang sama Belva."
"Janji sama Belva, jangan pernah sedih setelah ini. Karena aku udah bahagia setelah tau kalian adalah keluargaku."
"Glen jangan sedih. Aku nggak mau punya kakak yang cengeng. Kamu kan harus lindungin aku sama Mama Papa. Jadi jangan cengeng, masa cowok nangis sih. Aku baik-baik aja kok."
"Glen. Aku tebak, pasti kamu suka sama Salsa kan. Yah, walaupun kamu nggak bilang, tapi kamu nggak bisa boong sama aku. Mata kamu itu terlalu jujur tau. Jangan ragu buat suka sama dia, yah. Karena dia itu baik, aku kasih restu."
"Ingat yah, jangan sedih dan merasa bersalah. oke!"
"Di sini Belva juga berusaha, hiks Belva sayang banget sama kalian. Belva harap kalian jangan tenggelam dalam rasa bersalah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Be Me [ Tamat ]
Mystery / Thriller> Follow dulu yah, karena sewaktu-waktu cerita ini akan di privat< Di benci oleh orang tua sendiri! Di bully! Di Teror! Di ancam! Di jadikan bahan taruhan! Dan ingin di bunuh! Siapa yang akan tahan jika menjalani hidup seperti itu? Yah, Dia Belva Am...
![Why Should Be Me [ Tamat ]](https://img.wattpad.com/cover/273926434-64-k730538.jpg)