MIRROR |44 KENCAN BERDARAH

65 11 1
                                        

MIRROR 44
NADA KEMATIAN

“Apa masih jauh Zidhan?”

Zidhan menuntun Risa melangkah, mata wanita itu ditutup dengan kain warna merah.

Zidhan sebenarnya memiliki rencana untuk mempertemukan Risa dengan Pian malam ini. Ia ingin melihat sendiri bagaimana reaksi dan pengakuan dari wanita yang mengaku mencintai dirinya semenjak ia depresi karena kehilangan Manda. Tapi kenyataannya, wanita itulah dalang dari semua keterpurukan Zidhan selama ini.

“Tidak,” jawab Zidhan. “Kita hampir sampai.”

Ia lalu menarik kursi. “Duduklah. Kau bisa membuka matamu.”

Risa yang sejak tadi merasa riang akan mendapat kejutan dinner, duduk. Kurva lengkung tak hilang dari bibirnya yang bergincu merah. Sesuai pakaian yang dikenakannya. Merah menggoda. Tak perlu waktu lama lagi. Lantas, Risa membuka penutup matanya.

Dan betapa tercengangnya saat kedua netranya menangkap wajah Zidhan sedang tersenyum ke arahnya. Pria itu duduk di seberangnya dengan jas gelap yang menawan. Di depannya juga tersaji makanan dan minuman dengan meja yang dihiasi lilin serta kain warna merah muda. Seolah melambangkan cinta bagi pasangan itu di malam ini.

Tapi, di detik berikutnya, Risa sadar. Tempat yang menjadi kencan pertama bersama Zidhan adalah sekolahnya dulu.

“Kenapa kau mengajak ku makan di Aula sekolah?”

Zidhan malah terkekeh mendengar itu. “Kau masih ingat tempat ini juga rupanya. ”

“Zidhan aku tahu kau ini sangat konyol. Tetapi tidak di tempat seperti ini juga.”

“Aku hanya ingin bernostalgia, Risa.”

“Bernostalgia?” Risa tercekat seakan Zidhan mengajaknya makan malam hanya untuk kembali membahas wanita yang dicintainya. Yang sudah mati itu. Risa menggelengkan kepala dua kali. “Ku pastikan ini hukan—”

“Risa, tenangkan dirimu. Ini hanya Aula. Aku ingin menjadikan tempat ini sebagai syuting episode terakhir ku. Dan lagipula, tak ada kaitannya dengan masa lalu ku bersama Manda. Bukankah kau juga pernah sekolah di sini dan bersama ku?”

Risa perlahan kembali duduk. “Aku sama sekali tidak menyangka kau akan seromantis ini.” Wanita itu begitu terang-terangan menunjukkan rasa bahagianya karena pada akhirnya dapat menaklukan hati Zidhan.

Kapan-kapan ia akan berterima kasih kepada Ghea yang sudah merestui hubungannya meski itu sebelumnya.

Seperti kebiasannya memerankan tokoh dalam adegan film sebagai pria yang romantis, Zidhan menggenggam kedua tangan Risa seakan menaruh harapan pasti. “Aku sebenarnya sudah bosan dengan semua ini. Jadi, aku ... Yah ... Kau tahu aku ingin berhenti dengan masa terpuruk ini,” katanya dengan sangat lembut.

Risa terhanyut. “Apa kau benar-benar akan menganggap ucapan waktu itu serius?”

Mungkin maksudnya ucapan dirinya sendiri yang mengaku pada wartawan bahwa mereka akan menikah.

Tapi Zidhan segera mengangguk untuk sekedar mengiyakan saja.

“Oh, tentu. Aku bahkan sudah siapkan cincinnya.”

MIRRORTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang