MIRROR 24
MATA PANDA DAN EKOR ANJING
🎶Acha Septriasa Feat Irwansyah-Heart
Angin berhembus, mengusap rambut Zidhan dengan lembut. Kalau saja dia sedang berpikiran jernih, dia pasti akan menganggap ini hal biasa. Angin berhembus selalu menandai kenangan akan muncul. Tetapi kali ini saja, Zidhan hanya ingin mengosongkan pikiran karena dia sedang berada di makam Manda. Dia tidak ingin perempuan itu tersiksa oleh kenangan yang Zidhan undang.
“Jangan lakukan itu lagi Zidhan. Aku tidak ingin kau pergi.” Ungkapan dari seorang gadis yang suaranya—persis seperti Manda.
Zidhan spontan beranjak cepat. Dia menoleh ke arah Ghea yang sejak tadi berdiri di sana karena mengantarnya. Namun, lagi-lagi yang dilihatnya tidak tepat. Dia pun mencari-cari asal suara itu, tapi tak ada siapa-siapa lagi. Hanya Ghea yang sejak tadi berdiri.
“Ma-Manda?”
Sekejap wajah Manda seperti ada di tempat Ghea berdiri. Dan suara itu .... Ah, itu bukan suara Manda.
“Sa-Saya barusan mendengar suara Manda. Apa kamu mendengar itu Ghea?”
Mata Ghea berkaca-kaca oleh ucapan itu. Sebegitu mencintainya Zidhan pada Manda? Sebegitu merindunya sampai Zidhan terlihat bodoh karena mencari Manda. Sementara Manda menangis di depan pria itu sendiri.
Perlahan-lahan Ghea meraih tangan milik Zidhan dengan lembut, menggenggamnya, mengarahkan wajah Zidhan untuk menatap matanya.
“Siapa yang kau cari, Zidhan?”
Mulut Zidhan terbuka sedikit. Dia gagap. Wajahnya pucat. Apa ini kekeliruan atau halusinasinya?
Dia melepaskan tangannya dari Ghea. Tapi secepat kilat gadis itu meraihnya kembali. “Aku di sini sejak tadi. Kau lupa dengan ku? Kau betul-betul tidak ingat aku?” lanjut Manda, pilu. Sejak tadi memang dia yang ada di tubuh Ghea. Sejak tadi dia menahan mati-matian untuk tidak memeluk Zidhan dan menumpahkan perasaan rindunya yang sudah lama menumpuk.
“A-apa yang terjadi? Apa maksud mu Ghea?”
Dengan cepat Ghea menubruk bahu Zidhan. Melingkari perutnya dengan kedua tangan. Membiarkan air matanya menetes di kemeja pria itu. Sesaat, Zidhan belum sadar kalau dia dipeluk Manda. Namun pada akhirnya, dia membalas pelukan itu. Dengan sangat hangat dan tak mau kehilangan lagi. Mereka seperti berenang di samudra bersama-sama.
“Aku merasukinya, Zidhan. Merasuki Ghea. Apa kau masih belum sadar juga?”
Astaga Tuhan, apa ini bukan mimpi?
“Sejak kapan ... Sejak kapan kau ada di sini?” gumam Zidhan di telinga Manda. Sama-sama tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menangis.
“Sejak ... Pertama kali kau datang ke sini. Jangan pernah lakukan bunuh diri lagi, Zidhan. Aku tidak ingin kehilangan mu....”
Zidhan tersentak. Bagaimana dia bisa tahu?
“... Aku akan kehilangan mu untuk selamanya. Karena tidak semua yang mati akan hidup di dunia kembali.” Manda berkata tulus. Dia benar-benar tidak ingin laki-laki itu terluka sedikit pun. Sama sekali tidak. Tubuh mungil Ghea lebih rendah dari Zidhan, namun pria itu mengeratkan pelukannya. Ini menjadi hal indah baginya setelah di hari kemarin Zidhan seperti orang tak bernyawa. Matanya terpejam untuk merasakan pelukan hangat yang sudah lama tak didapatkannya.
“Tak akan ....” ucap Zidhan. “Tak akan aku tinggalkan mu....”
“... Karena aku mencintaimu, Manda.”
“Aku juga mencintaimu dan akan tetap mencintaimu, Zidhan.”
Dan setelah itu, Manda menceritakan apa yang menimpanya semenjak dia meninggal. Sikap Ayahnya yang berubah emosional kepada Ghea, tanggal ulang tahun Ghea yang diabaikan orang tuanya dan juga dia yang sering merasuki tubuh Ghea ketika menginginkannya. Manda juga menceritakan bagaimana ia kesepian tanpa Zidhan. Dan dia berusaha untuk tetap ada di rumah itu, menunggunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MIRROR
Genç KurguCerita ini tentang Regina Abighea. Gadis yang harus hidup ditengah-tengah kisah perpisahan antara Manda dan juga Zidhan (Sepasang kekasih dimasa lalu). Akankah Ghea dapat membuat keduanya bertemu lagi? Baca selanjutnya disini, -MIRROR "Kelahiran mu...
