Happy Reading♡♡
Jangan lupa vote dan comment ya-!
Ramaikan part terakhir ini yaa🥰
——————————
Jam sudah berada di angka dua belas, namun Adysha tak bisa tidur karena dari tadi perutnya mulas. Adysha terus beristighfar sambil mengusap-usap perut, di sampingnya Zaidan juga tak tidur—menemani Adysha sambil menyelesaikan pekerjaannya.
Adysha memegang perutnya yang terasa sakit, ia meringis sambil memegang lengan Zaidan erat. Zaidan yang sedang mengetik terkejut, sontak menoleh dengan tatapan terkejut pada sang istri.
"Kenapa yang?" Zaidan bertanya panik melihat raut wajah Adysha yang menahan sakit.
"Kayaknya mau brojol," ujar Adysha seraya mengusap-usap perutnya.
Zaidan sangat panik namun harus berusaha tenang, ia menaruh laptopnya ke atas nakas lalu menelpon Genna—mengabari jika Adysha akan melahirkan.
"Kuat jalan gak?" tanya Zaidan sambil membantu Adyasa bangkit dari posisi tidurnya. Zaidan tidak bisa menggendong Adysha, yang ada nanti mereka jatuh bersamaan.
Adysh mengangguk kecil, ia menahan rasa sakitnya yang semakin menjadi-jadi. Zaidan bergegas mengambil tas bayi berukuran besar yang sudah mereka siapkan satu bulan yang lalu, kemudian Zaidan memapah Adysha—berjalan penuh kehati-hatian keluar dari kamar. Untung saja, kamar mereka di bawah—Zaidan sengaja pindah agar Adysha tidak naik turun tangga.
Zaidan duduk di bangku kemudi dengan Adysha di bangku sampingnya, ia tergesa-gesa memasang sabuk pengaman milik Adysha dan juga dirinya kemudian menyalakan mesin mobil.
"Sayang bisa cepet gak? Sakit banget," pinta Adysha dengan ringisan. Perutnya teramat sangat sakit.
"Tahan ya sayang, aku bakal cepet," balas Zaidan lalu mengusap perut Adysha singkat. "Anak abi sabar dulu, bentar lagi sampe di rumah sakit," ujarnya.
Zaidan pun menekan pedal gasnya—mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah sakit. Adysha terus-menerus mengusap perut, tangan kanannya mencengkram bahu Zaidan melampiaskan rasa sakit.
Mereka berhasil sampai di rumah sakit dalam waktu 20 menit, Zaidan langsung keluar dari mobil setelah tiba di depan lobby. Ia meminta perawat untuk mengambil brankae untuk Adysha.
Adysha sudah sangat kesakitan, ia terus menggengam tangan Zaidan dengan erat. Brankarnya bergerak cepat masuk ke dalam UGD untuk di periksa terlebih dahulu. Seorang dokter perempuan datang menghampirinya, ia menarik tirai untuk menutupi sekliling.
"Pembukaannya masih tujuh, ibu tahan dulu ya sampai semua lengkap," ujar dokter itu tersenyuk tipis.
"Kira-kira lama gak dok?" tanya Zaidan cemas, ia mana tahan melihat Adysha yang kesakitan.
"Insyaallah enggak, istrinya bisa di pindah ke ruang rawat inap dulu," jawab dokter itu tersenyum tipis.
Zaidan langsung meminta perawat untuk memindah Adysha ke ruang VVIP. Ia tidak mau Adysha di lihat siapa pun, ia sangat menjaga Adysha.
Adysha telah di pindahkan, istrinya itu terbaring di brankar sambil meringis sakit. Zaidan tak hentinya mengusap-usap perut Adysha sambil melantunkan bacaan Al-Qur'an.
"Kak sakit banget," keluh Adysha dengan wajah melas. "Mau duduk."
Zaidan segera membantu Adysha duduk dan Adysha langsung menggalukan tangannya pada leher Zaidan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Prince [Terbit]
Genç KurguFollow dulu sebelum baca ! [ Sekuel- Jodoh Dari Allah ] Ini tentang Zaidan, ketua MPK yang paling disegani dan disukai oleh para guru. Dengan julukan Pangeran dingin karena wajah dan sifat dinginnya. Laki-laki yang sangat menghindari kontak fisik de...
![Coldest Prince [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/231936401-64-k686424.jpg)