Vote dan Comment !
Jangan sider mulu ih :((
110 vote + 50 Comment aku lanjut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Zaidan menghirup pelan kopi hitamnya, menikmati langit malam dibalkon kamar sambil mendengarkan murotal dari ponselnya. Kali ini, langit malam tak ditemani bintang ataupun bulan nampak sunyi hanya ada suara gemuruh pertanda hujan akan turun.
Zaidan meneguk sisa kopinya, berjalan masuk kedalam kamar menutup pintu balkonnya. Menaruh ponsel keatas meja belajar, lalu keluar dari kamar menuju dapur untuk menaruh gelasnya.
"Zaidan,"
Panggilan lembut dari sang umma membuat langkahnya terhenti, menatap Genna yang sedang menyiapkan makan malam dimeja makan.
"Ada apa umma?" Tanyanya sembari menaruh gelas yang pegang kedalam bak cucian piring.
"Tolong panggil Zalena ya, makan malam dulu." Ujar Genna sambil menuangkan air kedalam gelas.
Zaidan mengangguk lalu berjalan menaiki tangga menuju kamar adik perempuannya yang berada disamping kamarnya.
Zaidan menggedor pintu kamar Zalena dengan keras. "Zalena! Makan malam!" Ujarnya sedikit kencang
Zalena membuka pintunya dengan kesal menatap Zaidan dengan raut wajah cemberut menimbulkan tanda tanya pada Zaidan.
"Jangan digedor juga pintunya, gak bisa apa diketuk pelan-pelan!" Ketusnya sambil mengusap pintu kamarnya yang terkena gedoran Zaidan.
"Oh," Balas Zaidan lalu berjalan meninggalkan Zalena, dari pada berdebat lebih baik ia turun kebawah lagi menyantap makan malamnya.
"Abang ngeselin!"
■ ■ ■ ■ ■
Mereka makan malam dengan tenang, hanya suara dentingan sendok yang begesekan dengan piring. Zaidan meneguk air putihnya hingga habis, setelah menghabiskan makanannya. Ia mengambil sepotong bolu coklat buatan Genna, lalu memakannya dengan sekali suapan.
"Bolunya enak," Celetuk Zaidan membuat Genna tersenyum padanya.
"Iya dong! Zalen yang bikin," Sahut Zalena dengan percaya diri.
Zaidan menatap Zalena tidak percaya, "Gak percaya. Kalau kamu yang buat, rasanya gak seenak ini."
Zalena mendelik kesal pada Zaidan, "Jadi, setiap aku bikin bolu rasanya gak enak gitu?!"
Zaidan mengangguk tak memperdulikan tatapan tajam dari adiknya ini. "Faktanya gitu,"
Zalena mencubit perut Zaidan dengan keras membuat sang empu meringis kesakitan sembari mengusap perutnya. "Awh! Sakit Len!"
"Biarin!" Ketus Zalena.
Gevan mengelengkan kepalanya pelan menatap kedua anaknya ini yang selalu cek-cok hanya karena masalah sepele. Zaidan mewarisi sifatnya yang dingin dan cuek dan Zalena mewarisi sifat Genna, cerewet dan sedikit bar-bar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Coldest Prince [Terbit]
Fiksi RemajaFollow dulu sebelum baca ! [ Sekuel- Jodoh Dari Allah ] Ini tentang Zaidan, ketua MPK yang paling disegani dan disukai oleh para guru. Dengan julukan Pangeran dingin karena wajah dan sifat dinginnya. Laki-laki yang sangat menghindari kontak fisik de...
![Coldest Prince [Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/231936401-64-k686424.jpg)