8. Masa Lalu

587 65 0
                                        

Belum lama Mahika dan Gardana berbicara, di ujung gerbang sana dengan kedua sisinya terdapat sepasang gapura–muncul angin beliung kecil. Menghadirkan dua orang pria paruh baya baru saja menginjakkan kaki. Sang legenda yang datang penuh karisma. Keduanya merupakan sosok dihormati oleh rakyat Tarungga, dikenal sebagai saudara pati karena kehebatan dan kesetiaan mereka menempuh berbagai rintangan dibidang militer.

Menjadi sebuah upaya sampai saat ini Kerajaan Tarungga masih berdiri kokoh karena dedikasi dan loyalitas mereka, yang kala itu memimpin tujuh puluh ribu pasukan menyerang habis-habisan kerajaan Tritaya. Berperang di saat Kerajaan tersebut merasa arogan dan bersikeras mengambil sebagian wilayah Kerajaan Tarungga. Peristiwa berharga itu tentu takkan terlupa, berbulan-bulan lamanya dengan cara kasar dientaskan. Sehingga kerajaan yang terletak tepat di puncak Gunung Welirang sebagai pusat ibu kota itu, dibiarkan lenyap dari pandangan.

"Ada gerangan apa dua orang merepotkan itu datang kemari? Apakah ada sesuatu yang mengganggu mereka?" Sambil celoteh Mahika melangkah, meninggalkan Gardana lebih memilih diam di tempat menemani serta mendampingi Nawasena.

Dua orang dari ujung gapura tersebut laun menghampiri Mahika, berjalan dari luasnya halaman samping dalam istana. Jika diperhatikan baik-baik, bangunan istana ini terbuat dari bebatuan persegi dan dipasang saling mengunci. Desain tampak rumit menjadikan sebuah seni di istana Kerajaan Tarungga. Di pinggir halaman terdapat belasan jenis bunga langka, yang dirawat dengan baik oleh para dayang. Sehingga sisi keindahan terlihat, setidaknya bunga-bunga tersebut dapat memperbaiki citra harmonis di sana.

Tamu tanpa diundang itu dapat dikatakan akrab, tapi dari keakraban tersebut tidak lupa mereka memberi hormat. Penuh senyum, Gantari dan Suraya memeluk Mahika bergantian. Demikian kedatangan dua jenderal hampir Ia tak percaya, terlebih penampilan mereka terlampau sederhana. Gantari yang tak mengenakan baju zirah, menampilkan bekas luka sayatan panjang di dadanya yang bidang. Sedang Suraya, keling rambutnya terikat rapi memperlihatkan bagian belakang leher penuh akan sisik ular.

"Aku bisa mendengar ucapanmu baru saja. Alasan kami kemari karena terganggu akan suatu hal," Kalimat itu ditujukan pada Mahika, kedua matanya memberi isyarat akan sosok naga sedang terbang di antara langit.

Gantari ikut mendongak, surainya mencapai punggung terkibas tak tentu arah akibat sapuan angin kencang. Dengan tatapan penuh risih dilontarkannya kepada Mahika.

"Kau tahu, itu menggangguku. Persoalan macam apa sehingga emosi baginda meluap seperti ini? Baru saja diriku menimba air untuk keperluan istriku mandi." Sontak, Suraya menoleh. tertawa ringan mendengar penuturan teman yang sudah dianggapnya seperti saudara.

"Wah! Sekian ribu tahun, kau masih belum sanggup memegang kuasa dari tangan istrimu? Apa kata orang, seukuran jenderal yang mampu membawa puluhan ribu pasukan akan kalah dengan istrinya ketika di rumah?"

"Dari pada kau, sekian ribu tahun belum juga punya istri. Aku saja sudah dikaruniai dua orang anak. Kapan kau akan menyusul?" Kalah sengit Suraya diejek, demikian Gantari memasang seringai.

Sedang Mahika sendiri, melipat bibir sembari kepala ditundukkan dalam. Disergap rasa tak enak hati akibat kejadian seperti ini lepas dari tanggung jawab. Tidak seharusnya raja melakukan hal merugikan, Ia harus menahannya bagaimana pun caranya.

"Maaf atas kejadian ini, amarah baginda raja begitu besar. Kabar burung yang ku dengar, salah seorang peri mengatakan ramalan buruk yang akan terjadi kepadanya." Seakan tertarik, baik Suraya dan Gantari menatap sang lawan bicara.

"Perempuan itu mengatakan, bahwa akan ada suatu hal yang mengguncang Gunung Ajuna. Ralat, sepertinya akan memengaruhi semua gunung di Nusantara ini. Memimpikan seorang gadis serta siluman kera--yang tak ku pahami apa maksudnya."

Cinta Terjalin SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang