32. Datang

245 22 2
                                        

Pada sebuah jalan setapak yang sunyi di malam hari lelaki yang memiliki rambut putih tergelung rapi berjalan pelan mengamati langit malam sesekali dipenuhi kilat. Menyesapi sepoi angin yang menerbangkan sebagian jarik berkibar pelan, seakan angin berbisik menyampaikan pesan alam bahwa sesuatu akan terjadi. Energi begitu besar dan kelam mengubah elemen yang ada di bumi menjadi tercemar, menyebabkan beberapa tempat mengalami kekeringan dan kebakaran hutan tak berkesudahan.

Sebuah seringai muncul dari ekspresi datar, kedua mata lantas melesat cepat pada seorang gadis bersandar pada sebuah batang pohon jati. Gerai panjang nan lebat yang menutupi polosnya punggung, tertiup angin menyebarkan bau harum dari tubuhnya. Sekilas nampak pola berwarna hitam yang merambat terlihat dari pangkal leher hingga ke bawah punggung. Sang empunya mengetahui hal tersebut diperoleh lirikan, justru berdecak tajam.

"Kau masih menganggap dirimu lemah? Apa itu hanya sekedar kata-kata untuk melabuinya? Aku akan menyiksamu jika kau tidak berhasil melakukan apapun yang ku perintahkan."

Lelaki itu berujar dengan mengajukan dua pertanyaan, sembari kedua kaki berjalan pelan menuju seorang gadis masih terdiam. Meski rambut yang dimiliki warna putih, tak dapat dipungkiri wajah lelaki tersebut masihlah terlihat muda. Orang awam terutama manusia akan mengira bahwa lelaki bernama Nishara itu baru berumur tiga puluh tahun. Ciri khas akan sosok Nishara adalah pedang yang tersemat rapi pada punggung serta caping selalu melekat di kepala.

"Aku tidak akan banyak bicara, akan ku lakukan sesuai permintaanmu."

Gadis itu buka suara menyahuti sang lawan bicara, kedua mata menatap tanah dengan kosong. Seakan ada sesuatu hal yang dipunya telah lenyap, entah bagaimana itu terjadi Gandes hanya merasa bingung sesaat.

Ya, Gandes. Lebih tepatnya istri dari seorang Prada, yang tak benar-benar mati dari insiden menusuk dirinya sendiri dengan sebuah cundrik. Padahal Nishara berkata, ada peluang kecil untuk hidup meski denyut nadi yang berdetak nyaris tak berdenyut. Tubuh dan wajah yang hancur, Nishara melakukannya dengan bertukar nyawa. Entah siapa yang menjadi korbannya, Nishara tak akan memberi tahu hal tersebut.

"Balaslah budiku sesuai janjimu, maka Aku takkan melampaui batas."

Nishara berujar singkat, sebelum berjalan keluar meninggalkan Gandes sendiri di lereng gunung Arjuna jauh dari pemukiman. Di mana sang empu terus bergeming dan urung menggerakkan kaki sekedar melanjutkan langkah, sampai pikirannya berkelana jauh menanti-nantikan hal mengejutkan akan segera datang.

Semua menjadi teka-teki tatkala Gandes kembali hidup dari kematian yang disaksikan oleh sang suami. Hasutan yang dilontarkan kepada pria bernama Bahuwirya mengusung Gandes untuk mengetahui segalanya, termasuk seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya. Dari hati yang terdalam Gandes tidak akan lagi memikirkan rasa kasih dan cinta dari setiap orang, selain keingintahuannya alasan mengapa Ia dipertahankan hidup sampai detik ini termasuk kekuatan yang sempat dimiliki diincar banyak makhluk.

Gandes sendiri ingin tahu, terlebih asal-usulnya sampai Praya begitu membencinya. Ia tidak mengetahui betul dari mana Ibundanya berasal termasuk keluarga sang Ibu yang sama sekali tak ada jejak riwayat sebagaimana manusia pada umumnya. Bukankah hal demikian menjadi suatu ganjalan yang perlu ditelusuri? Demikian Ia tak butuh siapa pun untuk berpijak, berdiri tegak dengan kedua kakinya sendiri tanpa bantuan orang lain Gandes cukup mampu.

Sekalipun orang itu adalah Nishara yang telah membantunya hidup kembali.

Gandes bergeming dari posisi, datar ekspresi kini terpampang jelas. Pikirannya mulai terbayang, jika suatu nanti bertemu Prada sudah jelas Gandes akan melakukan sesuatu padanya.

"Nyamuk mati gatal tak lepas. Tak ada rotan, akar pun jadi."

Seutas garis bibir timbul, Gandes tetap menatap fokus pada tanah.

Cinta Terjalin SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang