Suasana hari cukup cerah disertai embun pagi perlahan mencair, satu-satunya hal tengah dinikmati Praya saat ini sesekali bibir menyesap secangkir teh. Wajah sendu sedari tadi terpampang jelas, begitu kentara dengan matanya memandang hampa. Bahkan ditemani oleh Ki Uyut dari semalam, tak lekang rasa sesaknya hilang. Tiada hal yang mampu menenangkan segala rasa gundah, penyesalan seakan tak ada habisnya menggerogoti rasa bersalahnya terhadap keluarga.
Baik itu Suhita, Diyantri, Anggini, atau bahkan Gandes.
Sudah lewat seminggu pun, baginya keadaan sama sekali tak ada perubahan semenjak insiden tragis itu. Sekali pun Anggini hanya acuh tak acuh terhadapnya selaku seorang Ayah yang sepantasnya dihormati, selain membuang pandang tak ada yang bisa Ia dapatkan secuil pun tatapan penuh kasih sayang.
Apa tandanya sekarang Ia mulai renta? Bertingkah laku layaknya anak kecil butuh perhatian?
Praya hanya tak mampu menelan kepahitan ini dalam kesendirian.
"Hah, Aku bahkan sudah merasakan hal-hal seperti ini seribu tahun. Tak betah memang, tetapi ini adalah penebusanku atas kesalahan yang ku perbuat."
Dalam posisi bangun, Kawindra menghela napas. Merasa lelah sekaligus melepas keluh kesahnya yang dirasakan selama ini, tak ada yang bisa sebagai wadah curahan hati untuknya. Jika pun ada, tak selamanya perilakunya bisa dimaklumi oleh mereka justru mengejek dan menatap remeh. Jauh-jauh orang-orang itu dari Ki Uyut agar tak lagi berinteraksi seperti hal telah lalu, bagai pembawa sial Ia dijauhi. Turun-temurun, omongan mereka yang dijadikan petuah oleh anak cucu kian menjadi.
Selain Praya, sejauh ini dialah tempat terbaik untuk bercerita. Hanya lelaki itu yang mampu mendengarnya atau mungkin saja Ia dianggap gila. Namun, semua itu tidaklah masalah. Kawindra sendiri tidak perlu bahkan tidak butuh respon, hanya seorang pendengar terlampau lebih dari cukup. Karena dirinya sendiri juga tahu, Praya sudah terlalu pusing memikirkan keluarganya yang hancur. Tentu, tak mungkin rasanya orang satu ini memikirkan kehidupannya telah lebur dan tak berarti.
"Apa kau dan aku adalah orang yang sama?"
Demikian mengerut dahi Ki Uyut, penuturan pria jauh lebih muda darinya itu melipat bibir kencang.
"Maksudmu?"
Cepat Praya membalas.
"Maksudku, orang yang memiki takdir serupa. Senasib. Aku hanya tidak menyangka kesalahanku akan berdampak sebesar ini, tidak menduga pula bahwa Aku kehilangan semua yang ku punya. Baik hubunganku dengan putri-putriku, istriku, bahkan diriku sendiri terasa sulit untuk berdamai."
Tak ada lagi air mata di pelupuk mata, seakan air yang dikeluarkannya beberapa hari sebelumnya telah habis tidak tersisa, Persetan kesedihan sangat melampaui, tak mencukup air mata yang terbatas.
"Ah~ itu, kita tentu berbeda. Aku tidak sama dengan dirimu. Meski ya.. perilakuku berdampak buruk terhadap keluarga. Hanya saja Aku tidak sepertimu yang tak bersyukur memiliki dengan apa yang kau punya."
Berbicara kelewat tinggi nada yang dilontarkan, bagai meluapkan kekesalannya terhadap Praya yang kelewat payah dalam menjalani rumah tangga. Putri-putri yang cantik, istrinya begitu mempesona betapa lelaki ini sangat tidak mensyukurinya.
"Jika saja bukan demi sumpahku kepada seseorang untuk menjaga putrinya hingga akhir hayat, tentulah Aku tidak akan melihat dan mengerti semua perjalanan kehidupanmu."
Ujungnya Praya mengerenyit dahi, perkataan tidak masuk di akal lagi-lagi menambah beban pikiran. Tetapi biarlah, masa bodoh Ia akan Ki Uyut. Persetan keberadaannya sebagai saksi hidup antara dirinya dan Diyatri dalam berumah tangga, sungguh menyayangi kejadian demi kejadian bagai bentuk nasi terlanjur menjadi bubur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasiaBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
