Terbesit satu pertanyaan dalam benak yang dirasakan Prada saat ini.
Sejak kapan Gandes berani berkata seperti itu kepada ramanya sendiri? Apa yang telah terjadi pada gadis itu sehingga berani menutur kata sedemikian sakitnya?
Ada berbagai tanda tanya kini muncul dalam kepala sebenarnya tetapi untuk saat ini lebih baik Ia urungkan niat untuk bertanya.
"Aku kembali, maaf sudah membuatmu khawatir."
Raut wajah semula datar itu perlahan berubah. Kesenduan terpampang nyata dari sepasang netra tatkala Prada melempar pandang. Seakan tersihir Ia sampai-sampai melangkah maju, sembari hati membatin betapa lelahnya sang istri hingga bibir yang biasa berwarna merah delima justru terlihat pucat.
Gandes sendiri pun melangkah mendekati Prada, wajah letih yang ditunjukkan perlahan berubah menahan ketir. Kesedihan mulai terpancar bersamaan kedua tangan begitu lembut merengkuh tubuh sang suami lalu dipeluknya kencang. Hal lain apa yang bisa membuat Gandes merasa nyaman selain rengkuhan Prada mampu menenangkannya?
"Menangislah, ada Aku di sisimu. Jika pun kau belum kembali ke sisiku, akan ku dapatkan kau kembali sampai ketemu."
Namun semuanya terasa hampa, ketulusan Prada sempat dirasakan tak lagi ada. Selain bayangan semu tiada lagi hal-hal indah tercipta. Kenyataan pahit telah Ia telan bulat-bulat, cukup dibuat kecewa pada Prada hingga sebenarnya pun tiada nyali sekedar bersitatap.
"Apa Aku sangat berarti untukmu, Prada? Apa kau menganggapku sebagai istrimu? Apa karena kau mencintaiku, kau menikahiku?"
Pertanyaan terlontar, berisikan kalimat yang butuh akan penguatan. Mencoba memercayai hatinya sendiri bahwa Prada melakukan segala hal hanya untuk dirinya, untuk mereka berdua yang sama-sama penat menghadapi dunia.
Bukan karena Gandes memiliki suatu hal lain yang menjadi incaran suaminya sendiri, bahkan jika hal itu benar-benar terjadi Ia lebih memilih mengakhiri hidup daripada terjebak dalam sesuatu hal semu.
Sempat terjeda lama, sampai Prada sendiri berjongkok lalu mengajak Gandes untuk duduk di paha kiri. Raut kekhawatiran Prada masih tercetak jelas, seharusnya Gandes bisa memahami itu.
"Aku mencarimu. Kau kemana saja? Dirimu sangat istimewa sampai Aku dibuat kalang kabut dalam semalam."
Lantas, Prada kembali bertanya. Semakin percaya Gandes bahwa sang empu menghindari pertanyaannya. Bukankah kalau sudah begini, tiada hal yang perlu dijelaskan lagi?
"Kau tidak menjawab pertanyaanku?"
Terdengar menuntut Gandes berujar, semakin lelaki yang memiliki rahang tegas nan kokoh itu hanya menatap dalam di antara kedua mata gadisnya.
"Kau ingin Aku menjawab pertanyaanmu? Aku tidak akan main-main dengan ucapanku yang satu ini, Gandes. Maka dengarlah baik-baik."
Keduanya saling menatap intens, terutama Prada dengan tatapan mata yang tajam. Waktu seakan berjalan lambat ketika Gandes menyadari ada sesuatu yang Ia lupakan.
Prada tetap mencarinya meski Ia tahu nyawa lelaki itu juga sedang bahaya.
Prada tetap mengkhawatirkannya meski Ia tahu kebebasannya tidak lagi terjamin.
Terakhir, Prada selalu menatapnya lembut meski amarah dan benci kian tercetak pada wajahnya yang tampan.
Satu tarikan napas Prada sebelum memulai kalimat, secepat itu Gandes nyaris menyerah dari hal-hal yang dilakukannya.
"Aku menyayangimu, sebagaimana Aku menyayangi diriku sendiri. Sumpahku beberapa waktu lalu, adalah kewarasanku sebagai jaminannya jika terlepas darimu. Itu mengapa ketika kau tidak ada di sini satu malam saja, maka kewarasanku dalam ayal akan hilang bersamaan Aku yang tak bisa lagi mengingatmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasyBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
