Sampai pagi menjelang, keadaan Ki Uyut belum juga membaik. Bahkan Anggini serta Biung Diyatri yang semula meringkuk takut, terpaksa menolong kakek tua itu meski mereka tak begitu menyukai tetangganya selalu merepotkan. Tapi sekiranya Gandes bersyukur, dari ketidaksukaan serta tebal hati mereka masihlah mau menyelamatkan Ki Uyut dari kondisi amat memprihatinkan nyaris merenggut nyawa.
Bolak-balik Gandes merawat Ki Uyut, dibiarkannya orang tua itu duduk di kursi ruang tamu dalam keadaan kaki diluruskan. Saking lemas tak berdaya, setiap kali luka diobati tak terdengar lagi lirihan sakit. Selain bergumam tidak jelas, sama sekali tiada respon yang diberikan.
Ketika hujan telah henti, redanya angin tak sekencang tadi bergegas Anggini keluar rumah menuju pasar. Yang tidak jauh jaraknya sekali pun memakan waktu nyaris seperduabelas hari. Untuk kali ini tak ada ocehan atau penolakan darinya, selain melenggut singkat dan berlalu pergi dengan membawa tas rotan siap mengantongi barang bawaan.
Sedang Biung, Gandes bingung harus mengatakan apa. Adalah hal baru menurutnya saat tahu Biung Diyatri tampak peduli akan kesehatan Ki Uyut, dimasaknya bubur putih yang ditaruhnya di atas meja makan. Agak canggung memang, namun tanpa banyak kata segera Ia mengambil semangkuk bubur dan diberikan kepada Ki Uyut sigap.
"Dia telah menemukanku, tidakkah cukup rasa bersalah terus menghantuiku? Aku sudah jera akan masa lalu, apakah karma buruk terus mengejarku?"
Tatapan mata kosong dapat Gandes lihat saat Ki Uyut mendongakkan kepala menatap langit-langit rumah, seolah pikirannya berkelana meninggalkan raga dengan luka. Ketika tangan kanan ingin menyuapi, gerakan terhenti. Mendengar penuturan pilu sang kakek semakin membuatnya penasaran.
"A-ku memang melakukan kesalahan, tapi aku berusaha memperbaikinya. Sang Hyang Jagat, apakah diriku akan mati dalam karma buruk?"
Tersentak Gandes dari diamnya, keadaan Ki Uyut benar-benar mengkhawatirkan. Apa kejadian semalam sangatlah parah sehingga memengaruhinya seperti ini?
"Ki-"
"Aku tidak membunuhnya, aku hanya menyingkirkannya dari takhta. Oh, tidak-tidak. Sejak saat itu aku bertobat dan tak lagi melakukan kejahatan, aku bahkan-"
Tepat setelah itu, pandangan Ki Uyut jatuh pada Gandes. Salah satu di antara anak gadis Praya yang kini tumbuh menjadi sosok cantik penuh simpati, satu-satunya tetangga telah dianggapnya seorang kerabat. Kakek tua itu berharap, bahwa apa yang pernah terjadi di masa lalu tak ada kaitannya dengan masa sekarang. Meski kenyataannya, pembalasan atas setiap tindakan tidak akan pernah lari dan terus bergilir menyertai. Macam halnya peribahasa 'Bagaimana ditanam, begitulah dituai'.
Bagi Ki Uyut, anak itu terlalu disayangkan untuk disakiti. Yang sering membantunya di hari tua dengan tulus hati dan tiada pamrih. Perbuatan buruknya di waktu lampau, jangan sampai ganjaran menciprati serta mengotori garis hidup orang lain. Atau tidak, hal tersebut dapat melukai suatu hari nanti.
"Gandes, aku dengar kau tidak pulang selama dua hari kemarin. Jadi, kemana saja dirimu yang tak sempat singgah ke rumahku?"
Dalam pikirannya yang kacau, Ki Uyut bertanya. Seketika melupakan rasa sakit serta racauannya mulai menggila, lebih tertegun atas ketidakhadiran Gandes tempo hari hilang bak ditelan bumi. Yang Ia curi dengar, perempuan dengan lembut hatinya itu diusir oleh Diyatri.
Kali ini, Gandes dibuat kicep. Bingung sekedar membalas perkataan baru saja terlontar. Apakah harus bilang bahwa waktu itu dirinya bersama Prada? Seorang pria yang sudah jauh-jauh hari pula Ki Uyut peringatkan jangan sampai bertemu lagi dengannya?
Cukup Anggini saja mengetahui eksistensi Prada yang tinggal dalam Hutan Lingkih.
"I-itu, aku hanya memutari Desa Lingkih. Sungkan rasanya untuk singgah sejenak di rumah Ki Uyut. Maafkan aku,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasiBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
