Ok, karena masih ada yang minat buat lanjut akan aku pertimbangin. Kali ini lagi ga banyak-banyak banget partnya, semoga bisa memuaskan kalian akan kerinduan pada mereka kini tersampaikan.
Lagu kali ini, masih sama dengan alat instrumen Erhu😂. Latar belakang ceritanya Javanese, tp aku lagi menyelami rasa dari lagu Chinese klo nggak ya Japanese hahahaha.
__________________
Ujungnya Bahuwirya membiarkan Kawindra masih termangu dari posisinya, selama beberapa waktu ke depan dibiarkan lelaki tua renta itu terduduk lemas di sana. Sampai situasi benar-benar terkendali, Bahuwirya berjalan di sekitar gua. Makhluk lain yang pernah berinteraksi dengannya beberapa purnama lalu, muncul bersamaan seorang diri.
Kemana perginya salah satu dari dua banaspati itu?
"Kau! Kau yang membunuh kakakku!"
Banaspati itu mencoba masuk, segala upaya pertahanan tak kasat mata membuatnya tertahan dan terpental beberapa kali. Meski begitu Bahuwirya mendengar, ucapan tak masuk akal yang ditujukan kepadanya cukup menganggu. Kapan dan di mana dirinya membunuh makhluk merepotkan satu itu?
"Kau tidak salah menuduh?"
Bahuwirya keluar dari zona amannya, terpencar sinar keemasan dari tangan kiri yang kini mengambang di udara. Seakan menanti-nanti perkataan yang akan dilontarkan oleh sang lawan bicara, persetan Ia juga tak ingin semakin berurusan dengan kaum banaspati yang hanya membuang-buang waktu.
"Tentu saja, tidak! Kau yang melakukannya! Kau sengaja agar eksistensimu tidak diketahui oleh Baginda! Kau! Brengsek!"
Jadi, siapa dalang yang menghasut semua ini?
"Oh, kau ingin mengadukan hal ini pada rajamu?"
Jauh dari kata hati, ada keinginan Bahuwirya menunjukkan diri. Sekian ratus tahun membuatnya hancur berkeping-keping ada sebuah kesan tersendiri baginya, bagaimana masa lalu menyakitkan itu bisa Ia lupakan secara cuma-cuma? Haruskah Ia bertindak dari sekarang? Tapi bagaimana dengan—
Gandes?
"Ki Uyut!?"
Ck, ah! Sial! Itu uara gadisnya.
Saking terlalu fokus akan makhluk kepala berapi satu ini sempat Ia melupakan Kawindra belum pula terusir dari gua, kalau-kalau orang itu menghasut Gandes—Bahuwirya sungguh tidak akan main-main.
"Te—tentu saja, kau yang merusak segala tatanan kerajaan Tarungga. Bukankah sangat tidak bertanggung jawab kalau tidak mengentaskan sampai ke ujung akarnya?"
Apa katanya?
"Begitu? Bukankah akan menjadi sangat rendah martabatku jika membunuh saudaramu?"
Lantas, Bahuwirya melengang pergi. Meninggalkan sepotong kepala melayang itu sendirian. Oh tidak, ada banyak pasang mata sebenarnya. Tetapi Ia tidak peduli jika mereka tidak mengganggu untuk saat ini.
"Sialan! Kau! Argh! Aku tahu kau mencintai seorang manusia! Maka dari itu Aku tidak akan melepasmu! Lihat saja! Brengsek—"
Dalam sekejap Bahuwirya mendekat, berdiri telat di hadapan makhluk tersebut kini tak bisa bicara. Api yang semula membara di kepalanya seketika padam bersamaan bentuk hancur berkeping-keping, hanya dengan cengkraman satu tangan—Bahuwirya melakukannya tanpa berpikir apapun.
Demikian dipandangnya lingkungan sekitar, kejadian ini dianggapnya sebagai sebuah pembelajaran bagi mereka yang berniat menganggu atau bahkan mencoba cari masalah dengannya. Persetan bukan lagi mengenai harga diri, tak segan jika harus kehilangan sesuatu telah didapatnya dalam kesempatan hidup kali ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasiBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
