29. Tiada

253 32 2
                                        

Di bagian ini, aku gak mau tanggung jawab kalau ada suatu hal yang bikin kalian sesak atau bahkan nangis😅. Yaa.. Mohon dimaklumi saja ya, lagi pula ini bukan akhir kok. Perjalanan hidup dari kedua insan ini masih panjang, nggak seharusnya semudah itu untuk pasrah.

Selamat membaca!
-

Napas mulai tersendat dapat Gandes pahami bahwa semua ini akan menjadi akhir. Kesulitan hidup yang ditempuh akan menjadi satu-satunya keberhasilan telah diraih. Meski tak sampai ujung hidup dengan tuanya umur, sudah lebih dari cukup hatinya menahan sakit dari goresan luka. Tiada lagi hal yang dianggap pantas bisa Gandes pertahankan, tidak jika orang yang Ia sayangi sekaligus sebagai pondasi untuk dirinya berdiri telah membohongi dan membuatnya hidup dalam bayang-bayang.

Demikian kekecewaan tampak jelas dari raut wajah kini tergambar, isak tangis mulai terdengar menjadi fokusnya menatap sang suami. Untuk seribu kata, Gandes hanya bisa mengucap 'maaf' sebagai akhir jumpa. 'Maaf' karena dirinya tidak sekuat yang pria itu kira, 'maaf' karenanya hari-hari Prada dibuat jauh lebih merepotkan, dan 'maaf' kalau perannya dalam kehidupan kali ini terpaksa usai demi kedamaian diri yang tak lagi mampu bangkit.

Ketidakmampuan Gandes terhadap dunia fana dapat dikatakan telah pupusnya tujuan, jika jawabannya adalah untuk membahagiakan Prada maka itu salah. Gandes sendiri akan terus memikirkan dirinya sendiri, yang sadar betul Ia terlalu fokus hingga lelah dan merasa buntu upaya mencari jalan keluar. Ketika hari itu tiba, teramat sayang sang suami telat menyadari. Suatu hal Ia butuhkan di dunia ini hanyalah satu, yakni kepercayaan seseorang yang telah Gandes percayai sehidup semati.

Disertai perasaan campur aduk itu, Gandes mulai menutup mata dengan wajah gelisah.

Tangis Prada kian pecah hingga menggema di seluruh penjuru ruang, meraung keras adalah bentuk ekspresinya upaya menghadapi kesakitan tiada banding kehilangan seseorang yang dicintai. Tidak peduli diri akan terikat dan diperdaya oleh rasa asih, tidak ada yang dapat Prada pertahankan jika sang istri telah menghembuskan napas terakhir beberapa waktu lalu.

"ARGHH! GANDES! GANDES!!"

Tak payah Ia memanggil nama itu, berharap Gandes akan terbangun dari kematian. Sebenarnya pun, Prada mati-matian mencoba jujur kepada sang garwa. Berusaha tidak menyembunyikan fakta bahwa Ia sendiri akan menghabiskan waktu selama 100 tahun untuk menemani gadis itu sebagai balas budi, namun ketika Prada semakin jatuh pada tatapan lugu dan polosnya tak bisa Ia mengelak untuk tidak mabuk asmara.

"Tangkap pria ini! Dia sudah membunuh kakak beradik yang merupakan keluarga bangsawan Klan Banaspati! Aku tidak sudi! Nyawa saudaraku ditumpas oleh makhluk buangan ini!"

Prada masih tak peduli ketika tubuh tak lagi menyentuh pada permukaan tanah, badannya terseret menjauhi kunarpa Gandes kian memucat. Tangis yang urung reda menambah buramnya penglihatan tertutupi air mata. Pikirannya mulai melayang, adakah kesempatan baginya untuk menghidupkan Gandes kembali?

Tiada kerelaan hati menghantarkan nyawa gadisnya kepada Sang Hyang, terlebih terakhir kali tatapan kecewa yang ditunjukkan kepadanya sebagai bukti nyata bahwa Prada memang telah melakukan kesalahan.

Minimal, jika Gandes kembali hidup Prada ingin memperbaiki kesalahannya. Meski sangat tidak mungkin untuk dilakukan, yang jelas-jelas semua orang mengetahui bahwa kesempatan tak akan datang dua kali.

Suasana sudah berganti senja, hanya dalam waktu singkat matahari akan tenggelam dari singgasana. Waktu yang bergulir cepat sampai Prada sendiri amat tidak percaya kalau-kalau istrinya sudah tiada. Lantas dalam hati Ia bertanya-tanya, apa yang akan dilakukannya setelah ini?

"Lihat dia! Apa perlu kita menyerahkannya kepada baginda Raja? Aku dengar baginda raja sendiri ingin menghukum makhluk satu ini yang sudah menganggu ketentraman Kerajaan Tarungga."

Cinta Terjalin SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang