30. Nyawa

276 32 3
                                        

Rintik air yang jatuh dari langit menyadarkan Nismara dari lelap, sepasang netra perlahan terbuka itu memandang gelapnya hutan ditemani suara jangkrik mendeking keras. Tubuh amat terasa kaku sama sekali tak bisa digerakkan, cukup memakan waktu lama dengan mata terus terpejam hampir dibuat keliru pada tempat terakhir kali dipijak.

DUAR! TRASH! DUAR!

Ah, Nismara membenci ini. Gemuruh hadir dari ujung garis cakrawala dapat Ia sadari bahwa situasi tak lekas membaik, terakhir kali meninggalkan Kerajaan Turangga adalah kemarahan Raja Nawasena karena mengetahui kebangkitan adiknya sendiri di dunia fana. Persetan dirinya kembali lagi ke gunung ini tanpa tahu cara bisa kemari, kedua kalinya Nismara turut merasakan situasi tak mengenakkan nyaris menyerap kekuatannya.

"Sial, bagaimana bisa Aku di sini? Bukankah-"

Sejenak Nismara termangu, ingatannya melesat cepat pada sosok lelaki yang menculiknya demi mendapatkan mimpi belum lama ini Ia dapatkan. Mimpi itu bukanlah sembarang mimpi, keanehan bunga tidur satu itu adalah petunjuk dari masa depan yang akan datang. Meski tidak sepenuhnya benar, Ia memercayai bahwa hal-hal buruk akan terjadi dalam waktu dekat.

Apakah sekarang sudah saatnya?

Nismara mendongak, menikmati rimis hujan membasahi tubuhnya. Pakaian camping nan lusuh meyakini akan hadirnya lelaki itu bukanlah sekedar halusinasi, orang itu dengan lancang mengambil energinya hingga dirinya sendiri tak bisa lagi menghisap jiwa manusia.

Apa? Tunggu.

Brengsek.

Raganya akan hancur perlahan, mungkin tidak sampai setengah abad Ia bisa bertahan. Tubuh tak lagi bisa menghisap jiwa manusia, sama halnya kondisi fisik seperti manusia yang merupakan salah satu makhluk berakal di dunia fana. Demikian tiada bedanya Nismara dengan manusia, kalau-kalau klannya mengetahui hal ini tentu perannya sebagai pemimpin tak akan seimbang atau kemungkinan besar Ia bisa dilengserkan dari kursi singgasana.

DUAR! TRASH!

Lagi-lagi guruh cukup menganggu, membuatnya segera mengalih pandang mencari sumber suara. Kilat cahaya dalam sekejap cepat membuat Nismara berdiri, berjalan lamban dan menghampiri tempat kejadian berlangsung. Bebatuan yang licin, sekuat mungkin Ia bertahan dari permukaan tanah sedikit miring. Kedua kaki tanpa alas tetap kekeuh untuk berjalan lebih lama.

Di atas tebing sana, Nismara mengamati banyak anggota klan banaspati mengelilingi sebuah gua. Tepat di tengahnya terdapat seorang pria terbujur lemas tak berdaya, disertai luka dan memar ditubuhnya yang Ia ketahui akibat pecutan cambuk terus melayang tidak jauh dari salah satu banaspati kini sibuk tertawa.

"Tuan, hamba menemukan jasad seorang gadis di dalam gua. Apa perlu jiwa manusia ini-"

Nismara kembali memperhatikan bahwa saat ini banyak pasang mata ikut melihat, ada berbagai jenis makhluk berdiam diri tepat di sampingnya. Riuh suara terdengar, saling melempar bisik menanggapi apa yang terpampang nyata di hadapan.

Petir terus menggelegar menjadikan keadaan kian tegang.

"Tidak perlu, sepantasnya buang saja. Aku cukup merasa senang dan bangga mampu mengendalikan bocah ingusan ini tergeletak lemah di depan kakiku."

Pemimpin klan banaspati yang Nismara kenal bernama Sikara, satu-satunya sosok yang berani menjelek-jelekkan nama Gardana selaku mantan jenderal kala itu pernah berjaya setelah memenangkan perang dengan Kerajaan Turangga. Meski baru kali pertama Ia melihat tampangnya, begitu kentara keangkuhan sehingga secara telak Nismara tidak menyukainya.

"Dengan ini, Aku menyatakan eksekusi pada terdakwa karena perbuatannya telah membunuh anggota klanku. Maka dari itu akan ku persembahkan kematian pangeran yang terbuang ini kepada Baginda Raja Nawasena!"

Cinta Terjalin SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang