39. Dalam Pelukan

132 11 0
                                        

Selamat membaca!

-

Pekat dirgantara memengaruhi bagaimana Gandes meneruskan langkah. Kedua kaki tak sengaja terselengkat akar yang merambat di antara rerumputan panjang. Terjerembab Gandes berusaha membenarkan kakinya justru semakin bengkak. Seribu kata mengucap sial tak mengurangi rasa kesalnya sudah memuncak. Rasa letih tak mengurangi keinginan Gandes untuk berteduh dari rintik hujan mulai berjatuhan. Dengan pandangan mata mulai mengabur Gandes mendekati Prada.

Burung gagak itu masih bertenggek manis pada posisinya, sesekali mematuk Prada dari luka menganga lebar. Gandes tidak peduli burung Gagak itu barangkali menyakiti Prada, tidak peduli juga tubuh itu tercabik-cabik. Namun, untuk saat ini Ia tidak boleh membiarkan itu terjadi. Dendam belum terbalaskan, rasa sakit di hatinya belum dientaskan, baiknya Prada menerima balasan perihnya luka yang urung Gandes gores. Gandes masih mendambakan kedua tangannya menyentuh tubuh Prada dengan sebilah pedang, keris, tombak, atau apapun itu bisa melukainya.

"Argh, P-Prada-"

Ada dorongan batin untuk segera menolong Prada. Meski tahu Gandes terjebak di antara luasnya alas memungkinkan keduanya tersesat, masih mencoba Ia untuk berusaha. Rasa gayang seakan memutar isi kepala yang mampu menjungkirbalikkan penglihatan Gandes sampai tak bisa membangunkan diri sekedar duduk. Keringat timbul di kala hawa terasa lembab, Gandes merasa tubuhnya mulai menggigil. Tangannya bergetar sesaat maju merangkak, gigi bergemeletuk betapa Gandes sekuat tenaga menahan dingin kini menyergap.

Semua berlangsung begitu cepat, Gandes jatuh pada tanah sudah tergenang air. Rintik berasal dari langit turun sangat deras menghujani dua insan tergeletak tak berdaya. Pada saat itu dirgantara bergemuruh keras, saling bersahutan melempar gema menyebabkan tampak kilat yang sanggup membuat sakit mata. Burung gagak semula mematuk tubuh Prada lantas terdiam, sesekali kepala menongok patah-patah melihat kesana-kemari. Kepakan sayap sesekali dilebarkan, tetapi sepasang kakinya urung beranjak dari sana sampai kemampuan terbangnya kian terkikis akibat air menjatuhkan diri teramat keras. Jika manusia melihat burung gagak seperti ini, mereka akan mengira bahwa hewan satu itu disebutnya sebagai burung jadi-jadian.

Cukup lama kemunculan mentari seakan enggan menyambut suasana pagi. Hujan mereda kini meninggalkan genangan air pada tanah terasa lengket saat terinjak. Sinar biasa muncul dari ujung timur pada garis cakrawala begitu lambat untuk ditunggu. Embun acap kali menetes dari setiap ujung daun menandakan gulita malam diselipi hawa yang mampu meredam hangatnya tubuh.

Seorang pria terbangun dari posisi terlentangnya. Beberapa kedipan mata hanya termenung sebelum memandang sekitar. Aroma tanah tercium pekat oleh hidung yang mengendus tajam, menegaskan langit belum lama menyudahi tangisnya. Di samping itu, luka sayatan maupun luka yang tak dapat dinalar pada tubuhnya kembali mengeluarkan getih bercampur nanah. Sesaat sepasang retina melihat seorang gadis tertelungkup. Otot-otot betis nampak perkasa itu bergerak, kedua kaki berjalan tangkas walau nyatanya tak becus menopang tubuh nan gagah justru ambruk barang selangkah.

Prada masih dalam keadaan terlemahnya tetapi lebih tak sanggup melihat keadaan sang istri tergolek tanpa sadar. Seluruh badan teramat sakit tidak bisa dibandingi mengetahui Gandes tampak tak baik-baik saja. Jarik penuh getih saat ini dikenakan Gandes adalah tanda bahwa gadis itu sekarat. Lagi-lagi ketakutannya muncul, bayangan pujaan hati berkalang tanah dalam pelukan sanggup mengeluarkan air dari pelupuk mata.

"Aaarrrrghh!"

Prada mengerang keras upaya mengerahkan tenaga seraya merangkak mendekati Gandes. Tersirat keputusasaan terdengar pilu bagi banyak penghuni telah lama mendiami alas pati, melihat serta mengamati dua insan kini dipertemukan kembali. Luas bentala yang dahulunya pernah menjadi babad kuno dalam peperangan antar klan, kini menyimpan riwayat baru pada kisah asmara antara manusia dengan makhluk yang berasal dari klan naga.

Cinta Terjalin SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang