40. Perasaan Tersembunyi

255 9 2
                                        

Posisi masih bergeming di tempat, detik itu juga Prada merasakan pergerakan kecil dalam gendongan. Kelopak mata terbuka barang sebentar, terduduk kasar Ia terdorong oleh seseorang. Pakaian telah kotor oleh getih yang mengering pada permukaan tanah, betapa Prada sekuat tenaga menahan ekspresi jijik dari ribuan tahun bangkai terlantar. Demikian pangeran bungsu Kerajaan Tarungga itu sama sekali tidak menyalahkan sang pujaan hati. Meski gadis nan rupawan tersebut meninju wajah Prada tepat di bawah rahang hingga terasa berkedut cukup lama.

"Kau bisa mengatakan padaku untuk turun jika sudah terbangun dari tidurmu, istriku." Prada berujar sembari menahan kekehan geli terhadap Gandes saat ini bersidekap. Wajah garangnya tak mengurangi niat Prada untuk mendekat. 

Ada rasa heran bagaimana bisa untuk seukuran gadis lembut seperti Gandes ini memiliki pukulan cukup menyakitkan? Ah, jangan lupakan bahwa kemarahan dan kebencian terpancar dari sepasang mata dengan bulu lentik itu menatap Prada terang-terangan.

"Pukulanku masih tidak cukup membuat rahangmu miring?"

Prada tertawa mendengar penuturan Gandes. Entah mengapa Ia menyukai sisi buruk sang istri nampak galak dan berani. Penganiayaan apapun terhadap dirinya, sama sekali tidak akan Prada permasalahkan selagi Gandes yang melakukan.

"Masih tidak cukup. Bahkan kau masih belum mampu membuatku lemas tak berdaya."

Prada mengumpat dalam hati. Bedebah luar biasa kepada diri sendiri mulai berpikiran kotor. Di samping itu, Gandes berdecih remeh. Seakan menghiraukan perkataan Prada sebelum akhirnya membalikkan badan kemudian melangkahkan kedua kaki jenjangnya menuju Pohon Brahmastana. 

"Baru kemarin Aku di sini. Justru kau membawaku ke tempat aneh ini lagi?"

Serius riak muka Gandes dalam keheningan menyapa membuat Prada berdiri sigap. Tercengang Ia mendengar perkataan sang gadis. Sedari awal menebak, Gandes memang terdampar pada tanah tandus nan luas ini. Hutan mati dengan gerbang dimensi kini tak lagi aktif. Prada tahu kalau-kalau Sang Kala—penjaga gerbang tidak akan membiarkan siapa pun makhluk berada di tempat yang sudah jelas dilarang oleh pihak kerajaan. Kecuali jika Gandes adalah seseorang yang memiliki garis keturunan klan dewi bulan.

Bukankah sudah sangat jelas siapa gerangan istrinya? Lantas, bagaimana bisa Gandes masuk kemari? Prada percaya pada awalnya gadis itu tidak mengetahui dan mengerti apapun tentang identitasnya sendiri.

"Ah, jadi kali pertama dirimu menginjak kaki di hutan ini? Dirimu pasti merasa sangat buntu untuk bisa menemukan jalan keluar, bukankah begitu?"

Maju selangkah Prada berdiri tepat di sebelah Gandes. Tatapan tajam melesat akurat memandang kedua mata sang lawan bicara. Cukup dibuat penasaran Prada pada sang belahan jiwa. Apakah gadis yang dahulu Ia kenal lugu dan polos ini terdapat unsur kesengajaan atau tidak melewati gerbang dimensi.

Sedang sang empu merasa ucapan baru saja adalah sebuah ejekan. Tiada gentar Gandes menatap balik Prada justru sangat dekat dengan wajahnya. Bagaimanapun sisa-sisa kebencian itu masih ada. Ralat, maksud Gandes kebenciannya terhadap Prada masih mengakar kuat sampai-sampai mengharuskan Ia untuk balas dendam. Persetan Gandes tidak perlu salah tingkah pada seorang penipu seperti Prada.

"Bukan urusanmu."

Prada tersenyum miring. Memperhatikan sepasang kaki mungil mundur selangkah.

"Tentu menjadi urusanku jika kau kemari hanya untuk balas dendam kepadaku. Bukankah itu tandanya kau masih peduli?"

Masing-masing tangan mengepal erat. Pertanyaan sampah terlontar dari bibir tipis Prada mampu menggugah perasaan marah, malu, sekaligus kesal kian menguar. Emosi Gandes yang tertahan, entah mengapa keberanian untuk menggertak bagai abu telah berterbangan. Gandes berusaha mengasah nyali meski saat ini belum sanggup memandang retina selegam malam milik Prada.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 05, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cinta Terjalin SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang