Halo, aku kembali setelah hiatus cukup lama. Semoga cerita ini masih kalian tunggu-tunggu ya, maafkan aku terlalu sibuk di dunia nyata sampai melupakan sosok tampan seperti Bahuwirya ini.
Happy Reading!
-
Pergantian hari dari pagi tidak terasa bergeser menjadi sore. Bangunan istana yang memiliki kubah lancip mengundang burung untuk berkicau. Para pelayan, prajurit, hingga para pejabat urung lingsir dari posisinya untuk bubar. Padahal langit tampak memperlihatkan warna gelapnya, memperkirakan akan turun hujan. Namun, tetap saja tidak ada satu pun dari mereka ingin melangkah kaki menjauhi dari tempat tersebut.
Mereka yang dimaksud tidak terkait dengan Mahika. Pria tua itu dengan masa bodoh melewati setiap dinding istana hingga melewati beberapa bangunan untuk sampai ke tempat yang ingin ditujunya. Mahika berjalan cepat sembari mata sesekali memandang sekitar, upaya memastikan tidak ada satu pun curiga. Pada dasarnya Mahika adalah orang yang cukup dihormati, jika Ia ingin melangkah ke arah yang salah pun para bawahan tiada kenan sekedar bertanya. Mereka merasa sungkan dan tahu diri untuk tidak mengikutcampuri urusan mantan guru dari pangeran bungsu tersebut.
Mahika berpikir ada banyak saksi mata di sini tak akan membuatnya tak ketahuan jika Ia melangkahkan kaki ke tempat gelap dan pengap. Sampai akhirnya Ia bertekad bulat untuk menuruni tangga yang panjang dan berkelok demi membebaskan Suraya yang sudah ditahan nyaris dua bulan purnama. Hanya saja Mahika khawatir kalau-kalau Nawasena mulai menaruh curiga padanya sehingga akses dan koneksi yang terblokir membuatnya sulit memperoleh informasi akibat membebaskan mantan jenderal tersohor pada masanya itu.
"Tuan Mahika--Tuan-"
Hingga sepasang kakinya berhenti pada pos penjaga yang menghubungkan langsung dengan penjara bawah tanah. Seorang pria matang menghampiri dan melontarkan pertanyaan padanya. Demikian memasang muka tebal, Mahika mendelik keras sembari membasahi bibir dengan lidahnya.
"Ada yang ingin dibicarakan dengan mantan jenderal. Ini terkait keamanan negara, kau ingin melarangnya?"
Sontak pria itu menunduk tegas, kaki tegaknya secara spontan mundur selangkah. Mahika membuang pandang, timbul rasa bersalah akibat melakukan sesuatu tercela. Bukankah tindakan seperti ini termasuk pengkhianatan terhadap raja? Namun, hati kecilnya sendiri merasa tidak sepandangan dengan pemikiran raja. Terlebih bagaimana Raja Nawasena bersikap dalam memimpin.
Mahika segera masuk. Pikirannya berkelana tatkala melihat penjara bawah tanah yang tak pernah dipijakinya selama puluhan ribu tahun. Insiden di mana Ratu Akandra menghembuskan napas terakhirnya setelah dipindahkan dari ruangan pengap seperti ini. Mahika merasa kasihan kalau kehidupan Akandra akan mati mengenaskan secara tidak adil di mata rakyat. Hanya saja Mahika tiada keberanian untuk membuka luka lama itu. Luka lama yang bisa menimbulkan kekacauan di kerajaan ini. Demikian, Mahika tidak sanggup untuk mempertanggungjawabkannya.
"Tu-tuan."
Suara Suraya memasuki indra telinganya. Mahika lantas menoleh sebelum membalasnya berupa anggukan.
Suraya yang menyimpan rasa segan terhadap Mahika membuatnya sungkan untuk bertanya keadaan sang pangeran. Di balik jeruji telah dihuninya selama dua bulan ini cukup membuat Suraya sama sekali tak mampu membaca situasi. Akankah Gantari menyadari ketidakhadirannya selama beberapa purnama, atau lelaki itu lebih memilih tidak memusingkan dirinya yang telah terlantar dengan lelah, letih, dan lusuh ini.
Suraya tidak benar-benar yakin kalau Gantari akan mencarinya.
"Bagaimana dengan pangeran? Apakah berhasil kabur? Aku meyakini bahwa apa yang dilakukannya hari ini adalah untuk mengelabui baginda raja demi melarikan diri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasiaBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
