Happy Reading! My readers!
Keheningan menyapa tatkala Gandes menginjakkan kaki pada sebuah tempat baru dilihatnya pertama kali. Semua tampak berkabut selain menyisakan bayang-bayang redup bangunan begitu besar yang terletak tidak jauh dari sini. Sesekali Gandes tampak memiringkan kepala, mencoba mengingat sesuatu adakah hal yang berkaitan dari situasi kini sedang Ia alami.
Suara burung menjerit keras menyadarkan Gandes pada suasana tak mengenakkan mulai terasa. Pandangan tidak begitu jelas akibat kabut melanda seketika lenyap dengan hembusan angin kencang. Detik itulah Gandes mencium aroma anyir disertai kedua bola matanya melihat langsung sesuatu hal tak terduga.
Sekejap Gandes tertegun. Ada banyak bangkai berserakan, tidak dipungkiri darah kental mulai mengering tampak memenuhi seluruh permukaan tanah. Jangan biarkan dirinya sendiri menebak, tetapi rasa penasarannya kembali bangkit secara perlahan.
Apa yang terjadi?
Sembari kepala mendongak Gandes mendapati pohon bramastana besar berdiri kokoh lima puluh langkah kaki di depannya. Bahkan setelah Gandes mengerjap kedua mata beberapa kali, Ia baru menyadari bahwa dirinya berada di tengah-tengah darah dan bangkai yang mengelilingi. Gandes tidak ingin menghabiskan waktu dengan memikirkan hal-hal ini, tetapi kenyataan pahit pada penampakan pohon beringin yang telah mati selain akarnya masih tertanam kuat.
Langit kemerahan seakan mendukung situasi tak mengenakkan dari genangan darah mengotori tanah. Berbondong-bondong burung gagak singgah di antara ranting pohon besar tersebut dengan risik. Suaranya memekakkan telinga cukup mengundang decak kesal dari mulut Gandes. Jika bukan demi hubungannya di masa lalu yang menariknya dari kematian, tidak akan Ia berurusan dengan hal merepotkan ini.
Demikian Gandes melanjutkan langkah, melewati bangkai-bangkai serta menginjak genangan darah kini mengotori jariknya. Tidak luput kedua mata memandang pakaian yang digunakan kunarpa. Baju zirah masihlah utuh ketimbang sang pemilik. Pedang tajam menusuk daging nyaris membusuk menarik perhatiannya.
Lantas Gandes mendekat, memperhatikan bagian janggal kini mulai menimbulkan tanda tanya. Bukan sebuah pedang yang dilihatnya begitu intens, melainkan sebuah tanda tercetak jelas pada punggung dari bangkai makhluk tersebut. Gandes sendiri tidak yakin bahwa yang dilihatnya bangkai manusia atau bukan, dilihat dari ujung telinga yang lancip membuatnya berpikir keras.
Tanda itu sama seperti tanda yang ada di punggungnya. Lantas mengapa ada pada di salah satu kunarpa dari makhluk yang tidak seperti manusia pada umumnya?
Gandes terhenti dari lamunannya ketika jeritan burung gagak menggema. Sesekali kepalanya menoleh kesana kemari seakan mengharapkan seseorang datang. Dari kesesatannya dalam berjalan tidak tahu arah, kaki kembali melangkah lurus dengan perasaan tak menentu.
Pikirannya berkelana, mulai mengingat-ingat bahwa ada kejadian yang tak bisa dilupakan begitu saja. Mungkinkah Praya tak menginginkan dan mengakuinya sebagai anak karena hal ini? Karena tanda lahir di punggungnya tampak menggelikan sehingga membuat pria itu enggan untuk berbicara dengannya? Apa itu kenyataan yang tak bisa diterima oleh Praya?
Gandes terkekeh tanpa sadar. Sosok Praya dalam ingatannya begitu buruk untuk dikenang. Semua orang yang Ia anggap berarti sangat menyakiti hatinya, Gandes kini mengakui betapa konyolnya dahulu dirinya hidup. Mengapa juga Ia harus mengharapkan kehadiran dari sosok manusia yang enggan memberinya kasih sayang dan tidak peduli terhadap dirinya?
Dalam hati Gandes berjanji kepada diri sendiri untuk tak jatuh kepada siapa pun, rasa sakit yang mendera sudah lebih dari cukup Ia menerima. Tidak ingin pula mengotori hati jika saja timbul rasa dendam tak berkesudahan. Gandes merasa dengan melakukan hal itu hanya akan membuang waktu, pikiran, dan tenaga. Lagi pula, bukankah Praya telah mati ratusan tahun lalu? Untuk apa balas dendam kepada jasad telah membusuk?
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasyBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
