Gunung Arjuna. Gunung yang memiliki sejuta misteri di sana. Yang kerap membuat sebagian manusia lupa, bahwa sesuatu yang menarik di dalamnya adalah tipuan semata. Termasuk hasil instan yang diperoleh dapat diwujudkan dengan bertukar nyawa dengan dikorbankannya sanak saudara hingga orang terdekat. Semua yang ada di Gunung Arjuna terdengar rumit, malah sebenarnya sangat rumit.
Ada banyak rumor simpang siur, mengatakan bahwa ada sesosok makhluk besar dan menyeramkan. Siapa pun yang ingin bekerja sama dengannya untuk mendapat kekayaan, haruslah menyerahkan sebanyak seratus nyawa dalam seumur hidupnya. Bila tidak, maka orang yang meminta bekerja sama tersebutlah yang akan menggantikan dan disiksa di alam mereka akibat tidak memenuhi isi perjanjian.
Pun tak heran, orang-orang yang tinggal di lereng Gunung Arjuna ini dapat dihitung jari. Begitu pun Ki Uyut memerhatikan satu demi satu tetangganya perlahan mati dengan seribu keanehan. Sebenarnya ia tak ingin salah sangka, namun setiap ada nyawa yang kembali berpulang kepada Sang Pencipta ada saja kejadian yang dirasa janggal.
Namun jauh dari yang ia pikirkan di pagi dini hari, matanya terbelalak sepintas melewati sebuah rumah sederhana dengan halaman depan luar biasa luas. Mendapati anak gadis dari Praya Wikrama itu tergeletak anteng dalam tidurnya di depan rumah. Sekilas, Ki Uyut ingin membantu, namun ia urungkan niat tatkala melihat ayah sang gadis membukakan pintu penuh ekspresi marah.
"Gandes, bangun! Sekarang jawab pertanyaan Rama, mengapa kamu memberikan kayu bakar kepada Ki Uyut!? Padahal dirimu jelas tahu! Bahwa keluarga kita juga kekurangan!"
Rasa tak enak menyeruak dari hati Ki Uyut, merasa bersalah sehingga gadis baik itu mendapat hukuman yang tak seharusnya didapat. Astaga.. pula dirinya harus mengerti, alasan harus ke ibukota menyusul anak-anaknya yang hilang kabar di sana. Sehingga tidak perlu merepotkan orang lain setidaknya.
Gandes yang terpaksa bangun dari tidur lelapnya kini menguap lebar. Kedua netranya juga tidak kalah kaget mendapati sang ayah sedang menatapnya marah. Disusul ibu tirinya berdiri di depan almari dalam rumah disertai kakaknya, Anggini.
Ya, itu ramanya. Telah kembali dari ibu kota. Yang sudah pergi tiga bulan lamanya.
Tapi singkirkan pikiran menyenangkan itu, pertanyaan Rama yang sekilas masuk di telinganya segera Gandes menjawab. Entah itu jawaban benar atau tidak, ia tak yakin apa yang didapat setelah ini bukan sesuatu yang baik.
"A-aku hanya merasa kasihan pada Ki Uyut, Rama. Lagi pula, karena kehadiran Ki Uyut juga yang sudah memberiku semangat-"
Plak!
Sang Hyang Jagat, mengapa orang tuanya gemar sekali menampar pipinya? Jika kemarin pipi kiri, maka sekarang pipi kanan turut memerah. Rama benar-benar menamparnya! Ap-apa sebesar itu kesalahan yang Gandes buat? Hingga ingin melakukan kebaikan untuk orang lain pun-dirinya harus terkena imbas separah ini.
"Kau berbicara seperti itu sama saja kau tidak menghargai apa saja yang keluargamu berikan kepadamu! Apa yang dilakukan Ki Uyut sehingga kamu berbuat seperti ini? Sama saja kamu merugikan biungmu, kakakmu, bahkan aku selaku Ramamu!"
Hentakan dari emosi Praya yang meluap membuat putrinya menahan tangis. Demikian Praya menatap sedih, tapi hal itu tak membuat kekesalannya lingsir. Dari istri kedua yang dahulu meninggalkannya, berusaha keras agar Praya tidak melampiaskan rasa sakit ini kepada putrinya. Yang bahkan menyerahkan nyawa jika itu bisa menyelamatkan Gandes, ia rela melakukannya.
Masih pagi buta ditemani embun pagi, Praya bergegas pergi dari teras rumah menuju halaman depan. Tatapannya jatuh pada seorang lelaki renta tengah menatapnya sendu. Telak Praya membuang pandang, merasa kesal akan putrinya yang lebih memilih orang lain dari pada keluarga. Entah, pikiran Praya semakin tua semakin rumit ditiap harinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasíaBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
