23. Petaka

239 43 2
                                        

Yap, aku kembali. Selamat membaca!

Setelah part ini, apa yang kalian harapkan dari alur cerita selanjutnya?

Selamat malam minggu, selamat berlibur (aku doang keknya ya)
____________________

Ki Uyut kian membeku pada keadaan sama sekali tak bisa dikendalikan, menjadi sebab kedua netra sibuk mengamati riak muka Gandes kini terpasang tanpa ekspresi. Membuat Ia bertanya-tanya, apa yang tengah dirasakan gadis itu ketika semua kebenaran terkuak ke permukaan. Terlebih hubungan Gandes, Anggini, serta Bahuwirya. Membutnya membatin pada sesuatu tak dimengerti, sekali dalam seumur hidup baru dilihatnya kali ini.

Apa hal patut disukai dari laki-laki yang hanya memakai busana nyaris telanjang? Bukankah baik Gandes dan Anggini terlalu buta sekedar melihat penampilan?

Pertengkaran hebat tidak sampai di sana, Diyatri tampak putus asa berlari ke arah dapur dan kembali dengan segenggam pisau di lehernya. Anggini semula terdiam, sejemang mulai tergerak mencoba mencegah tindakan sang biung nyaris bunuh diri.

"Bukankah ini keinginanmu, kangmas!? Aku menghormatimu karena kau suamiku! Tapi—hanya satu permintaan, tak bisakah kau turuti saja?"

Berurai air mata wanita itu, semakin Praya menggeleng tak habis pikir akan sumbu pendek pikiran sang istri. Untuk menyesal sekarang pun itu tiada guna, selain harus mempertanggung jawabkan hingga akhir adalah salah satu cara sekaligus solusi. Praya tahu jelas dirinya sendiri telah gagal menjadi kepala keluarga juga seorang Ayah, pula demi alasan itu bersi keras Ia membulatkan tekad agar anak dan istrinya memiliki hidup berkecukupan dan jauh dari kata kekurangan kelak. Tetapi jika hasil seperti ini yang didapatkan, bukankah perjuangannya justru terasa sia-sia?

"Aku-. Ah, hentikan semua sandiwaramu Diyatri. Aku lelah, Aku sungguh tidak ingin bertengkar. Tetapi permintaanmu untuk menikahkan Anggini dengan lelaki yang bernama Prada itu," 

Tangan kanan Praya sibuk memijat pangkal hidung, tatapan tajam dilontarkan kepada seorang laki-laki tengah berdiri di ambang pintu.

"Aku tidak setuju dan tidak memperbolehkan. Ada banyak pria lajang di luaran sana, jangan hanya perkara seperti ini membuat keluarga kita kian hancur."

Ujungnya tenaga telah habis dikeluarkan, menjadi pasrah Praya menghadapi ego istrinya. Melangkah gontai melewati Diyatri yang semakin melotot lebar sepasang bola mata. Gemetar tubuh sebagai salah satu tanda betapa tingginya Ia berada dipuncak keputusasaan, disertai amarah kian meluap semakin besar dua hal tersebut melebur menjadi satu. Namun dari hal tersebut Praya tak mengindahkan, cukup lelah baginya menjalani pahitnya hidup selama bertahun-tahun. Meski sebagai seorang pria Ia juga tahu dan perlahan menyadari, bahwa sosok seperti Diyatri laun dirinya mencintai.

Ya, faktanya Praya dibuat jatuh cinta dari seberkas sinar ketulusan dan kasih sayang Diyatri. Wanita itu selalu ada, bahkan di saat Praya sibuk menghapus rasa gundahnya atas kematian Suhita. Dari semua hal telah Diyatri berikan, sama sekali Praya tak bisa membalasnya. Dalam arti, meskipun Suhita telah tiada tetap saja Diyatri tak bisa menggantikan posisi cinta pertamanya.

Akan selamanya ibu dari Gandes selalu dikenang di hati, menjadikan Praya terjebak pada masa lalu dan urung lekas dari sana. Tentu tak heran, menyebabkan Ia melamun dan menangis setiap malam. Mendepas panjang, kembali Ia berandai-andai. Jika saja Praya bisa memilih satu di antara Suhita dan dia pastilah...

SRAK!

"BIUNG!" 

Terlambat sudah, semua mengira yang Diyatri lakukan hanyalah sebuah gertakan saja. Begitu juga dengan Anggini lantas memeluk tubuh Ibunda kini lunglai dan jatuh menubruk tanah, getih seketika bersimbur mengenai jarik sang anak sebagai bukti nyata bahwa tekad Diyatri benar-benar dilakukan.

Cinta Terjalin SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang