Belakangan purnama ini, langit suka sekali memercik tanah. Menitikkan sedunya pada alam yang terus basah dan sama sekali tak dibiarkan kering oleh angin bergerak kencang. Udara lembab menyebabkan hawa dingin sekaligus gerah untuk dirasa. Padahal, baru sore tadi langit masihlah cerah. Berbincang sepuas hati bersama Ki Uyut menghabiskan waktu di sore hari dengan semburatnya dirgantara amat memanjakan netra.
Dalam hening, Biung Diyatri serta Anggini makan dalam diam. Menikmati makanan yang disajikan Gandes, memakan lahap dari lauk-pauk dari tempe tahu, sayur oseng, hingga ayam goreng yang dibelinya tadi pagi. Rupanya, uang yang diberi Praya dua minggu lalu nominalnya besar bukan main. Sehingga makan malam saat ini pun terasa kenyang untuk sekedar dilihat.
"Bisakah kau pergi dari hadapanku? Aku ingin makan. Teramat sungguh kau merusak nafsu makanku. Jadi, menyingkirlah." Dalam keadaan mengunyah, Anggini membuka suara. Tidak peduli adab ketika makan, atau sekedar menunjukkan identitas ia seorang gadis tak punya etika. Penampakkan Gandes di depannya, bak kotoran mata yang selalu menghalang dalam penglihatan.
"Biung, aku baru menyadarinya sekarang. Betapa dirimu sangat tidak menyukai gadis idiot satu ini."
Selama beberapa waktu, Gandes urung merespon. Tatapannya tengah asik memandangi ayam goreng tersaji di meja makan, tetapi tidak dengan pikirannya tengah liar yang pergi entah kemana. Pikiran yang asik menjelajah dalam berbagai aspek permasalahan yang tak kunjung menemukan solusi. Menghantarkan tubuhnya diam membeku, mata terpaku satu titik, serta konsentrasi yang memudar.
"Kau tuli!? Ku bilang pergi!"
Tak segan mengusir, melalui ujung kaki Anggini menendang bagian lutut kaki Gandes. Terdengar suara ringis menahan sakit sebagai bentuk reaksi. Bersamaan itu, tubuhnya jatuh membentur lantai.
"Ku bilang pergi, bedebah. Aku sungguh muak melihatmu malam ini,"
Sayang seribu sayang, lontaran kasar yang tak enak didengar sama sekali tidak direspon Diyatri. Perempuan paruh baya itu masih anteng dalam makannya seakan perlakuan kasar Anggini bukanlah masalah besar. Apalagi ketika Gandes terjatuh, Ia sama sekali tidak mempedulikan hal sepele macam itu.
"Biung, kian hari aku tidak suka melihat perempuan jelek itu. Selagi Rama tidak ada, mengapa kita tidak mengusirnya saja? Toh, justru kalau dia terus ikut dengan biung, aku jamin uang pemberian Rama akan cepat habis."
Entah bermaksud menghasut atau bukan, Anggini berujar dengan nada ketus dan keras. Gandes perlahan bangkit dari posisi hanya memasang muka tanpa ekspresi, meski saat ini raut yang ditunjukkan sama sekali tidak bisa menyembunyikan wajah muram yang menunjukkan pula warna hatinya.
Sang Hyang Jagat.. Jika keputusan Biung Diyatri akan seperti itu, bagaimana hidupnya nanti?
"Aku memang mempunyai niat seperti itu, dia terlalu merepotkan untuk tinggal bersama." Diyatri berujar malas, tak berusaha mengelak atau sekiranya menghentikan perdebatan.
"Akan ku pikirkan, anakku."
Keterlaluan!
Tanpa perlu menghiraukan kembali percakapan antara anak dan ibu tersebut, segera Gandes berlari menuju dapur. Air mata tak bisa lagi dibendung, terus mengairi pelupuk mata. Kedua tangannya gemetar menahan gejolak emosi, diikuti bibir nan pucat bergetar menahan tangis. Baik biung Diyatiri maupun Anggini, terlalu tega padanya.
Tergesa Gandes membuka pintu belakang, menambah kecepatan langkah kakinya untuk terus berlari menuju ke arah hutan. Entah, untuk saat ini sama sekali pikirannya tak terbesit untuk singgah sejenak ke rumah Ki Uyut. Ia masih terlalu takut, kalau-kalau kakek tua itu akan dalam bahaya karena dirinya. Sehingga tanpa alas kaki, asal tanpa arah bergerak memasuki hutan dengan tanah lembab dan tekstur seperti lumpur turut mengikuti jejaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasyBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
