Banyak tugas 😭tapi aku tetep semangat buat nulis cerita ini, udah dapet ide soalnya. Huaaa, tapi gyg gemes sama alurnya.
-
Sampai malam menjelang, Gandes dengan keadaan mulai membaik memandang cahaya obor dalam diam. Usai menyelesaikan makan malam dengan daging rusa sebagai santapan, membuat Ia merasa kekenyangan sehingga memutuskan duduk selama beberapa waktu. Bahuwirya sebagai sandaran, teramat nyaman sampai Ia sendiri nyaris tertidur. Lembaran daun bekas makan yang sudah dibereskan, teronggok rapi di atas batu beralas lebar macam meja. Demikian hal tersebut membuat keduanya duduk bersama, menikmati suara angin menerjang kencang di luaran sana.
"Apa tidak ada satu hal yang ingin kau tanyakan, Gandes?"
Gandes tampak menimang, berpikir akan sesuatu ingin ditanyakan. Namun sejauh hal mencari pertanyaan urung juga didapat, demikian hati membatin ada apa dengan Prada mengungkap kalimat seperti itu.
"Pertanyaan?"
Bahuwirya mengangguk mengiyakan, bersamaan kedua tangan direngkuhnya Gandes dari belakang. Situasi cukup tenang ini, justru semakin membuatnya gelisah. Takut-takut akan ada hari di mana Ia tak bisa lagi bersama, berpisah akan keadaannya amat memungkinkan dimanfaatkan oleh lawan. Entah siapa gerangan, Bahuwirya sendiri ingin menyudahi ini semua.
"Ku rasa ada, tapi apa ini pantas untuk ditanyakan?"
Dalam kekhawatirannya Bahuwirya tersenyum, lengkungan bibir tampak samar tak disadari oleh si gadis. Betapa seorang keturunan raja yang terbuang itu menikmati momen dengan menghabiskan waktu hanya berdua dengan Gandes, meski tidak melakukan apa pun diperoleh ketenangan hati terus menjalar.
"Tanyakan saja, apa itu?"
Digigitnya jari jempol pada bibir bersamaaan rona merah muncul dari pipi, diikuti kepala sedari tegak perlahan menunduk.
"Hmm, ini bukan tentangmu atau apapun terkait itu. Aku hanya-meminta tolong padamu bi-bisakah kau melihat punggungku sebentar saja? Sejak keluar dari gua saat itu, punggungku terasa panas. Aku tidak tahu apa yang terjadi karena tidak ada cermin-boleh-"
"Tidak masalah, kau bisa menegakkan tubuhmu sekarang."
Bahuwirya berujar dengan ekspresi datar, penuh kelembutan dibukanya kain jarik kini melilit tubuh Gandes yang berfungsi sebagai pakaian. Berbanding terbalik pada sang empu, muka merah padam justru merambat sampai daun telinga. Rasa malu bukan kepalang membuat Gandes menutup wajah menggunakan telapak tangan.
"A-apa ada luka bakar? Atau lepuh?"
Barang sekejap raut wajah berubah tegang, tangan yang melayang di udara menjadi tanda persoalan diisi keterkejutan. Gandes urung menyadari suasana hati Prada kian gelabah, atmosfer ruang masih sama seperti beberapa waktu lalu. Keakraban mereka adalah perantara komunikasi kedua belah pihak upaya menaruh dan memberikan kepercayaan, terutama Gandes sama sekali tak menaruh rasa curiga.
"Ini... "
Ucapan Prada menggantung, ditatapnya sekali lagi kulit kemerahan seakan melepuh itu. Macam luka yang merambat hingga punggung tulang belakang nyaris pekat warnanya membentuk pola. Garis demi garis Prada amati lamat-lamat mencari titik ujung bermula dari pangkal leher. Warna merah bak darah sekilas tampak bersinar, laun sebuah seringai muncul sebagai penanda riak muka mewakili kata hatinya.
Inilah alasan mengapa Kawindra membentengi Gandes darinya.
"Ada apa? Apa... Seperti luka bakar?"
Gandes berujar khawatir, tak mengurangi rasa malunya ditutupi wajah dengan kain.
"Aku ingin menikahimu, bersediakah kau menjadi istriku?"
Kemudian, hening.
Memakan waktu lebih lama rupanya agar Gandes menyadari maksud perkataan Prada secara blak-blakan, dari situsi lengang hanya mampu Ia mengerjap mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasyBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
