Ketebak nggak sih alurnya? 🗿
_______________________
Kesunyian di tengah malam nyatanya tak membuat Praya merasa ngantuk dan segera tidur, lamanya waktu Ia habiskan dengan seorang pemuda kini terduduk anteng menjadi sebab melek mata. Keadaan semula runyam dari kejadian tadi siang, tak dilupakannya sehingga terasa kepala berat disertai hidung memerah menahan tangis. Petaka baru saja menimpa keluarganya tanpa dihindari telah memakan korban, amarah serta keputusasaan yang dirasakan Praya nyaris melakukan hal serupa seperti istrinya.
"Bagaimana dirimu menganggap kau pantas untuk menikahi putriku? Memangnya mau diberi makan apa Gandes kalau kau sendiri tak bekerja?"
Ketus Praya berujar, kusut dan lusuhnya pakaian yang dikenakan menjadi tanda Ia belum mandi sedari sore. Pikiran tak luput memastikan kebahagiaan Gandes adalah satu-satunya harapan dan keinginan yang bisa dilakukan sebelum semua terlambat, haruslah putrinya yang satu itu hidup damai juga tenteram setelah dari segala hal buruk terjadi.
Belum lama ayah dari dua orang putri tersebut mendudukkan bokong pada sebuah kursi, segera kedua tangan mengambil sepantek korek dan dinyalakan pada wadah obor di samping kanan.
"Aku bisa berburu."
Lantas termangu Ia dari posisi, mulut setengah terbuka itu terpampang jelas depan Prada. Kemudian ketika api sudah menyala, kembali Praya mendudukkan diri. Berdecih adalah responnya sembari membuang pandang, dilanjuti gelengan kepala merasa aneh. Mengapa pula Gandes mendapat lelaki seperti ini?
"Lagi pula, apa kau yakin Gandes menginginkan uang yang kau cari selama ini? Kau saja tidak tahu isi hati putrimu sendiri."
Tak kalah lancang Prada membalas, dibiarkan tubuh semula tegak kini menyandar pada dinding ruang tamu. Meski tak menghindari bau anyir masihlah membekas, sanggup Prada menahan demi calon istri tercinta.
"Kurang ajar sekali mulutmu."
Bergumam pelan Praya diselingi pandangan mata menatap langit-langit rumah.
"Ki Uyut sudah menceritakan segalanya padaku, tentang semua hal yang tak masuk diakal. Orang tua itu, apa yang dikatakannya benar?"
Prada melipat kedua tangan, tatapan tajamnya tak lepas memandang Praya kini penasaran.
"Perihal?"
"Kau sudah mengenal Ki Uyut saat istrinya masih hidup? Dia berkata istrinya sudah meninggal 60 tahun yang lalu. Bagaimana bisa itu terjadi?"
Cepat Praya menimpali.
"Kau percaya? Umurku baru menginjak 28 tahun, apa itu masuk dinalar?"
Demikian Prada mengumpat, merasa heran akan kelakukan Kawindra cukup mengahabiskan kesabarannya. Apa pula orang tua itu mengatakan hal-hal bersifat sampah?
"Tentu saja, tidak. Aku memaklumi perkataan orang tua yang tak jelas sudah pembicaraannya. Kalau begitu, apa yang bisa kau lakukan untuk meyakinkanku bahwa Gandes baik-baik saja bersamamu? Dia hidup dengan sangat berkecukupan dari semua yang Aku punya, mulai dari pakaian, perhiasan,dan--"
"Tetapi kau tak bisa memberinya kebahagiaan, anakmu hanya ingin perhatian dan kasih sayang seseorang untuknya. Aku bisa memberikan itu lebih dari cukup, yang sudah jelas kau sebagai seorang Ayah justru tak bisa melakukan. Tidak ketika semua itu sudah terlambat, benar? Karena sudah ada Aku sekarang."
Kicap Praya tak melanjutkan kalimat, apa yang dikatakan calon menantu sama sekali tak bisa ditentangnya. Kata demi kata terucap dari bibir lelaki itu sungguh Ia dibuat mati kutu, yang jika dipikirkan kembali memang benar. Dirinya hanya sibuk memikirkan masa lalu dan enggan melangkah ke depan, sibuk dengan kegundahan hati perlahan kosong tanpa kehadiran sosok yang dicinta, Kalau begitu... haruskah Ia memberi restu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasiBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
