12. Sesal

424 73 7
                                        

Esok paginya, Gandes menjalani hari seperti biasa. Disibukkan dengan menimba air sumur lalu dipindahkan ke dalam tempayan besar yang tidak jauh jaraknya dari tungku, agar sewaktu-waktu ketika ingin merebus untuk kebutuhan minum atau memasak tidak perlu lagi khawatir akan kotornya sumur yang bisa keruh kapan saja. Selain itu, orang rumah belum terbangun berusaha Gandes memulai masaknya. Hanya diterangi dari redup lampu ublik tetap Ia memaksa diri, meski tahu tangan teriris menjadi resikonya.

Potongan irisan bawang putih laun tak menjadi fokusnya, pandangan mata beralih menatap tungku sedang menyala dengan sebuah kendi berukuran sedang di atasnya. Bau harum kian tercium, tatkala air rebusan jahe hampir matang. Tapi tetap saja, tak dihiraukan didihan air dalam kendi. Perkataan Anggini semalam cukup mengganggu, bahkan sampai kini pun sulit rasanya sekedar berpaling.

Dari balik dinding rumah terdapat lubang kecil, dirasakannya sapuan angin menerbangkan anak rambut. Aliran udara yang menjalari kulit membuat Gandes tertegun sigap, sadar akan situasi-segera kendi di atas tungku tersebut diangkat. Diletakkan kemudian di atas meja dan dituangkan dalam gelas terbuat dari potongan bambu, asap mengepul tanda rebusan jahe siap disaji.

Bersamaan dengan itu, helaan napas diempaskan dari rasa menyesakkan dada yang belum juga hilang. Ada gerangan apa sehingga hati sukar dikendalikan, mengiring paksa pada perasaan ego yang tak seharusnya mencuat dari tempat nan laun kian meraja.

Berulang kali berucap dalam hati, ini hanyalah kegundahan semata. Persoalan Prada dan Anggini tak seharusnya diperpanjang, bisa diurus hal satu itu nantinya jika Gandes sendiri bisa mengendalikan hati. Saking terbawa suasana dalam lamunan, tak menyadari langkah kaki berjalan pelan. Hati dan pikiran dibuat repot menata diri agar terus menjaga warasnya dalam bertindak, jangan sampai pikiran dan hati memiliki niat buruk mengacaukan segalanya.

Segenap upaya kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda, sayup-sayup tembang terdengar. Seseorang tengah menadah syair menelusup dalam kalbu, terheran-heran Gandes siapakah orang menembang di pagi buta.

Menoleh kepala, pandangan lurus telak mengamati ruang tamu. Dari dapur ia bisa melihat temaram sinar dari lampu ublik nan redup, tak diketahuinya kalau Ki Uyut telah terbangun. Upaya memastikan, Gandes memutuskan bangkit menunda pekerjaannya. Jangan sampai Ki Uyut yang belum sembuh dari lukanya, mendesak diri untuk pergi dari sini.

Pada akhirnya, tiada rawi berakhir indah.
Kisah kelam kan kembali terulang, dengan sifat dan rupa tak lagi sama.
Sang Hyang Jagat, karma buruk tak berani ku tuntaskan.
Bisakah ku pinta satu kehidupan lagi, dengan selembar lontar tanpa dikotori oleh setetes tinta?

Sepenggal lirik dapat Gandes rasakan galaba hati, keputusasaan menggelora mulai merambat menguasai diri. Merengut dan memaksa adalah caranya untuk menggertak, pada jiwa perlahan gila karena takdir yang terus menggasak. Seperti tercekik Gandes, tatkala mendalami rasa itu sembari menyimak dalam sengap.

Iri hati, kesombongan diri adalah jurang duniawi.
Ketika alam bertanya, tak sanggup tuk menjawab.
Inikah balasan yang ku terima? Dari segala hasrat yang gagal ku tangkal.

Ketika langkah kaki berhenti di teras rumah, dilihatnya Ki Uyut sedang terduduk sila. Bulan masih bersinar menerangi pagi gulita, Gandes terus mengamati orang tua itu terus memejam mata. Tak bisa ditebaknya suara serak sebagai tanda beliau menangis.

Tembang belum lama didengar, kini tak lagi bersuara. Tergantikan ratapan Ki Uyut terus larut dalam kesedihan, kesedihannya yang tersembunyi, sama sekali tidak ketahui. Jikalau boleh Gandes berprasangka, pastilah Ki Uyut tengah menangisi anak-cucunya yang bisa jadi kemungkinan telah melupakannya di masa-masa tua seperti ini.

"Istriku, aku merasa bersalah pada istriku."

Kalimat pertama terlontar, membuat Gandes menurunkan badan dengan lutut kanan bertumpu pada tanah. Dipandanginya Ki Uyut lamat, bahkan di usia sudah senja permasalahan hidup masih saja terbayang. Berusaha Ia tak ingin ikut campur urusan orang tua itu, tapi kalau dengan bercerita bisa melepas beban mengapa tidak?

Cinta Terjalin SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang