18. Pernyataan

263 50 5
                                        

Mari kita lihat sisi lain seorang Bahuwirya.

-

Silau cahaya tanpa segan merambat masuk ke dalam gua, pantulan sinar nyaris membuat mata seorang gadis terpejam perlahan terbuka. Demikian seluruh badan tak bisa digerakkan, sekedar bangun tak lagi Ia memaksakan diri. Selain rasa ngilu, bibir terasa kering sehingga sekedar membuka mulut saja sakit seakan robek.

Anggota badan yang tidak bisa diandalkan, bergantian bola mata menjelajah seluruh ruang. Dilihatnya langit-langit bangunan tampak tinggi, memiliki dinding dengan bentuk tak beraturan disertai batu besar di bagian pojok berdempetan oleh dinding. Dalam hati berkata, tempat apa ini? Apakah Ia sudah tak lagi hidup? Bagaimana dengan Rama yang masih dilingkupi amarah? Bagaimana pula dengan Anggini, apa hati perempuan itu baik-baik setelah pertengkaran biung dan rama terjadi?

Ah, memikirkan hal itu semakin kepalanya bertambah sakit dan gayang.

"Kau terlalu rapuh. Orang sepertimu tidak cocok hidup di dunia ini, apa sama sekali dirimu tidak memiliki tempat untuk bersandar?"

Gema suara terdengar dari ujung ruang, sosok laki-laki muncul dengan daun terbungkus acak di tangan kirinya. Pandangan masih memburam, mencoba Gandes menebak. Apa dia Prada?

"Ya itu aku, apa keadaanmu jauh lebih baik dari kemarin?"

"Apa maksudnya?"

Prada mengerti kalimatnya meski mulut tak bicara?

Tenggorokan sama sekali tak dapat mengeluarkan suara, hanya mampu menggerakkan bibir meski sama sekali tak terlihat. Namun, apa yang dilakukan baru saja semua itu tidak luput dari kedua mata Bahuwirya. Lelaki itu tanpa sungkan mendudukkan diri pada sebuah batu dengan permukaan rata cukup lebar, berdekatan letaknya dari Gandes yang anteng dalam posisi.

"Janganlah dulu banyak gerak, tubuh lemahmu tidak begitu sanggup melakukan banyak hal. Kau boleh memarahiku dan memukuliku jika mau, karena telah lancang menyentuhmu tanpa izin. Tapi kalau diingat-ingat, sepertinya kau tampak putus asa terhadap Ayahandamu sendiri."

Sejauh ini Gandes hanya mengamati, dari diamnya melihat Prada banyak bicara tak seperti biasanya. Tidak seperti dahulu-dahulu kali pertama bertemu akan sosok Bahuwirya yang gagu, lelaki tepat di hadapan sudah seperti seorang manusia pada umumnya.

"Ku sarankan, lupakan semua hal. Lupakan segalanya, bukankah menjadi lebih baik kau meninggalkan rumahmu dan bebas dari jeratan mereka? Sebagai gantinya ada Aku, ada Aku yang akan selalu menjadi tempat bersandarmu. Bukan begitu?"

Kemudian, kalimat itu terucap. Kalimat yang seolah meyakinkan Gandes untuk mempercayai Prada, apa laki-laki itu memberinya sebuah penawaran? Cukup tergiur Ia untuk mengiyakan. Karena nyatanya, Gandes sendiri juga sudah merasa lelah berjuang. Menghadapi berbagai macam karakter dan sifat manusia membuat tubuh dan pikiran ingin menyerah pada kehidupan, mengingatkan dirinya sendiri pernah mengucap kalimat begitu sembrono terhadap seorang pria tua.

"Bukankah seorang manusia hidup di dunia untuk menghadapi dan melawan ketakutan terbesarnya?"

Ujungnya, tahu betul Gandes mengganggap kehidupan hanyalah sebuah kutukan. Di mana manusia hadir dan hidup memiliki peran, tugas, juga tujuannya masing-masing. Hingga sejauh ini pun diri merasa letih, demikian justru Prada datang menghampiri. Apakah memang seperti ini jalannya?

"Kau terus memandangiku. Apa yang ku ucapkan baru saja bukanlah omong kosong semata, apa yang harus ku lakukan untuk membuktikan bahwa perkataanku adalah sesuatu nyata dan mutlak?"

Kemudian, hening.

Kesungguhan tampak dari kedua netra selegam malam milik Bahuwirya, Gandes yang hanya mengamati sedari tadi pun mengetahui. Bak sebuah janji Prada memegang kalimatnya penuh keseriusan, orang itu bersi keras agar Ia mengiyakan dan mulai mempercayainya mulai sekarang. Kalau saja saat ini seluruh tubuh bisa digerakkan, sudah pasti Gandes mengangguk setuju diiringi lempengan senyum.

Cinta Terjalin SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang