Seorang gadis dengan gelungan surai nan cantik terus melangkahkan kaki menyusuri hutan sekitar lereng Gunung Arjuna, dicarinya reranting serta potongan kayu tersebut yang akan digunakan sebagai bahan bakar masaknya nanti. Di pagi buta dalam keremangan, ia mencari-cari amat teliti dengan dirabanya kayu tersebut basah atau tidak.
Orang-orang di desanya urung melek mata, bahkan suara jangkrik masih menjerit keras. Tapi sang ibu sudah meminta mereka mencari persediaan bahan bakar masak yang sudah habis tak tersisa. Dan semua orang di rumah menyalahkan hal ini pada gadis bernama Gandes. Gandes Naeswari.
"Cepat, cepat, cepat. Jangan lelet, aku tidak ingin biung marah-marah kalau tahu kita baru mendapat dua batang kayu bakar." Salah seorang gadis yang memakai jarik abu membuka suara dari balik pohon menjulang tinggi, bersandar diri menikmati buah rambutan tengah dikunyah. Seraya dilemparnya kulit tersebut asal, dipandangi adik tirinya itu remeh.
Tidak jauh dari sana, Gandes fokus mencari potongan ranting berserakan tanpa niat membalas sahutan Anggini. Kakinya kian gencar menuruni permukaan tanah kian terjal mendekati perbatasan Hutan Lingkih. Dengan tangan kanan terus meraba, sedang tangan kiri menggenggam obor. Berjalan kesana-kemari yang hanya didapati beberapa batang kayu saja.
Dalam posisi membungkuk, Gandes mendepas napas panjang. Menjalani hari-harinya yang kini tak lagi menyenangkan. Selain kesengsaraan kian hari menyiksa, hidupnya bagai burung terjerat dalam sangkar. Hidup bersama ibu dan kakak tiri, Gandes tak bisa menolak untuk mengatakan bahwa ia bersedia tinggal serta merasa baik-baik saja hidup selama lima belas tahun bersama mereka.
"Hei dungu, aku tidak ingin berlama-lama disini. Banyak nyamuk. Di pagi buta seharusnya aku masih tertidur pulas, jika saja kamu tidak membantu tetangga sialanmu itu." Tidak lama diliput kehehingan, Anggini kembali berteriak. Di atas sana ia kembali melempar kulit rambutan yang lain sampai mengenai wajahnya. Dari tadi Gandes hanya diam tak meladeni, tapi sepertinya perempuan satu ini memang keterlaluan mengganggu orang kerja.
Gandes pada akhirnya mendongak, menatap samar Anggini dengan terpatri ribuan macam ekspresi. Tidak lama kedua mata terpejam, menarik kembali napas panjang kemudian berbicara.
"Kau segeralah turun terlebih dahulu, biar aku yang akan mencari kayu bakar untuk masak sarapan nanti. Kalau ibu bertanya, bilang saja aku sedang membawanya." Sang empu dibilang seperti itu memasang seringai lebar. Selendang kumalnya berwarna kuning lusuh dibenarkan kembali, tanpa peduli dan banyak kata Anggini pergi meninggalkan sang adik sendirian di hutan.
Di saat matahari mulai naik ke peraduannya, bisa dihitung jari Gandes mendapat kayu. Meski demikian, tak merasa menyesal Ia telah memberikan sisa kayu bakar dirumahnya kemarin kepada tetangganya yakni Ki Uyut. Si kakek tua renta yang masih berusaha keras mencari kayu bakar untuk dijual sekalipun badannya sedang demam. Mengingat kembali akan hal itu membuat hatinya terharu.
Biarlah dirinya sendiri mendapat masalah karena hal ini, toh niatnya hanya membantu di saat Ki Uyut sedang kesulitan. Rumahnya dengan rumah Ki Uyut memang berjarak tidak terlalu dekat, atau bisa dikatakan jauh. Namun, Gandes bisa semangat ini menjalani kehidupan yang dirasa pahit pun karena Ki Uyut. Seorang lelaki tua hidup sebatang kara yang memiliki sanak cucu di Ibukota yang telah hilang tanpa kabar, dari mengadukan nasib mereka sendiri untuk menjadi seorang prajurit terlatih yang dibutuhkan kerajaan saat ini. Melihat perjuangan keras sang kakek ditinggal keluarganya, membuat Gendes memiliki keyakinan untuk bangkit.
Bangkit dari keterpurukan, menjalani hidup dengan hati penuh lapang.
Demikian lamunannya tidak bertahan lama, tidak ketika matahari benar-benar terbit dan bersinar menyinari pepohonan. Membuat Gandes segera memutuskan untuk turun dari lereng gunung. Jika tidak segera, ibu tirinya itu tentu akan curiga padanya sanya hari ini teramat sulit mencari kayu bakar utuh dan kering. Apalagi semalam hujan mengguyur lebat, jarang sekali menemukan kayu yang ingin dicari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasiaBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
