Baik Gandes dan Anggini, keduanya pulang ke rumah tepat matahari tak lagi tampak di ufuk barat. Penuh riang sang kakak masuk lebih dahulu, meninggalkan Gandes mulai membersihkan kedua kaki serta tangan menggunakan air mengalir dari sebuah tempayan tertutup yang diberi lubang kecil bagian bawah. Kalau Rama-nya bilang, biar kesialan lekas pergi dan tak masuk ke dalam rumah. Menjadi sebuah peraturan tidak tertulis yang patut diingat selepas pergi dari luar.
"Biung! Lihat! Siapa yang ku bawa pulang hari ini!?" Teriakan riang Anggini menggema sampai kemari, membuat Gandes mengalih fokus kemudian melepas senyum kecil.
Sekiranya perkataan mereka kemarin tak lagi terasa menyakitkan. Bagaimana pun biung dan Anggini adalah keluarganya, untuk satu kali kesempatan saja bisakah Gandes mempertahankan segalanya sampai saat ini?
Cuaca bertambah dingin, gelap dengan gemerlap bintang yang biasa menghiasi kini jarang terlihat. Pertanda alam seperti ini biasanya dihadiri sesuatu hal buruk akan menimpa, apik diwaspadai bila hal tersebut benar adanya.
"Apa malam ini akan hujan lagi?" Gandes bergumam, sembari kedua kaki melangkah masuk ke dalam rumah. Di dalam sana ada Biung Diyatri tengah menyiapkan makan malam, sedang Anggini lekas membersihkan diri selepas dari hutan. Butuh beberapa waktu upaya Gandes menyapa.
Dua tangan saling memilin, tanpa dicegah kedua mata menunduk. Bibir melipat garis lurus, merasa canggung sekedar membuka mulut.
"Maafkan a–"
"Aku tidak peduli kau habis dari mana, bersihkan dirimu lalu bantu aku siapkan makan malam."
Ujaran singkat itu cukup dimengerti Gandes, dari responnya saja sudah lebih ia syukuri Biung Diyatri buka suara. Dari biasanya yang hanya antap, kini bersua meski diawali percakapan dingin.
"Ba–baik, biung."
Tak lama berlalu dirinya masuk ruang belakang, terdapat dapur yang tidak jauh jaraknya dengan kamar mandi terletak di luar rumah. Agar tidak licin, hampir sebagian alas ditempel potongan bambu yang sudah dibelah. Dalam dapur ada banyak peralatan seperti kendi, tempayan tertutup berisi air masak, empat pawon, lesung, capah, bokor, alat potong seperti pisau dan golok, tampah dan lainnya.
Sedang kamar mandi seperti bilik labirin itu hanya terbuat dari anyaman bambu, yang diisi tiga tempayan serta peralatan mandi seperti sabut kelapa untuk membersihkan kulit juga batok kelapa memudahkan diri membersihkan seluruh badan.
Lain dari itu, tepat samping kamar mandi terdapat sebuah sumur. Tempat di mana Gandes menimba air baik untuk keperluan mandi atau pun memasak. Lubang dari sumur itu juga tidaklah lebar dan dalam, air yang jernih sering kali ia dapati selagi musim hujan.
Sebenarnya rumahnya cukup sederhana, hanya luas halaman depan saja besar. Hal tersebut dikarenakan Rama memutuskan untuk menanami berbagai macam bunga agar suasana tampak indah dan segar, yang sekaligus dapat menenangkan pikiran.
Hingga sudah memakan beberapa waktu lamanya membersihkan diri, segera Ia mengambil makanan dan dibawanya ke ruang depan. Di sana, sudah ada Anggini serta ibunya duduk anteng tanpa bicara sepatah kata. Rumah menjadi hening selain suara jangkrik berteriak keras, menandakan malam sudah tiba.
Setelah tugas selesai, memberanikan diri Gandes menduduki kursi. Lagi-lagi rasa grogi menghinggapi. Kali ini, tak ada kata ocehan apalagi usiran agar dirinya menyingkir dari meja makan. Semua menyantap sajian dalam diam. Entah apa yang sedang terjadi saat ini, sekiranya Ia bersyukur tidak lagi terkena omelan dan kata kasar terngiang dalam kepala.
-
Benar saja, ucapannya tadi malam layaknya mantra langsung terkabulkan. Sapuan angin kencang membangunkan Gandes dari tidur pulas. Gelapnya malam cukup merepotkan sekedar mencari lampu ublik urung dinyalakan dengan sepantek api. Sampai-sampai tubuhnya terjatuh dari ranjang tidur, rasa sakit dan gigil bersamaan menyerang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasiaBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
