Saat warna jingga tampak dari balik awan, masih saja Gandes termenung di pinggir tebing menatap pemandangan. Sudah dua hari, tiada keinginan untuk pulang. Perlu dipertimbangkannya keputusan satu itu, mencoba mempersiapkan fisik dan mental agar tak mengulangi kejadian sama.
Dari permukaan tanah landai, terdapat tangga dengan batu sebagai alasnya. Di sana, sosok Prada ikut memandangi satu objek menarik perhatian. Seorang gadis dan siluet senja merasuki pikirannya, manusia yang baru dikenalnya di dunia fana.
"Ku rasa... tidak ada salahnya kau mencoba." Sekian lama keduanya tak bersuara, lebih dahulu Prada berbicara. Dari posisi duduk di tangga, perlahan bangkit kemudian melangkah mendekati Gandes. Tatapan mata masih antap memandang sang gadis kini asik membelakangi, dia yang terbawa suasana hingga termenung bagai patung.
"Aku.. memang tidak mengerti masalahmu. Tapi yakinlah, semua persoalan punya solusi. Hanya bagaimana kau ingin menghadapinya, apakah memilih menghindar? Atau sebaliknya,"
Berterus terang Prada menyampaikan pendapat, merasa tak tega membiarkan Gandes berbaur dalam tangis dan kesedihan. Menyadari, air mata itu cukup membuatnya risi untuk dilihat. Baru kali ini Ia melihat seorang perempuan menangis pilu.
"Tapi-aku tidak yakin akan hal itu. Tidak tahu apakah hatiku masih sanggup untuk bertahan lebih jauh dari ini."
Prada tahu, gadis itu masih larut dalam pikiran. Pula mengerti rasa sakit yang terus menggerogoti akal, tapi ia tak bisa berbuat banyak selain meyakinkannya untuk terus berjuang. Bagaimana pun, kesempatan hidup harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Tidak akan dirinya membiarkan orang di sekitar merasakan ketidakrelaan jika ajal menjemput suatu hari nanti. Hal tersebut yang justru menahan jiwa untuk tak pergi ke Swargaloka.
Rasa grogi menghampiri, dibasahinya bibir sesekali. Mulai ragu mengutarakan pertanyaan ingin dilontarkan. Seumur hidup tidak pernah Ia berdekatan dengan seorang perempuan sekali pun bertanya sebatas nama.
"Siapa namamu, nimas?"
"Gandes, Prada. Gandes Naeswari."
Kemudian, Prada berbalik badan. Membuang napas kasar sembari mengusap rambutnya acak.
"Gandes.., percayalah. Kenyataannya hidup memang pahit. Kalau perjalanan hidup terasa manis, maka itu bukan benar-benar sebuah kehidupan."
Agak lama dirinya memberi jeda,
"Jika kau butuh sandaran, aku siap memberikan bahu untukmu. Agar suatu saat, ku harap kau menjadi perempuan tangguh dan kuat demi dirimu sendiri. Kesedihan tak boleh kau biarkan larut, atau rasa itu akan menyerang dan membawamu pada kegelapan."
Merasa cukup akan kalimat baru saja dilontarkan, segera Ia kembali melangkah. Mengarahkan sepasang kaki ke dalam gua, yang berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri.
"Tu-tunggu!" Kali ini, Gandes menoleh. Giliran ia melihat lengan otot kekar Prada, disertai punggung lebar yang sebagian tertutup geraian rambut panjangnya.
"A-aku ingin tahu namamu, maaf kalau Prada bukanlah nama-"
Urung kelar Gandes bicara, segera sang empu memotongnya.
"Tidak apa, teruslah panggil aku dengan nama itu. Anggap saja sebutan khusus yang kau berikan untukku."
Pipinya terasa panas, diikuti kedua tangan sedikit gemetar. Ucapan sang empu baru saja menimbulkan rona merah di pipi, yang laun merambat sampai telinga. Apa maksud dari sebutan khusus untuknya? Apa Prada senang jika dipanggil seperti itu?
"Dan...ya, kalau kau memutuskan untuk turun dan kembali ke rumahmu, sangat siap aku akan membantu mengantar. Jangan sungkan, itu..lebih baik dari pada dua hari ini kau tidak berganti pakaian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terjalin Senja
FantasyBahuwirya tak pernah berharap ia jatuh cinta pada gadis lugu yang terus menatapnya dengan rasa penasaran. Bagaimana ketika gadis itu mendekatinya, bertanya padanya, serta mengajaknya berbicara pada suatu hal yang selama ini belum ia rasakan di dunia...
