"Haah…." untuk yang kesekian kalinya Senja menghela napas panjang sembari menatap layar ponselnya yang sudah mati.
"Gak capek apa napas mulu dari tadi?" celetuk Zaki kesal.
"Ei kalo gak napas mati dong dia bodoh!" celetuk Hwan reflek.
"Lo emang mau gue mati ye?" tanya Senja mendelik ke arah Zaki.
"Enggak, gue tuh sayang sama lo. Buktinya paket gue abis buat lo nonton boruto buat cari Himawari doang. Rela gue rela, walo yang lo tonton cuma kartun doang mah," ucap Zaki menyerah sembari melemparkan ponselnya ke depan meja.
"Eh lo cepet-cepet sembuh kek, gak lama lagi ujian kelulusan tau. Lo gak mau liat ekspresi Gin pas ujian sejarah indonesia?" tanya Hwan sembari mengerling ke arah Gin yang membuat anak keturunan Jepang itu mendelik ke arahnya.
"Pas Indonesia di jajah? Perasaan kita udah kelas 12 tapi bahasnya di situ aja ya gak sih. Jepang, Belanda, perang dunia satu dua. Perjanjian ini itu-- aw apa sih!" ketus Arya tiba-tiba saat Zaki menyikut pinggangnya dan memberi kode lewat ekor mata. Seketika itu Arya langsung mengintip Gin yang sudah bermuka masam.
"Apaan sih, gausah nakut-nakutin Arya deh Gin. Kan itu faktanya kalo Jepang itu pernah menjajah Indonesia kenapa lo marah?" tanya Senja dengan santainya.
"Siapa yang marah, gue enggak," ucap Gin sembari menatap Arya nyalang.
"Tuh kan tuh," ucap Senja sembari menunjuk-nunjuk Gin. Gin yang ingin menyahut Senja tiba-tiba terhenti saat pintu ruangan dibuka.
"Assalamualaikum?" dari balik pintu, terlihat Adelia memasuki ruangan diikuti oleh Athala dan Bunga. Adelia memaparkan senyum pada teman-teman kakaknya lalu berlari ke arah Senja.
Berbeda dengan Athala yang hanya berjalan lurus tanpa bertegur sapa sama sekali dengan teman-teman Senja dan tanpa mereka sadari juga, seseorang yang duduk di samping Arya terpesona kepada seorang gadis yang menyusul Athala di belakangnya. Yah, Hwan terpesona dengan kegagahan Bunga.
"Anj, itu siapanya Senja? Perasaan Senja banyak banget ceweknya. Gila tu cewek berkarisma banget," bisik Hwan kepada Arya yang duduk di sampingnya sembari memukul pelan paha Arya.
"Hayo loh, gue bilangin ni ya?" tanya Arya sembari tersenyum usil ke arah Hwan.
"Jangan jangan," bisik Hwan sembari menutup mulut Arya.
"Senjaaakuu sudah sembuh?" tanya Adelia saat sudah sampai kedalam pelukan kakak sulungnya.
"Adele adele kamu gak pernah jagain kakak di sini ya? Sekarang baru datang kemaren kemana aja?" Senja mendengus kecil pada Adelia.
"Apaan, lo kan gak sadar kemaren?" ucap Adelia sembari melepaskan pelukannya. Namun sebelum itu ia sudah mendapat jitakan khas dari Senja di atas kepalanya.
"Lo? Lo ngomong 'lo-gue' sama gue? Sopan kah begitu adik bungsu?" tanya Senja terkesan dingin yang membuat Adelia meringis sembari menggaruk tengkuknya.
"Maaf," ucap Adelia sembari membuang tatap kemana lain. "Tapi Lia ada ke sini tau, kakak aja yang belum sadar," cicit Lia sembari memainkan jarinya.
"Hayoo lo, Lia nangis loh Jen diginiin!" celetuk Hwan yang kemudian mendapat jitakan dari Arya.
"Lo apaan sih, kalo ngajak berantem bilang! Dari tadi jitak teroos ni pala sampe benjol!" dengus Hwan sembari menatap sinis Arya.
"Geser dong?" pinta Athala pada Gin yang duduk di ujung sofa. Gin menggeser pantatnya supaya Athala bisa duduk di sampingnya.
"Lia ke sini sama siapa?" tanya Senja pada adiknya yag sudah duduk di tepi ranjangnya.
"Kemaren itu? Sama Oce. Oce khaw---hmmp?" ucapan Adelia terhenti saat Senja tiba-tiba menutup mulutnya dengan mata membola seakan melarang Adelia melanjutkan kalimatnya. Lalu Senja mengintip Gin dari balik badan Adelia. Aman, Gin tidak mendengar apa pun sepertinya.
Senja kembali membuang napas dan melepas tangannya dari Adelia. Sementara itu, Athala sudah menarik Bunga yang sedari tadi berdiri di samping Adelia untuk duduk di sofa tunggal di depannya.
"Apaan sih?" ketus Bunga.
"Kaki kakak gak capek apa berdiri terus?" tanya Athala sedikit ketus yang tidak ditanggapi oleh Bunga.
"Kenapa sih, puih tangan Senja pait tau! Rasanya kek obat!" ketus Adelia pada Senja. Senja menatap pias ke arah adiknya lalu berucap. "Gausah bahas Oce, Gin lagi di sini," ucap Senja nyaris berbisik.
Adelia membulatkan mulutnya seakan mengerti maksud Senja lalu kemudian mencuri pandang ke arah Gin sesaat. "Ngerti," ucap Adelia.
"Pinter," ucap Senja sembari mengelus kepala adiknya.
"Senja kapan pulang?" tanya Lia pada kakaknya.
"Gak tau, secepatnya mungkin. Senja juga mau mampir ke makamnya Hima," jawab Senja sembari memasang senyum simpul.
"Eum… Senja gak bisa move on dari Hima ya? Mau Lia cariin yang lain gak?" tanya Adelia dengan polosnya yang membuat kakaknya tergelak di tempat.
"Lah kok ketawa?" tanya Lia.
"Gausah, Senja gak mau suka-sukaan sama orang lagi. Rasanya gak enak pas ditinggalin gitu aja," ucap Senja sembari menyeka sudut matanya yang berair.
"Pasti sakit ya, yaudah sama Oce aja kalo gitu," bisik Adelia pada kakaknya.
"Liaa… itu gak mungkin, kakak gak ada rasa sama sekali sama dia," bisik Senja memberitahu.
"Yah… kasian Ocenya, pasti sakit," ucap Lia sembari menaruh tangannya di depan dada, seakan mengerti sakit hati Ocean.
"Sakitan mana sama Senja yang ditinggal gitu aja sama seseorang yang gak akan pernah kembali lagi?" tanya Senja dengan serius menatap adiknya. Adelia menangkup pipi kakaknya dan menatapnya nanar.
"Senja… gak boleh gini terus, nanti Hima kesusahan di sananya. Harusnya Senja lebih ngerti kan?" tanya Adelia pada kakaknya. Senja menurunkan tatapannya dan kembali membuang napas berat.
"Senja mau tidur lagi, Lia ngobrol aja sama mereka dulu ya?" pinta Senja sembari menatap teman-temannya yang sedari tadi asik melemparkan lelucon dan tawa.
"Yaudah kalo gitu, cepet sembuh ya Senja," ucap Lia sebelum beranjak dari ranjang tempat kakaknya berbaring.
***
Seorang pria paruh paya menatap lurus ke arah dinding gelap di depannya. Ruangan yang ia tempati terasa suram dan mencekam. Hanya ada dia seorang di sini yang sedang menunggu waktu untuk di eksekusi mati.
Putus asa, itu yang ia rasakan sekarang. Tak ada harapan untuknya lagi, dia melenyapkan harapan itu sendiri. Rasa takut kian menggerogoti dirinya, meraung-raung meratapi betapa bodohnya ia, betapa kotornya pekerjaannya.
Kesombongan yang ia miliki hilang begitu saja meninggalkan pria ini dengan begitu menyedihkan. Harta, kekuasaan, anak dan semua kenikmatan yang pernah ia rasakan musnah begitu saja hari ini.
Lihat, karma tetap berlaku sampai hari ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rajendra
Teen FictionSQUEL dari YOUNG MOM. ☜☆☞ Tawa yang ia nampakkan adalah luka yang ia pendam.
