"Hima? Lo kenapa?" tanya Senja pada Himawari yang sudah kehilangan kesadarannya. Senja bingung sekarang, apakah ia harus menggendong Himawari dan membawanya ke uks? Tapikan mereka bukan mahram, apalagi Senja sangat terikat tentang itu. Tetapi, jika di biarkan di sini kasihan. Ah sudahlah tinggalkan saja, toh ia akan bangun nantinya. Senja membawa suntikan dan sebuah pill itu bersamanya, ia ingin buktikan apakah Himawari ini pecandu atau bukan?
***
Saat pulang sekolah, Senja menunggu Himawari di parkiran, ini sudah hampir magrib tetapi Himawari belum menampakan batang hidungnya. Apa efek obatnya sekuat itu? Jika di pikir-pikir saat Himawari menyuntikan obat itu pada Senja ia bangun kurang lebih sejam setelahnya, itupun saat Himawari menyiramnya dengan air, apa Senja perlu menyiram Himawari pakai air juga?
Senja keluar dari mobilnya untuk membangunkan Himawari, tetapi sepertinya tidak usah karena Himawari sudah keluar dari lantai tiga sembari membawa tasnya, ia terlihat sempoyongan.
"Hima?" panggil Senja, Himawari melihat Senja sekilas dan memijit pelipisnya, Hima menghampiri Senja.
"Apa?" tanya Himawari.
"Kerumah gw?"
"Gak bisa, gw ada janji sama dokter gw," jawab Hima.
"Gw antar?" tanya Senja.
"Gausah gw naik taksi."
"Hima?" panggil Senja lagi. "Lo ... pecandu?" tanya Senja lagi, entah kenapa ada rasa tidak tega dalam diri Senja jika benar Hima adalah seorang pecandu.
"Gw hajar mulut lo boleh gak?"
"Ya enggak, gw mau nanya aja supaya gak salah paham," ujar Senja. Hima terdiam cukup lama sembari menatap Senja, akankah ia ceritakan? Senja bisa dipercaya atau tidak? Mengingat selama ini mereka musuhan.
"Gw ... punya penyakit dan gw butuh penenang," ucap Hima dan berlenggang pergi.
"Tangan lo berdarah kenapa?" tanya Senja yang melihat jari jemari Hima yang sudah diperban.
"Gak apa-apa," jawab Hima dari kejauhan. Senja benar-benar merasa bingung sekarang. Rivalnya ini terlalu misterius, entah apa lagi yang akan ia ketahui tentang Himawari selanjutnya.
***
Himawari baru saja pulang setelah menemui dokternya tadi, baru juga ia melangkahkan kaki di luar rumah, tetapi suara di dalam rumah seakan memaksanya untuk tidak pulang lagi. Himawari memutar knop pintu rumah dan membukanya tanpa ia tahu sebuah vas bunga sedang melayang ke arah pintu dan menabrak kepalanya.
Prakk...
Himawari sedikit kaget saat vas itu pecah tepat di jidatnya, ia sedikit pusing. Kepingan vas itu kemudian berserakan dibawah kakinya. Himawari menatap jengah suasana rumahnya yang kacau balau. Ayahnya yang sempat terdiam kembali bersuara.
"Jangan salahkan saya! Apa-apa yang terjadi semua salah saya! Siapa suruh kamu menikahi saya bukankah waktu itu kamu bersikeras ingin menikah dengan saya?!" bentak ayahnya pada ibunya.
"Harusnya kamu itu sedikit tau diri! Kamu harusnya bekerja bukan berleha-leha seperti ini! Listrik sudah menunggak, uang sekolah Himawari juga belum kamu bayar!" bentak ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rajendra
Teen FictionSQUEL dari YOUNG MOM. ☜☆☞ Tawa yang ia nampakkan adalah luka yang ia pendam.
