3. The battle of the sun

1.5K 214 5
                                        

"Kurang ajar kalian ya!" sarkas Senja pada pria yang baru saja ia tendang. Senja menatap tiga orang yang lainnya lagi.

"Kelas berapa kalian?" tanya Zaki mengintrogasi. Namun, tak mendapat jawaban.

"Jawab!" bentak Zaki yang membuat semuanya kaget, termasuk Senja yang sedang merutuki Zaki di dalam hati.

"K-kelas dua kak," jawab salah satu dari mereka.

"Udah kelas dua ngelunjak kalian? Mau coba jadi kriminal?!" bentak Zaki.

"Enggak kak."

"Ngapain kalian tadi?" tanya Senja selanjutnya. Namun, tak mendapat jawaban dari para adik kelasnya.

"Ngapain kalian masih di sekolah jam segini?" tanya Senja, lagi.

"Ikut bimbel kak." jawab mereka kompak.

"Besok, pagi-pagi jumpai gw. Ngerti?" ucap Senja penuh penekanan.

"Iya, ngerti kak."

"Pulang sono!" ucap Senja yang membuat mereka lari terbirit-birit. Lalu, Senja melihat perempuan itu, saat mengetahui siapa perempuan itu ekspresi Senja berubah seketika. "Lo ngapain malem-malem di sini?!" tanya Senja ketus sembari menjitak kepala yang tertutup hijab itu.

"Aduh!" ringis perempuan itu.

"Loh? Anaknya hokage rupanya, ngapain lu di sini?" tanya Zaki.

"Nama gw Himawari, abang-abang!" ketus perempuan itu dengan tampang datar.

"Gw ketiduran tadi di kelas, sekarang mau pulang. Eh di hadang sama preman gang." jelas Himawari masih dengan tampang datar. Himawari seperti tidak memiliki ekspresi sama sekali, tapi mulutnya sangat rapi saat beradu argumen dengan Senja.

"Tau dia yang jejeritan tadi mah gak gw tolongin," ucap Senja malas.

"siapa juga yang mau di tolongin sama lo?"

"Pulang gih, di cariin ortu tuh." usir Zaki halus. Senja dan Himawari dikenal orang-orang dengan sebutan the battle of the sun. Karena mereka berdua selalu saja adu mulut jika sudah bertemu, kenapa dinamakan the battle of the sun? Karena nama Himawari artinya adalah bunga matahari dan Senja adalah saat dimana matahari terbenam, karena sama-sama berkaitan dengan matahari dari situlah mereka terinspirasi membuat julukan the battle of the sun.

"Ayok gw anter sampe depan?" ajak Zaki yang barjalan duluan diikuti oleh Himawari.

"Anak hokage tapi gak bisa silat, huh." ejek Senja meremehkan.

"Pake pakaian gw deh, trus lo coba silat," ujar Himawari pada Senja. Bagaimana ia bisa melawan jika yang ia kenakan adalah rok?

"Ekspresi lo kemana sih? Di culik wewe gombel? Datar banget tuh muka, pasti pas teriak tadi ga ada ekspresi sama sekali nih anak?"

"Lo kenapa sih gak bisa diem? Lo itu terlalu melengking, banyak omong, kek pelawak?"

"Dimana nyambungnya, War?" tanya Senja usil.

"War-war. Himawari bukan war!" tegas Hima.

"Eh, gw kira Anwar," ucap Senja lalu tertawa. Hima melihat Senja sebentar, mengambil ponselnya dan mengetik nomer rumah sakit jiwa di sana.

"Halo? Ada orang gila di sini," ujar Hima lalu meletakan kembali ponselnya ke dalam tas. Hima melihat ekspresi Senja yang cengo dan itu membuatnya tertawa sedikit. Tawa ejekan lebih tepatnya.

"Apa-apaan lo War!"

"Zaki, temen lo makin gak waras!" Hima mempercepat langkahnya menyusul Zaki.

"Dasar Himawari!" ketus Senja.

"Dasar orang sinting!" balas Himawari yang membuat Zaki tertawa.

"Gw pengen banget ketemu anak hokage. Tapi sekalinya ketemu kenapa model kayak si Anwar gini sih, ngeselin gada imut-imutnya," omel Senja sembari memanyunkan bibirnya.

"Gw bukan anak hokage, Gw Himawari!"

"Huh, Tsundere stadium empat lo! Lo bikin gw marah tapi lo gak pernah nunjukin wajah marah lo, tu muka kek tembok!"

"Tsundere itu kayak La-nina ke El-nino bukan?" tanya Hima.

"Dari dingin ke hangat maksudnya?" tanya Zaki.

"Heem" jawab Hima.

"Dasar anak Geografi!" ketus Senja

"Dasar maniak anime!" balas Hima.

🍊🍊🍊

Setelah pulang dari sekolah, Senja langsung mandi dan makan setelah itu bertemu Alisya sebentar. Sekarang ia sedang mengotak-atik ponselnya di ruang tengah, bersama Lio dan Lia.

"Gimana Lia, kelas barunya?" tanya Senja basa-basi. Pada Adelia yang sedang bermain game dengan Lio.

"Enak." jawab Lia singkat. Lia fokus pada layar ponsel yang miring.

"Lio, minggu depan olahraga bareng ya. Di ruang olahraga papa?" ajak Senja.

"Iya" jawab Lio singkat yang juga sedang fokus pada ponselnya.

"Lia juga ikut olahraga"

"Iya!"

"Yo, besok kan rabu, tugas lo buat nyalain api." setiap rabu malam, mereka sekeluarga berkumpul di luar dan menghabiskan waktu bersama tanpa ada ponsel di tangannya. Mereka juga tidak di perbolehkan bekerja saat itu.

"Iya"

"Kalian dengerin abang gak sih!?" tanya Senja ketus.

"Denger, Senja." jawab mereka kompak. Merasa tidak dipedulikan, Senja bangkit dari sofa dan mengambil kedua ponsel Lia Lio.

"Yah, Senjaaa!" pekik Lia.

"Ck, abang apaan si?" ketus Lio.

"Kalian dengerin apa kata abang gak sih?" ketus Senja.

"Denger kok!" ucap mereka kompak sembari menengadahkan tangan meminta ponsel mereka masing-masing.

"Kenapa ribut-ribut?" tanya Kay yang sudah turun dari tangga menuju dapur.

"Papa, Rajendra ngambil ponsel kami!" adu si kembar kompakan.

"Kenapa?" tanya Kay dari dapur.

"Mereka gak dengerin Senja ngomong pa~" adu Senja sembari menatap remeh si kembar.

"Dengerin apa yag di omongin kakaknya dong, yang akur," ucap Kay yang sudah ada di depan mereka.

"Papa mau ke mana?" tanya Lia saat melihat Kay yang sudah rapi yang mewakili rasa penasaran Lio dan Senja.

"Ketemu kakek, mau ikut?" tanya Kay.

"Enggak, Lia mau main. Ambilin hp Lia dari Senja papaa!" rengek Lia.

"Minta sama Senja." jawab Kay.

"Papa pergi dulu ya, Senja jaga si kembar!" pamit Kayden yang saat berada di ambang pintu.

"Senjaaa~"

"Nih!" Senja kembali menyerahkan masing-masing ponsel adiknya.

"Btw papa ganteng ya, Senja jugaaa kalo bukan kakaknya Lia udah Lia gebet mwehehe!" celetuk Lia.

"Gw?" tanya Lio sambil menunjuk dirinya lucu.

"Lu jelek, muak Lia muak liat muka lu!"

"kalo gw jelek lo juga dong?"

"Ha?"

"Iya kan kita kembar?"

"Oiya, Lio ganteng kok, buktinya Lia catik ahahah!" Lia memeluk kembarannya.

"Dasar." Senja mengaca poni Lia dan beranjak dari sana, meninggalkan si kembar yang sedang bermain bersama.

RajendraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang