beberapa tahun kemudian,
Sasa berjalan sambil menggandeng putrinya, Kia menuju keruang kelas anaknya. Kia berbuat ulah lagi. Sejak Kia masuk sekolah dasar hingga memasuki kelas 6 SD, ulah putrinya semakin jadi. memukuli teman sekelasnya, memarahi gurunya, mengerjai teman kelasnya. Tidak heran semua anak-anak menakutinya.
"Kamu nunggu sini, mama masuk dulu. Mohon jangan buat ulah lagi kalau kamu sayang mama" Pinta Sasa dengan wajah memohon. Melihat sang anak diam ia pun masuk dengan wajah penuh keberanian.
"Anak ibu apa punya kelainan?" Tanya salah satu ibu korban.
"Iya, Kia tidak autis atau aneh kan?" Tanya Ibu sosialita yang sangat membenci Sasa.
"Kadang Kia sering tertawa, sedih dan marah" Ucap Guru dikelas yang sangat mengetahui Kia selama dikelas.
"Anak saya sering menjadi sasaran putrimu yang gila" Teriak seorang ibu yang memeluk putranya yang berbandan gemuk dengan wajah khawatir.
"Saya minta maaf atas kelakuan anak saya yang nakal. Tapi saya tidak terima kalian semua mengatakan putri saya yang tidak-tidak! anak saya lahir dengan keadaan normal dan tidak ada masalah!" Ucap Sasa dengan tegas.
"Jangan membela putrimu, Setiap harinya selalu ada korban! anak-anak kami yang bisa trauma karena pembullyan dari putrimu yang gila!" bentak ibu yang terlihat diam sedari tadi.
Sasa menatap ibu itu dengan tatapan menahan marah.
"Ibu tidak mikir, anak anda yang memulai semuanya? Anda mengatakan anak saya gila? Anak siapa yang menyenggol lebih dulu? Kia terjatuh hingga lututnya bengkak apa saya mempermasalahkannya?" Tanya Sasa dengan nada sangat murka.
BRAK!
Pintu terbuka memperlihatkan Elvin yang datang dengan sangat angkuh.
"Biar aku saja yang menyelesaikannya" Ucap Elvin kepada istrinya.
Elvin seorang dosen yang menaruh anak-anaknya kesekolah ternama dengan pendidikan yang sangat baik. Setidaknya Elvin bisa menyelesaikannya dengan mudah dengan segala kekuatan yang ia punya di dunia pendidikan.
Sasa menghela nafasnya dengan berat saat melihat Kia yang terlihat memasang wajah tersenyum.
"Kamu tidak menyesal atas kelakuan yang kamu lakuin?" Tanya Sasa dengan lembut.
Kia menggelengkan kepalanya lalu tertawa lebar.
"Kia tidak salah, Kia tidak akan membalasnya kalau tidak ada mengganggu Kia" Ucap Kia dengan jujur.
"Mereka mengganggumu?" Tanya Sasa membuat Kia mengangguk. "Apa yang mereka lakuin?" Timpal Sasa yang selalu bertanya tapi tidak mendapatkan jawaban dari putrinya.
Hanya membutuhkan waktu 30 menit, ibu-ibu mulai keluar dari ruangan dengan wajah santai. Wajah Elvin terlihat kesal menatap putrinya. Kia membuang mukanya lalu menarik tangan ibunya pergi dari sana.
Kia memeluk ibunya sambil memejamkan matanya dengan pelan.
"Dengan cara apa kamu menyelesaikannya?" Tanya Sasa dengan suara pelan.
"Aku hanya memberi ibu-ibu fasilitas pendidikan yang baik untuk anak-anak mereka dengan relasi yang ku punya" Ucap Elvin dengan nada terdengan sangat marah.
"Kia home Schooling aja" Ucap Elvin membuat Sasa menolak.
"Anak kita baik-baik aja" Ucap Sasa dengan nada penolakan.
"Aku sudah siapin guru yang bagus untuk Kia, kamu bisa pantau Kia. Jika selama setahun ini kita pantau, semua baik-baik aja. Kita masukan Kia kesekolah lagi" Ucap Elvin dengan keputusan tegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dosen = Suami
Romance[WAJIB FOLLOW DULU! INFO : PART BERMASALAH KARENA MESTI FOLLOW DULU!] Pernikahan bukan hal yang mudah untuk dijalani oleh sepasang manusia yang sama sekali tidak memliki rasa cinta. Pernikahan mereka terlihat terpaksa. Sasa menerima lelaki tua yang...
