Part 20

17.7K 562 24
                                        

Rose merangkul bahu adiknya saat mereka berjalan keluar dari kampus.

"Ngapain kakak disini?" Tanya Sean membuat Rose menggeleng.

"Mau bertemu dengan pak Elvin" Ucap Rose membuat Sean mengangguk.

"Kenapa kakak punya teman seperti pak Elvin, udah dingin cuek jahat lagi" Dumel Sean membuat Rose menggeleng cepat.

"Dia baik" Ucap Rose dnegan senyum penuh lebar mengingat Elvin.

Rose membawa adiknya makan disebuah restoran lalu memainkan ponselnya dengan senyum lebar.

"Kenapa kak?" Tanya Sean membuat Rose menggeleng.

"Makan yang banyak, kakak traktir kali ini" Ucap Rose dengan wajah gembira.

*****

Sasa duduk lorong kamar inap sambil mengigit ibu jarinya dengan wajah banyak pikiran.

"Bagaimana paoa bisa tahu, siapa yang memberi tahunya?" Ucap Sasa dengan suara kecil.

Elvin duduk disebelah Sasa lalu menarik tangannya untuk digenggam.

"Papa kena serangan jantung untung aja tidak terlambat" Ucap Elvin dengan wajah bersyukur.

"Yang tadi kamu bilang itu hm lupakan aja" Ucap Sasa dengan wajah malas.

"Bagain mana" Ucap Elvin dengan nada jahil.

"Lupakan" Elvin mengeratkan genggamannya "Maafkan aku tadi kasar sama kamu"

Sasa menatap Elvin dengan wajah kebingungan.

"Maaf membuat kamu mengira akus elingkuh dengan Yola, aku membiarkannya dirumah mami jarena mami yang membawanya. Aku tidak melantarkannya" Ucap Elvin dengan jujur.

"Kamu tidur dengannyakan?" Tanya Sasa membuat Elvin snagat terkejut hingga membuatnya membeku.

"Aku tahu itu, malam dimana kamu gak ke Villa. Tepat malam itu juga kamu tidur dengan wanita lain" Jelas Sasa membuat Elvin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Semenjak itu aku merasa bersalah bersama kamu" Ucap Elvin dengan wajah kacau.

"Habis papa membaik dan meyakinkan orang tuamu. Kalau kamu gak bisa bersama ku lagi, mungkin aku harus belajar merelakan kamu" Ucap Elvin saat teringat kertas penceraian.

Sasa menggelengkan kepalanya, bukan jawaban ini yang ia mau. Sasa ingin Elvin memohon dan mengejarnya bukan pasarah seperti ini.

Sasa hanya diam lalu membuang mukanya dengan wajah penuh kekecewaan.

"Kamu cinta gak sih sama aku?" Tanya Sasa dengan suara mulai bergetar.

Elvin mengangguk pelan lalumemegang pipi Sasa dengan lembut.

"Hanya kamu yang bisa merasakan perasaan aku kekamu seperti apa" Ucap Elvin dengan suara melemah.

"Aku mencoba melupakan kejadian zinahmu itu, aku mencoba membuangnya" Ucap Sasa seraya meneteskan air matanya.

"Maaf" Ucap Elvin dengan wajah menyesal.

"Menjijikan El" Ucap Sasa dengan nada jijik.

"Maaf, aku hanya  bisa berkata maaf. aku tidak mau membela diriku karena itu terjadi" Ucap Elvin dengan nada menyesal.

"Aku capek El, banyak masalah yang muncul selama aku menikah denganmu" Ucap Sasa dengan suara lelah.

"Disini aku tidak ingin kamu pergi. Di sisi lain kamu menginginkan pergi. aku gak mau egois, akau juga salah disini" Jelas Elvin membuat Sasa mengigit bibir bawahnya dengan kuat.

Dosen = SuamiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang