*Vahingossa (Finland)
→ Read; Mahingossa
→ Arti; Secara tidak sengaja.
.
.
.
.
Pagi tiba. Matahari mulai muncul ke permukaan menyinari kota Cirebon yang semalaman diguyur hujan deras. Terlihat jelas dari jalanan yang masih becek dibeberapa bagian kemudian tetesan air hujan yang menetes dari daun-daun pohon yang berjejer rapi di tepi jalan.
Krieettt~
Seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian olahraga yang melekat di badannya berupa celana training longgar dan kaos hitam terlihat sibuk membuka pintu gerbang sebuah rumah minimalis hanya sepanjang satu meter saja, sengaja dibuka sedikit untuk jalannya dan adiknya.
"Namira" suara beratnya menggema memecah keheningan dipagi hari ini. Dia menolehkan kepalanya ke belakang melihat adiknya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Namira segera keluar dari rumah tersebut dengan bantuan tongkatnya sementara tangan kirinya terlihat terulur ke depan sibuk meraba-raba ke arah depan. Namira berjalan dengan cukup hati-hati menghampiri kakaknya yang sependengarannya berada di dekat gerbang rumahnya. Namira juga memakai pakaian olahraga seperti kakaknya. Ya, memang mereka berniat olahraga di pagi ini, joging sampai ke taman komplek yang umumnya dipenuhi oleh para ibu-ibu yang sedang mengasuh anak mereka atau remaja yang menyempatkan diri untuk olahraga kecil sebelum berangkat sekolah.
"Mas, Tante Vita lagi masak di dalem jadi katanya nggak usah beli sarapan di luar"
Pria itu menganggukkan kepalanya pelan, "iya, tapi nanti di sana jajan apa aja yang kamu mau ya Na, Mas bawa uangnya kok" katanya yang disahuti oleh Namira. Dia kemudian memegang tangan kiri Namira dan berjalan beriringan bersamanya.
Baru juga lima langkah, yang lebih tua tetiba saja menghentikan langkahnya membuat Namira yang notabenenya tangan kirinya dipegang kakaknya ikut menghentikan langkahnya. Namira mengerjapkan matanya kebingungan, "Mas Krisna" Namira menarik-narik tangan kakaknya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Krisna mengatakan padanya untuk segera bergerak dan jangan menjahilinya seperti biasanya. Ya, kakaknya kerap kali menjahilinya dengan trik semacam ini, "Mas jangan jahilin Na---"
"Na, itu mobil siapa?"
Namira mengerutkan keningnya dalam-dalam, "Mobil?"
"Iya mobil"
"Mungkin punya Tante Vita, Mas"
Yang lebih tua menggelengkan kepalanya pelan, "bukan. Mobil Tante Vita warna merah. Yang ini warna putih"
"Eum---Mungkin punya tetangga, Mas" ujar Namira mencoba mengira lagi.
"mungkin, tapi siapa ya? Kenapa dia parkir di depan pagar rumah Tante Vita, terus kayanya..." Krisna menyipitkan matanya melihat ada seseorang yang sepertinya ada di dalam mobil tersebut. "...di dalamnya ada orangnya" cicitnya.
"Ada orangnya? Dia lagi cari alamat ya Mas?"
"Enggak. Dia kaya tiduran gitu"
Namira membulatkan matanya terkejut bukan main, "ya ampun, Mas, jangan-jangan orangnya kenapa-kenapa. Kita ke sana, ya, Mas"
Yang lebih tua menatap Namira keheranan, "nggak usah. Kita langsung ke taman aja"
Namira menggelengkan kepalanya tegas, "Namira nggak mau. Namira mau mastiin dulu kalau orang itu baik-baik aja di dalam mobil itu"
"Namira ngapain perduli sih? Palingan juga orang tidur" katanya acuh.
"Mas, Namira tetep mau ngecek" Namira mendorong tangan kakaknya melepaskan genggaman sang kakak ditangannya, "Namira bisa cek sendiri, kok" kemudian Namira berniat berjalan menuju ke arah mobil itu berada meskipun tidak benar-benar tahu letaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLORS (✓)
Fanfiction(Completed) Local Fanfiction Cast : Gfriend and Seventeen Percintaan | Keluarga | Persaudaraan | Drama COLORS Sinopsis : Kehidupan keluarga Senandika terlihat begitu sempurna meskipun tanpa kehadiran sosok seorang Ibu. Sang Ayah yang notabennya ada...
