Goresan 26 : Bad Clue

260 45 22
                                        

Seorang anak berusia enam tahun berjalan dengan lesu menyusuri area dalam rumahnya sembari menyeret tas ranselnya. Suara gesekan tas ranselnya dengan lantai rumahnya memecah hening di rumah besar tersebut. Meskipun cukup riuh, tapi sepertinya tidak cukup mengganggunya bahkan terkesan diabaikan olehnya.

Begitu sampai di depan kamarnya, dia membuka pintu kamarnya kemudian masuk ke dalam dengan membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar.

Kanaya yang notabenenya terus mengikuti langkah anak majikannya itu seketika menghentikan langkahnya tepat di area ruang makan yang berdekatan dengan kamar tersebut. Dia terlihat menggaruk kepalanya bingung melihat seberapa lesu anak itu hanya karena pulang menaiki taksi.

Ya, hari ini Arsan memang absen menjemput Fabian sehingga mau tidak mau mereka berdua harus pulang menaiki taksi.

Sebenarnya Kanaya dan Fabian sudah menunggu Arsan sejak pukul sepuluh ketika kegiatan belajar-mengajar selesai, paling lambat Arsan akan datang setengah jam setelahnya, tapi sampai jam menunjuk ke angka dua belas siang, tidak terlihat juga batang hidung Arsan bahkan sekolah sudah sepi saat itu, sampai akhirnya seorang guru yang mulanya berniat menuju ke arah parkiran melihat mereka dan bertanya apa alasan mereka masih berada di lingkungan sekolah. Beliau pun memberikan nomor ponsel Arsan setelah mendapatkan penjelasan sederhana dari Kanaya. Saat itu Kanaya segera menghubungi Arsan dan jawaban Arsan setelahnya berhasil membuat Kanaya naik pitam.  Arsan justru bilang kalau dia sedang sibuk di rumah sakit dan tidak bisa menjemput Fabian. Jawaban mengecewakan setelah dua jam mereka menunggu kedatangan Arsan.

Satu yang tidak Kanaya mengerti, kenapa Arsan tidak sedikitpun mengusahakan dirinya untuk menjemput Fabian ditengah kesibukannya itu, karena bagaimanapun juga seorang Ayah apalagi tanpa seorang istri, yah begitulah yang Kanaya simpulkan setelah dia tidak melihat satupun foto pernikahan Arsan di rumah ini ----entah jika di kamar pribadi Arsan bagaimana--- ditambah dengan kejadian di mana Vely dan beberapa wanita yang katanya kerap kali berkunjung ke rumah Arsan,  setidaknya Arsan pasti tahu tabiat dari putra semata wayangnya itu, dan paling tidak dia sadar bahwa tidak menjemput Fabian sama saja menyakiti hati Fabian, dan jangan lupakan fakta bahwa Arsan tidak mengabari Fabian perihal dirinya yang tidak bisa menjemput Fabian. Ayolah---Fabian hanyalah anak kecil berusia enam tahun. Dua jam membiarkannya sendirian di sekolah jelas sangat mungkin membuatnya mengalami sesuatu yang buruk, jika saja tidak ada seorang pengasuh anak bernama Kanaya di sampingnya.

Kanaya mengerutkan keningnya saat tidak melihat keberadaan Fabian. Dia pun melangkahkan kakinya sampai ke bingkai pintu kamar Fabian, dia terlihat melongokkan kepalanya ke dalam. Saat itulah dirinya bisa melihat tas Fabian yang tergeletak di lantai atau tepatnya di dekat tempat tidur Fabian, sementara Fabian sendiri duduk di lantai atau tepatnya di sayap kanan ranjang dengan menyelonjorkan kedua kakinya ke depan sembari memainkan kereta mainannya.

Dalam diam, tentu saja.

"Ngenes banget itu anak" gumam Kanaya menatap prihatin anak berusia enam tahun itu. Yah, meskipun hubungan dirinya dan Fabian hanya sebatas 'pengasuh' dan 'anak yang diasuh' itupun tidak sedekat itu, tapi Kanaya tetaplah seorang wanita, melihat anak kecil bertingkah seperti itu adalah sesuatu yang menurutnya memprihatinkan. Hati kecil Kanaya jadi tergerak untuk sedikit mengeluarkan upaya agar anak itu kembali tersenyum, paling tidak dia tidak benar-benar diam seperti itu. Paling tidak Fabian menikmati segala kesendiriannya. Karena menurut pengamatan Kanaya, Fabian memang pendiam, Fabian juga cenderung lebih sering melakukan semuanya sendirian, tapi Fabian selalu menikmati segala kesendiriannya itu. Tapi karena Arsan, hasil pengamatan itu tidak berlaku di detik ini.

Kanaya melirik jam dinding yang menunjuk ke angka dua belas lebih tiga puluh lima menit. Kanaya ingat Fabian belum makan. Di sekolah tadi, Fabian hanya sibuk menggambar saja mengabaikan dirinya yang terus membujuknya untuk makan, dan seharusnya sepulang sekolah ---jika Arsan menjemputnya tepat waktu--- Arsan akan membuatkan sereal untuk Fabian sebagai pengganti makan siang ---entahlah kenapa Fabian begitu menyukai sereal yang umumnya dikonsumsi ketika sarapan--- kemudian dilanjutkan dengan acara tidur siang Fabian.

COLORS (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang