Goresan 35 : Deepest Side

225 34 4
                                        

Raya berdiri di salah satu lorong yang bersisian langsung dengan area taman sembari memegang sebuah kotak makan. Kotak makan tersebut berisi makanan yang Raya masak sendiri sebelum Raya berangkat bekerja, yang nantinya akan Raya berikan pada sosok yang sedang sibuk membagi-bagikan balon pada pasien anak-anak yang berkumpul di pusat taman rumah sakit.

Ya, karena kebetulan hari ini Raya mendapatkan shift pagi, makannya Raya berinisiatif untuk membuatkan menu makan siang untuk Restu. Beruntung hari ini Restu sudah berada di rumah sakit, kendati teman sesama perawat Raya bilang Restu mendapatkan shift siang hari ini dan kemungkinan Restu baru akan datang ke rumah sakit satu jam kemudian atau bisa dikatakan ketika Raya sedang bertugas.

"Mau warna biru, Om Dokter" ujar salah seorang pasien anak perempuan berambut pendek yang menatap Restu dengan tatapan berbinarnya. Sepertinya benar-benar ingin balon berwarna biru seperti yang temannya dapatkan tadi.

Restu yang mulanya berniat memberikan balon sesuai warna yang diinginkan anak itu, harus mengurungkan niatannya ketika balon yang anak itu mau sudah tidak ada. "Habis Adek manis" ujar Restu yang seketika berhasil membuat raut wajah anak itu murung. Melihatnya memaksa Restu untuk berlutut di depan anak yang tingginya hanya sebatas pinggangnya itu, "Yang ini aja ya, warna kuning, kan sama cerahnya kaya senyuman kamu" ujar Restu disusul senyuman manisnya, berusaha membujuk anak itu dengan balon kuning yang dia miliki agar anak tersebut tidak sedih lagi.

Mendengar pujian yang Restu lontarkan padanya membuat anak tersebut tidak kuasa menahan senyuman manisnya. Ia pun kemudian menganggukkan kepalanya pelan menerima balon yang Restu tawarkan padanya. Balon yang katanya warnanya itu secerah senyumannya.

Restu tersenyum manis kemudian langsung memberikan balon berwarna kuning pada pasien anak-anak tersebut, yang langsung diterima oleh anak tersebut dengan senang hati disusul dengan ucapan terimakasihnya pada Restu.

Tidak kuasa menahan gemas, alhasil Restu mengusak rambut pendek anak itu, sampai sedetik setelahnya Restu sedikit merasa terkejut lantaran melihat banyak helaian rambut yang rontok yang ikut terbawa oleh jari jemarinya. Restu menghela napasnya berat, lalu tanpa perlu melunturkan senyumannya diam-diam Restu memasukkan tangannya ke dalam saku jasnya menyembunyikan sesuatu yang mungkin akan membuat pasien anak dihadapannya merasa sedih. 

Raya yang melihat setiap tindakan Restu di sana pun langsung melemparkan senyuman manisnya. Restu memang bukan sekedar pria yang baik, bukan juga sekedar anak yang baik, tapi dia juga Dokter yang sangat baik. Dia mampu menjaga hati seorang pasien anak-anak dengan sangat baik.

Raya kembali menundukkan kepalanya, lagi-lagi menatap kotak makan ditangannya. Sejujurnya Raya sedikit gugup sekarang, pasalnya bisa dikatakan ini usaha yang Raya lakukan dalam rangka mendekatkan dirinya dengan Restu selepas mereka sepakat untuk saling belajar mencintai sebelumnya. Entahlah, apa yang salah dengan Raya, yang jelas Raya merasa jauh lebih gugup dari biasanya. Padahal kalau dipikir-pikir lagi kejadian saat Raya mengantarkan Ibu Ratih pulang bersama Restu adalah saat di mana Raya bertindak kelewat berani. Dan jelas memberikan sekotak makan siang untuk Restu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tindakan Raya kala itu. Tapi sungguh, Raya tidak berbohong bahwa rasa gugupnya dihari ini jauh lebih kuat dari yang saat itu Raya alami.

Raya menghela napasnya keras, berusaha menghilangkan sisa-sisa rasa gugup dihatinya karena bagaimanapun juga kotak makan dalam genggaman tangan Raya harus sampai pada Restu dan tentu saja satu-satunya cara agar makanan yang Raya buat bisa sampai ke tangan Restu adalah Raya yang harus memberikan makanan ini secara langsung pada Restu.

Dirasa sudah siap, meskipun dibumbui sedikit rasa gugup yang entah kenapa tidak bisa benar-benar hilang dari dirinya, pada akhirnya Raya mulai melangkahkan kakinya menghampiri Restu ke pusat taman.

COLORS (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang