Cacha berjalan beriringan bersama Daniar menuju ke arah di mana mobilnya diparkirkan. Ya, tepat berada di parkiran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Sembari berjalan mereka juga terlibat obrolan ringan selayaknya obrolan yang dilakukan antar teman. Bedanya lantaran pertemanan mereka sudah berada dititik teman yang sangat-sangat dekat atau bisa juga disebut bersahabat alhasil obrolan itu pun terkadang dibumbui oleh ghibah dan juga ejekan secara terang-terangan.
"Cha, Mbak lo gimana keadaannya?" Tanya Daniar membangun obrolan ringan diantara keduanya. Dimulai dengan membahas soal keadaan terbaru dari Melinda---kakak sahabatnya ini---yang dengar-dengar sempat sakit kemarin.
"udah baikan sih. Cuma ya masih tiduran di kamar gitu"
"Gue nggak ngerti kenapa nggak dirawat di rumah sakit aja secara kan maag kronis itu bahaya banget buat kesehatan"
Cacha menganggukkan kepalanya setuju. Meskipun dia tidak paham soal kesehatan tapi Ambar sering bilang kalau sakit yang kakak pertamanya derita sejak dibangku perkuliahan itu memang sangat berbahaya kalau tidak ditangani dengan benar, "Cacha, terus Mbak Raya bahkan Mas Restu juga udah bujuk, tapi Mbak Melnya maunya dirawat di rumah sampe-sampe Kang Haris omelin dia kemarin pas jenguk"
Daniar ber'oh ria, "oh jadi keinginan kakak lo. Eh ngomongin soal Kang Haris, dia itu yang waktu itu ada di rumah lo ya, Cha? Yang iniloh... Ck... Itu..." Daniar menepuk-nepuk pelan pahanya saat dia tidak benar-benar mengingat soal Haris, tapi Daniar ingat betul kalau dia pernah melihat wajah Haris meski hanya sekilas.
"Itu apa?" Tanya Cacha santai.
"Ituloh... Yang... Apasih kerjaan kakak lo?"
"Guru" jawab Cacha tanpa hambatan.
Daniar menjentikkan jarinya keras pertanda bahwa dia sangat puas, "nah iya guru. Anjir gue ngomong guru aja bingung ba---"
Plak!
"---aduh!" Daniar memegangi bibirnya yang terasa perih saat Cacha seenak jidat menampar bibirnya, dengan keras pula. "Aakhhh, sakit Cha" rengek Daniar sembari menatap memelas ke arah Cacha.
Cacha yang menjadi pelaku penamparan terlihat santai-santai saja. Menurutnya Cacha sah-sah saja menampar bibir Daniar setelah Daniar berkata seenaknya tadi, "nggak boleh ngumpat gitu tau, kata Ayah Cacha nggak baik"
"Ya itukan kata Ayah lo bukan kata bapak gue. Bapak gue aja bebas, nggak pernah tuh larang-larang gue"
"Ya makannya Cacha yang larang Daniar. Siapa tau aja Bapaknya Daniar lupa larang Daniar buat jaga ucapannya" ujar Cacha disusul dengan dia yang menunjuk wajah Daniar penuh peringatan.
Daniar menggembungkan pipinya kesal karena dia kalah berdebat dengan Cacha. Pada akhirnya Daniar pun hanya menganggukkan kepalanya patuh.
Bersahabat lama membuat mereka bertiga sering sekali berkunjung ke rumah mereka satu sama lain. Tapi kalau ditanya siapa yang paling sering sih sudah pasti Daniar dan Cacha, terlebih sejak mereka masuk ke dalam jurusan yang sama ketika menginjak bangku perkuliahan. Sejak saat itu berkunjung ke rumah satu sama lain bukan sekedar ingin bermain semata tapi juga tuntutan tugas kuliah. Baik Cacha maupun Daniar merasa bersyukur ketika mereka masuk ke dalam jurusan yang sama, selain jadwal mereka yang juga delapan puluh persen pasti sama, mereka juga memiliki kesempatan yang jauh lebih banyak untuk bertemu ketimbang dengan Alka.
Meskipun pada dasarnya itu Alka bersahabat baik dengan mereka, Alka tetap saja seorang pria yang membutuhkan waktu bersosialisasi bersama para pria ditambah oleh jurusan yang Alka pilih sekarang, membuat Alka mau tidak mau hanya memiliki waktu seadanya untuk bisa bertemu dua sahabat cerewetnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLORS (✓)
Fanfiction(Completed) Local Fanfiction Cast : Gfriend and Seventeen Percintaan | Keluarga | Persaudaraan | Drama COLORS Sinopsis : Kehidupan keluarga Senandika terlihat begitu sempurna meskipun tanpa kehadiran sosok seorang Ibu. Sang Ayah yang notabennya ada...
