Goresan 12 : Something Unexpected

334 43 3
                                        

Ambar melirik jam dinding di ruangannya yang merujuk ke angka setengah tiga. Lagi Ambar mendesah kecewa untuk yang kesekian kalinya sejak tiga puluh menit yang lalu. Penyebabnya adalah karena jarum jam itu yang seolah tidak bergerak cepat ke arah jam tiga saja.

Ambar menjatuhkan dagunya ke atas punggung tangannya yang tergeletak bertumpuk di atas meja sambil sesekali melirik pintu ruangannya berharap Restu segera mengetuk pintu itu dan mengajaknya pergi ke rumah Fio. Ya, rumah Fio adalah tempat berlangsungnya acara pertunangan Fio dan calon tunangannya itu.

Sebenarnya Ambar sudah tidak ada janji dengan pasien sampai jam bekerjanya tuntas. Maunya sih langsung menghubungi Restu dan mengajaknya pergi lebih awal saja dari waktu janjian mereka, tapi masalahnya Restu tidak bisa semudah itu pergi sebab Restu adalah salah satu dokter jaga di ruang UGD yang harus selalu siap sedia kalau-kalau ada pasien yang tiba-tiba masuk UGD dan butuh pertolongan pertama. Kedatangan pasien Restu itu tidak terjadwal, berbeda dengan Ambar yang biasanya antara dirinya dan pasiennya akan membuat janji terlebih dahulu.

Ting!

Ambar tersentak terkejut mendengar suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Dengan malas Ambar mengulurkan tangan kanannya sampai bisa menggapai ponselnya yang tergeletak di hadapannya.  Ambar pun segera menggerakkan jarinya mengetuk lambang ikon apl pesan yang baru masuk ke ponselnya. Pesan itu di kirimkan oleh Kirana, sesuatu yang sebenarnya jarang terjadi. Seingat Ambar kakak Restu itu lebih suka menghubunginya langsung atau berbicara langsung saja dibanding mengirimkan pesan seperti itu.

Mbak Kiran
Buruan dandan yang cantik Mbar.
/14:32/

"Kenapa Mbak Kiran suruh aku dandan?" gumam Ambar penuh tanda tanya.

Ting!

Pesan kembali masuk. Ambar pun kembali membaca pesan selanjutnya yang masuk, yang ini pun sama-sama dari Kirana.

Mbak Kiran
Restu lagi jalan ke ruangan kamu loh.
/14:33/

Ambar membuka mulutnya lebar-lebar saat membaca pesan selanjutnya yang dikirim oleh Kirana. Tanpa basa-basi lagi Ambar pun segera mengeluarkan beberapa alat make-up nya yang sengaja dia bawa yang dia simpan di dalam tasnya. Tidak banyak, hanya bedak dan juga lipstik saja. Lagi pula Ambar sudah cantik, polesan sedikit saja sudah cukup.

Ambar mematut dirinya di depan kaca yang berada satu paket dengan wadah bedaknya. Dia kemudian memoleskan bedak di wajahnya baru setelah itu dia mengambil lipstiknya yang tergeletak di atas meja lantas segera mengoleskannya ke bibirnya.

Dahi Ambar mengernyit dalam saat dia merasa warna bibirnya menjadi terlalu merah setelah dioles lipstik tadi. sungguh, warna lipstik itu teramat terang seperti warna lipstik yang kerap kali digunakan oleh ibu-ibu.

Ambar menatap lipstik di tangannya lalu dia berdecak sebal, "kenapa ambil lipstik yang ini sih? Ini mah punyanya Mbak Mel" gerutu Ambar sudah tahu betul siapa pemilik lipstik seterang ini. Tentu saja Melinda. Entahlah kenapa Melinda menyukai warna lipstik semerah ini, bisa jadi salah satu cara untuk menggaet Haris sampai suka padanya. 

Oke, itu hanya pikiran absurd Ambar saja karena dirinya kesal salah mengambil lipstik. Tolong maafkan adikmu ini Melinda.

Ambar pun mengambil tisu kemudian segera melap bibirnya dengan sangat hati-hati takut-takut malah merusak riasan wajahnya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu terdengar. Ambar menghentikan kegiatannya lantas menatap pintu ruangannya horor. "Siapa?" Tanya Ambar takut-takut kalau itu adalah Restu.

"Ini saya Restu" jawab Restu dari luar.

'Haduh beneran Restu ternyata' batin Ambar. Seketika Ambar berubah panik bukan main. Ambar kan tidak mau Restu sampai tahu kalau dirinya dandan berlebihan seperti ini. Ambar pun segera memasukkan dua benda itu ke dalam tasnya yang menggantung di stand hanger yang terletak di sisi kanannya bersamaan dengan Restu yang membuka pintu dari luar.

COLORS (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang