Goresan 37 : One Truth

236 42 10
                                        

Arsan menaruh dua kantung plastik putih yang berisi bahan makanan yang baru dirinya beli bersama Kanaya ke atas meja dapur. Dia terlihat melepaskan sweater berwarna abu-abu dari badannya seraya melirik Kanaya yang berdiri di dekat area ruang makan. Dia terlihat sibuk dengan ponselnya di sana.

Arsan kemudian berjalan menghampiri Kanaya, dia terlihat menaruh sweaternya ke atas puncak kursi, menyisakan kaos putih berlengan pendek yang membalut tubuhnya. "Habis ini apa?" Tanya Arsan pada Kanaya.

Kanaya pun langsung mendongakkan kepalanya terkejut saat tiba-tiba Arsan mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya. Begitu melirik ke arah Arsan, Kanaya bisa melihat Arsan yang menatapnya dengan tatapan menuntutnya, menuntut Kanaya untuk segera menjawab pertanyaannya. Kanaya tampak menggaruk kepalanya pelan lalu memberanikan diri untuk menanggapi Arsan, "Habis ini... Eung---Mas, istirahat dulu aja lah karena pasti capek kan habis belanja ke supermarket" katanya disusul cengiran lebarnya.

"Enggak" tolak Arsan dengan tegas yang seketika berhasil membuat raut wajah Kanaya berubah kecewa, "Udah cepet ajarin saya masak" ujar Arsan tegas, tanpa terima bantahan. Arsan pun membalikkan badannya lantas berjalan menuju ke arah dapur.

Sementara Kanaya langsung menepuk jidatnya sembari merutuki Arsan yang tidak mau menunggu sejenak, "mampus nih. Gue kan nggak bisa masak..." Kanaya pun kembali menatap layar ponselnya dan kembali berusaha menghubungi Raya, seperti usahanya sejak beberapa menit yang lalu. "...Ayo dong Teh, angkat, Kanaya butuh resep masakan nih" rengek Kanaya. Ya, tujuan Kanaya menghubungi Raya adalah agar dia bisa meminta resep menu makanan untuk ssarapan yang enak yang mudah dimasak oleh Arsan dan dirinya. Kanaya tidak mungkin secara terang-terangan mengaku bahwa dia tidak bisa memasak sama sekali pada Arsan, bisa-bisa Arsan mengamuk padanya. Apalagi setelah mereka bersusah-payah membeli bahan makanan yang sejujurnya hanya dipilih secara asal saja oleh Kanaya. Dan Arsan yang tidak tahu apa-apa hanya menjadi orang yang membantu membawa keranjang belanja dan bersiap membayar di meja kasir. Tanpa curiga sama sekali.

Mendengar gumaman Kanaya membuat Arsan menghentikan langkahnya seketika. Dia membalikkan badannya dan melihat Kanaya yang kini terlihat panik sembari berusaha menghubungi seseorang yang dia panggil Teteh tadi. Arsan menghela napasnya berat sembari menatap datar Kanaya, "ternyata kamu bener-bener nggak ada bakat masak ya" ujar Arsan penuh penekanan yang seketika membuat Kanaya tersentak terkejut.

Kanaya pun mematikan ponselnya kemudian menoleh ke arah Arsan dengan tatapan penuh rasa bersalah bercampur bersama rasa malu. "Ya maaf Mas. Bisanya hias makanan" kata Kanaya disusul cengiran lebarnya.

"Apa yang mau dihias kalau belum masak makanannya?" Bentak Arsan yang membuat Kanaya mengelus dadanya berusaha sabar menghadapi majikannya yang naik pitam karena sejak awal Kanaya tidak jujur saja pada Arsan.

Perlahan Kanaya menundukkan kepalanya sembari menatap ponselnya cukup lama. Sampai kemudian tiba-tiba saja tercetus ide yang datang secepat kilat ke kepalanya. Kanaya pun langsung mengangkat ponselnya ke udara, "gimana kalau cari tutorial masak di YouTube aja ya Mas. Biar kita sama-sama belajar. Iya kan?"

Arsan mendengus sebal saat mendengar ucapan Kanaya. Kalau tahu begitu untuk apa Arsan sampai menjatuhkan harga dirinya untuk meminta Kanaya menginap, mengantarkannya ke supermarket dan mengajarinya masak kalau ujung-ujungnya Arsan juga yang harus belajar sendiri. "Ya udah, sini handphone kamu" ujar Arsan seraya mengulurkan tangannya ke hadapan Kanaya.

Alih-alih memberikan ponselnya pada Arsan, Kanaya justru memeluk ponselnya penuh sayang, "Jangan dong Mas. Nanti kuota gue habis. Punya Mas aja" ujar Kanaya disusul cengiran lebarnya. 

COLORS (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang