Goresan 29 : Opinion

229 38 5
                                        

Opinion
- Pendapat, Anggapan
- (n') pandangan atau penilaian yang terbentuk tentang sesuatu, tidak harus berdasarkan fakta atau pengetahuan.

.
.
.
.

Ayah Senan yang notabennya duduk di ujung meja makan terus menyunggingkan senyuman manisnya. Merasa senang bukan main. Pasalnya di acara makan malam kali ini dia bisa kembali melihat seluruh putrinya bergabung dimeja makan. Padahal di hari-hari sebelumnya, jika bukan dirinya yang tidak bisa bergabung, maka salah satu dari putrinya lah yang tidak bisa bergabung. Wajar memang, sebab bukan sekedar Ayah Senan saja yang disibukkan dengan pekerjaannya, putri-putrinya pun begitu terkecuali Cacha yang biasanya disibukkan dengan tugas kuliahnya sampai harus menginap di rumah Daniar dan absen dari kegiatan makan malam.

Meskipun Cacha meng-klaim bahwa makan malam bersama keluarga adalah salah satu rutinitas yang wajib dilakukan, namun semakin beranjak dewasa ada kalanya Cacha harus mengakui bahwa dirinya tidak bisa selalu melaksanakan kewajibannya tersebut. Meskipun sesekali mendapatkan ejekan dari Ambar, sejujurnya semua kakak Cacha ditambah sang Ayah jelas bisa memahami segala kesibukan Cacha. Lagipula masa-masa perkuliahan bukan hanya dirasakan oleh Cacha saja, ketiga kakaknya serta Ayah Senan jelas pernah merasakannya juga. Bagaimana rutinitas wajib sesederhana makan pun bisa saja tertunda bahkan terlupakan karena tuntutan tugas kuliah yang meminta segera diselesaikan.

Kembali ke situasi di meja makan.

Di area sayap kanan meja diisi oleh Sita, Ambar dan Melinda lalu di sisi kirinya atau tepat diseberang kursi yang tiga wanita itu duduki, diisi oleh Kanaya, Raya dan Cacha. Formasi duduk mereka sekarang ini memang persis seperti saat Raya dan Kanaya pertama kali bergabung dimeja makan dua Minggu silam.

Di atas meja tersaji berbagai lauk  untuk menu makan malam mereka yang dibawa Melinda. Katanya hasil kegiatan masak-masaknya dengan Ibu Haris sore tadi.

Ya, sore tadi Melinda memang menyempatkan diri untuk ikut Haris berkunjung ke rumah orangtuanya bertepatan dengan Ibu Haris yang ternyata sedang memasak kala itu, Melinda pun tidak segan membantu Ibu Haris kemudian saat pamit pulang, Ibu Haris sengaja membawakan hasil masakan mereka untuk Melinda dalam porsi yang cukup banyak. Beliau memang tahu betul bahwa anggota keluarga Melinda memang banyak.

Ngomong-ngomong kegiatan berkunjung ke rumah orangtua Haris  merupakan kegiatan rutin yang dilakukan Haris di akhir bulan. Sebenarnya, itu adalah syarat dari Ibunya ketika Haris meminta izin untuk hidup mandiri. Awalnya syarat yang diajukan adalah berkunjung seminggu sekali ke rumah, Haris menyetujuinya dengan mudah mengingat sekolah pasti libur di hari weekend. Lalu semakin berganti tahun syarat itu seolah berubah mengikuti kenaikan intensitas kesibukan seorang Haris apalagi dengan jabatan baru yang dia dapatkan. Yang mulanya seminggu sekali berubah menjadi minimal satu bulan sekali, dan biasanya jatuh pada akhir bulan. Meskipun kalau ada waktu senggang pun Haris tidak segan datang ke rumah Ibunya tanpa menunggu akhir bulan. Lagipula tidak ada batas maksimum kan.

Semenjak Haris menjalin hubungan dengan Melinda, memang dia kerap kali mengajak Melinda untuk ikut berkunjung, lalu ibarat rutinitas di akhir bulan yang begitu seru, Melinda akan dengan senang hati mengiyakan ajakan Haris. Pun terkadang dirinya yang malah meminta ikut pada Haris. Tidak heran rasanya, jika pada akhirnya hubungan calon mertua dengan calon menantu itu jadi kelewat akrab.

Terkadang Haris yang notabennya sudah hidup mandiri di rumah sederhananya seolah dianaktirikan oleh Ibunya sendiri ketika dia berkunjung ke rumah orangtuanya dengan membawa Melinda seperti sore tadi. Perumpamaan itu terjadi lantaran Ibu Haris yang akan asik sendiri dengan Melinda. Entah melakukan kegiatan berdua, atau sekedar mengobrol panjang lebar membicarakan tentang kesehariannya, kabarnya dan kabar keluarga Melinda, hubungannya dengan Haris dan banyak hal lainnya. Untungnya Haris bukan tipikal anak yang mudah cemburu, apalagi lantaran atensi Ibunya benar-benar tertuju pada calon istrinya. Haris justru merasa bersyukur, sangat bersyukur, karena sikap Ibunya seolah memutus rantai opini bahwa kebanyakan mertua itu jahat katanya.

COLORS (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang