Goresan 22 : Affection

237 52 13
                                        

19:42 WIB.

Waktu makan malam tiba. Meja makan sudah terisi penuh oleh makanan yang dimasak oleh Melinda.

Kali ini Melinda memasakkan lauk yang disukai oleh adik-adiknya seperti Cacha yang menyukai ayam goreng, Ambar yang menyukai tumis kangkung dan Sita yang menyukai tempe goreng. Makan malam yang sederhana untuk seukuran orang berada seperti mereka, tapi apa mau dikata kalau mereka---ketiga adik Melinda---memang menyukai makanan khas pedesaan seperti itu. Selain makanan kesukaan mereka, Melinda juga sengaja membuat sup ayam yang mana merupakan lauk kesukaan Ayahnya meskipun makan malam kali ini Ayah tidak bergabung di meja makan karena katanya beliau ingin berkunjung ke rumah salah satu 'kawan baiknya' selepas mengajar.

Sampai detik ini Melinda tidak tahu pasti siapa 'kawan baik' yang Ayahnya maksud. Tapi yang jelas Ayahnya pergi berkunjung ke rumah 'kawan baik-nya' itu hanya ketika beliau sedang dilanda masalah saja, setidaknya begitulah dugaan Melinda setelah dia mengamatinya hampir bertahun-tahun lamanya. Ya, kejadian seperti ini bukan setahun dua tahun terjadi malah sejak Maminya masih ada.

Awalnya Melinda mengira sosok 'kawan baik' yang Ayahnya maksud adalah Ayah Hendra, mengingat Ayahnya memang cukup dekat dengan beliau. Bahkan saking penasarannya pernah satu ketika Melinda menghubungi Ayah Hendra---selepas Ayahnya lebih dulu memberi kabar kalau beliau akan pulang terlambat untuk berkunjung ke rumah 'kawan baiknya' seperti yang terjadi saat ini---untuk membuktikan apakah Ayahnya sedang bersama beliau atau tidak, tapi beliau dengan jujur mengatakan kalau Ayahnya tidak ada di sana. Pernyataan itu sudah jelas menegaskan bahwa 'kawan baik' Ayahnya yang Ayahnya maksud bukanlah Ayah Hendra.

Lalu tahun berganti tahun, Melinda tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Alhasil dia bertanya langsung pada Sang Ayah dan Sang Ayah hanya menunjukkan sebuah foto ketika dirinya di wisuda bersama seorang pria yang tampan, tidak lebih tinggi dari Ayahnya tapi beliau terlihat begitu tegas. Saat itu Ayahnya menceritakan sedikit perihal sosok yang sedang bersama dengannya saat itu. Minus memberitahukan padanya perihal namanya.

Katanya, beliau adalah teman seperjuangannya sejak kuliah sampai akhirnya mereka mendapatkan gelar dokter bersama, lalu kemudian mereka sama-sama berkarir di dunia kedokteran. Hanya saja sampai detik ini beliau masih menjadi dokter sementara Ayahnya memutuskan untuk melebarkan sayapnya ke dunia perdosenan.

Sebab dugaannya itu juga, ketika sore tadi Ayahnya mengirim pesan mengabarkan Melinda bahwa beliau ingin berkunjung ke rumah 'kawan baiknya'---lagi, Melinda akhirnya menghubungi balik Sang Ayah. Bertanya pada beliau, apakah beliau mempunyai masalah yang berat atau tidak. Karena jujur sebagai seorang anak yang sudah dewasa Melinda rasa dia bisa menjadi wadah keluh kesah Ayahnya, mungkin membantu Ayahnya atau paling tidak dengan Melinda tahu apa yang terjadi pada Ayahnya---terlepas dari dugaannya benar atau tidak---bisa sedikit mengurangi kekhawatirannya. Tapi saat itu Ayahnya hanya tertawa pelan dengan suara khasnya dan beliau hanya mengatakan kalau beliau 'baik-baik saja dan hanya rindu mengobrol santai dengan kawan baiknya'. Karena itu Melinda rasa dia tidak punya kata lagi untuk memancing apalagi memaksa Ayahnya agar membenarkan dugaannya. Mungkin saja memang itu yang sebenarnya terjadi. Dan karenanya juga Melinda berusaha untuk tidak terlalu khawatir.

Oke, kembali ke situasi di meja makan.

Kendati Ayahnya tidak ikut makan malam bersama, Melinda tetap membuat makanan favorit Ayahnya, bukan untuk Ayahnya tentu saja, Melinda membuatnya untuk adik-adiknya dan juga Raya. Sup ayam agaknya makanan yang pas dikonsumsi ketika sedang hujan deras begini. Menghangatkan badan. Itulah tujuan utama Melinda.

Terlepas dari betapa sempurnanya menu makan malam kali ini. Melinda tetap merasa kalau makan malam kali ini terasa berbeda. Yang pada akhirnya membuatnya hanya terdiam mematung di atas kursi makan menghadap ke arah lorong di mana kamarnya, kamar Cacha, kamar Raya dan kamar Ayahnya berjejer di sana.

COLORS (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang