Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang memasuki area parkir mobil kawasan FKIP. Cacha selaku pemilik mobil segera keluar dari mobilnya setelah memastikan kalau mobilnya sudah terparkir dengan benar. Dia kemudian berlari dengan tergesa-gesa bak seorang mahasiswi yang datang terlambat. Alih-alih menuju ke kelas, Cacha malah berlari menuju ke depan pintu gerbang FKIP sembari memeluk tas ranselnya yang berwarna kuning cerah dengan hiasan bunga matahari di sekelilingnya. Sangat menyilaukan mata memang, ibarat matahari kedua di pagi yang terasa sedikit lembab hasil dari sisa-sisa hujan deras semalam.
Ngomong-ngomong tas ransel itu adalah kado dari Sita atas request dari Cacha ketika Cacha ulangtahun yang ke sembilan belas tahun. Kado yang sejujurnya buah dari sebuah aturan mutlak yang Cacha canangkan sejak lulus sekolah dasar. Bahwasanya, setiap tahunnya, akan ada masanya di mana Cacha harus diperlakukan bak seorang ratu meskipun kenyataannya sejak dalam kandungan Cacha itu sudah diperlakukan bak seorang ratu oleh Ayah dan Maminya juga Melinda selaku anak perempuan yang paling besar kala itu, tidak seperti Ambar dan Sita yang ketika Cacha masih di dalam kandungan Maminya mereka berdua belum genap berusia lima tahun dan pekerjaan tetap sehari-hari mereka adalah ribut. Cacha juga yakin kalau kebiasaan mereka sedari kecil itu tidak pernah hilang sampai detik ini, meskipun dalam beberapa kesempatan mereka terlihat akrab.
Kembali lagi ke aturan mutlak yang Cacha buat.
Cacha selaku anak bungsu di keluarga Senandika juga ingin merasakan sesuatu yang berbeda, di mana dua kakak kembarnya yang terkenal jutek dan galak itu bisa juga memperlakukannya bak seorang ratu sebab dua kakak kembarnya cenderung tidak perduli padanya dan sibuk pada dunia mereka masing-masing, dan ya Cacha mencoba agar keinginannya bisa terealisasikan dengan cara membuat aturan mutlak itu sendiri. Dan terbukti hasilnya memuaskan.
Lantas apa kiranya aturan mutlak yang Cacha buat?
Sederhana sebenarnya. Seminggu sebelum Cacha ulangtahun, Cacha akan membuat daftar request yang isinya itu adalah kado yang Cacha inginkan yang harus dibelikan oleh para kakak-kakak tersayangnya, khusus untuk Ayah dan Maminya ---yang masih ada kala itu, Cacha tidak memberlakukan aturan mutlak tersebut. Ayah dan Maminya bebas memberikan Cacha apapun, bahkan bagi Cacha pelukan dari Sang Ayah dan Maminya saja sudah cukup. Jelas, aturan ini benar-benar diperuntukkan untuk kakak-kakak Cacha saja. Jika ada yang melanggar, maka Cacha akan secara otomatis menerornya dengan cara mengirim pesan sampai berpuluh-puluh kali, merengek sampai membuat telinga sakit dan yang paling parah mengadu pada Sang Ayah dengan alasan yang dilebih-lebihkan. Setidaknya itulah yang Cacha lakukan saat dia masih di bangku sekolah, agak berbeda kasus ketika dia sudah menginjak bangku perkuliahan. Cacha tidak akan langsung mengadu pada Ayahnya, paling banter ya hanya meneror kakak-kakaknya saja.
Dan kakak-kakak Cacha yang sudah paham betul dengan aturan mutlak yang Cacha buat tersebut akan langsung memberikan kado sesuai dengan apa yang Cacha inginkan.
Bukan semata-mata hanya karena mereka takut dengan konsekuensi yang mereka dapat apabila tidak mengabulkan permintaan Cacha. Melainkan karena sebenarnya mereka sayang sekali pada Cacha, termasuk Si Kembar.
Yah, meskipun Si Kembar alias Sita dan Ambar itu memang cenderung cuek bahkan tidak terlihat menyukai Cacha, tapi sejujurnya mereka sangat menyayangi Cacha, tapi mungkin dengan cara mereka sendiri. Buktinya, di luar aturan mutlak yang Cacha buat, jika itu berurusan dengan Cacha pun, Sita akan menjadi pribadi yang mendadak baik hati bak seorang Ibu peri yang akan mengabulkan apapun permintaan orang berhati baik ---dalam kasus ini adalah Cacha. Sampai-sampai Ambar tidak habis pikir kenapa Sita selalu mengabulkan permintaan Cacha.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLORS (✓)
Fanfic(Completed) Local Fanfiction Cast : Gfriend and Seventeen Percintaan | Keluarga | Persaudaraan | Drama COLORS Sinopsis : Kehidupan keluarga Senandika terlihat begitu sempurna meskipun tanpa kehadiran sosok seorang Ibu. Sang Ayah yang notabennya ada...
