Goresan 50 : (Sudut Pandang) Memory

271 38 7
                                        

(n) sesuatu yang diingat dari masa lalu;  sebuah ingatan.

.
.
.

Cacha bergabung di ruang makan tepat setelah dia mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih hangat. Cacha sengaja tidak mandi karena Ambar bilang dia sempat demam sebelumnya, takutnya kalau hari ini Cacha memaksakan diri untuk mandi dia bisa terserang demam kembali. Tidak, Cacha tidak suka demam.

Srett!

Derit kaki-kaki kursi menggema kala Cacha menarik salah satu kursi di ruang makan kemudian mendudukkan dirinya di sana. Sementara kedua matanya sibuk menjelajahi area disekitarnya yang hanya diisi oleh Raya dan Ambar yang sibuk bolak balik dapur dan ruang makan untuk menaruh menu makanan dan minuman untuk sarapan mereka hari ini ke atas meja makan. Sementara kursi-kursi lain yang tersedia di meja makan masih dalam keadaan kosong. Aneh, kemana keluarganya yang lain. Tidak biasanya ruang makan sesepi ini terlebih hari ini adalah jam-jam mereka biasanya sarapan bersama.

"Mbak" panggil Cacha dengan suara pelannya.

Ambar dan Raya pun kompakan menoleh ke arah sumber suara lantas menemukan Cacha yang baru saja duduk di salah satu kursi tengah menatap mereka dengan kedua mata sembabnya. Ya, sekalipun Cacha tidak bisa mengingat dengan jelas kejadian saat traumanya benar-benar menguasai diri Cacha tapi tetap saja jejak fisik tidak serta merta menghilang begitu saja. Luka di tangan Cacha masih ada dan kelopak mata Cacha masih sembab efek dari Cacha yang menangis terlalu lama karena traumanya. Dan mungkin di dalam tubuh Cacha pun ada perasaan lelah dan juga tidak nyaman yang tidak bisa benar-benar Cacha mengerti karena memorinya yang terhenti sebelum trauma menguasai dirinya.

"Cacha sarapan dulu ya" ujar Raya disertai dengan senyuman manisnya. Dia langsung menaruh piring kosong ke hadapan Cacha kemudian menyajikan nasi goreng buatannya dan Ambar ke atas piring tersebut. Baru setelahnya, Raya mendudukkan dirinya di atas kursi yang terletak di sisi kursi yang Cacha duduki. Sementara Ambar menyempatkan diri untuk menaruh segelas susu ke hadapan Cacha terlebih dahulu sebelum dia mendudukkan dirinya di atas kursi yang terletak di seberang Cacha dan mulai sibuk dengan kegiatan sarapannya.

"Diminum dulu Cha susunya terus makan nasi gorengnya" ucap Ambar disela kunyahannya ketika melihat Cacha yang hanya fokus menatap ke arah Ambar dengan tatapan bingungnya. Ambar tidak tahu apa yang sedang Cacha pikirkan sekarang, tapi mengingat kejadian seperti ini sudah sering terjadi selepas trauma Cacha kambuh, rasanya tidak mengejutkan bagi Ambar. Meskipun jauh di dalam lubuk hati Ambar yang paling dalam, ada perasaan iba melihat Cacha selalu mengalami fase linglung seperti itu.

Cacha menganggukkan kepalanya pelan. Dia pun berniat mengulurkan tangannya ke depan mengambil susunya yang tumbenan sekali dibuat oleh Ambar, bukan Melinda seperti biasanya, sebelum niatannya urung seketika saat Cacha kembali menyadari bahwa bangku lainnya masih dalam keadaan kosong. Dan entah kenapa suasana di ruang makan kali ini terasa lebih sepi dari biasanya karena hanya diisi oleh mereka bertiga. Jujur Cacha kurang begitu menyukai suasana seperti ini.

"Ayah, Mbak Wiwit, Mbak Kanaya sama Mbak Mel kemana, Mbak?" Tanya Cacha yang seketika berhasil menghentikan kegiatan sarapan Raya dan Ambar.

Ambar tampak berdeham sejenak mengusir suasana aneh yang melingkupi mereka, "Mbak Wiwit ada kok di atas" ucap Ambar seadanya sembari menunjuk ke area kamar Sita berada.

"Kalau yang lain?" Tanya Cacha lagi sembari mengerjapkan kelopak matanya penuh kebingungan.

Ambar terdiam membeku seketika, tampak kebingungan harus bagaimana menjawab pertanyaan Cacha. Ambar pun menggulirkan bola matanya ke atas, melirik ke arah Raya yang duduk di seberang sana, seolah tengah meminta bantuan pada Raya.

COLORS (✓)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang