Notif masuk nggak?
Please jawab aku karna aku penasaran 😭
Happy reading!
.
.
.
.
Dulu semua dikerjakan oleh yang tertua di rumah ini.
Siapa lagi kalau bukan Melinda.
Salah satunya adalah Melinda selalu bangun pagi-pagi sekali untuk membangunkan adik-adiknya setelah itu dia baru membuatkan menu sarapan untuk mereka sebelum dirinya bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
Melinda adalah salah satu tenaga pendidik di sekolah menengah atas sejak empat tahun lalu, fokusnya adalah mengajar mata pelajaran sosiologi. Dan sejak setahun yang lalu dia dipercaya menjadi wali kelas dua belas IPS-2. Pekerjaannya tentu saja membuat Melinda harus selalu berangkat pagi-pagi.
Meskipun begitu Melinda selalu menyempatkan diri untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya atau sebut saja rutinitasnya yang kini dia anggap sebagai kewajibannya ketika di rumah.
Semuanya berjalan dengan baik bahkan sampai adik-adiknya lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan juga sampai Cacha lulus SMA dan masuk perguruan tinggi.
Ada kalanya Melinda menganggap kalau kehadirannya menjadi yang tertua di rumah ini adalah sebuah anugerah untuk keluarganya. Menjadikan sosok ibu untuk adik-adiknya juga sosok anak yang baik untuk Ayahnya. Tapi sepertinya anggapan itu berubah sejak dia memiliki kembaran beda ibu yang hadir di rumah ini.
Dia bukan lagi disebut yang tertua. Ada Raya sekarang.
Rutinitasnya adalah rutinitas yang ternyata dikerjakan juga oleh Raya. Raya sebagai yang tertua bagi Kanaya seperti sebuah cermin bagi Melinda.
Melinda menyadari itu, bahwa apa yang dia lakukan selama beberapa tahun belakangan ini hanyalah hal umum yang kerap kali dilakukan oleh seorang Kakak kepada adiknya. Bahkan Raya jauh lebih mandiri dari dirinya.
Hal inilah yang membuat Melinda mulai merasa kalau dunianya seolah dibolak-balikkan oleh kehadiran Raya.
Dia mulai merasa kalau apa yang dia lakukan, apa yang dia banggakan adalah sesuatu yang tidak seharusnya dianggap begitu. Karena disamping itu semua, Raya jauh lebih pantas berbangga diri.
Terbukti dengan apa yang terjadi di pagi ini. Tepat ketika Melinda berniat memasuki dapur untuk melaksanakan rutinitasnya yaitu membuat menu sarapan setelah sebelumnya membangunkan adik-adiknya, Melinda sudah lebih dulu menemukan Raya di dapur. Ya, Raya mendahuluinya.
Tanpa menimbulkan suara bising, Melinda duduk di atas kursi bartender sembari melihat bagaimana Raya memasak air di sana. Tujuan Melinda duduk di sana bukan untuk melihat kemampuan Raya dalam hal memasak, Melinda hanya ingin menunggu Raya selesai memakai dapur, baru setelah itu giliran Melinda yang memakai dapur.
Jangan tanya kenapa Melinda tidak ikut bergabung saja bersama Raya. Sebab jawabannya hanya satu, Melinda tidak sudi.
Ayolah, Melinda hanyalah manusia biasa yang sama seperti Ambar dan Sita. Dia tidak senaif Cacha yang bisa menerima kehadiran mereka dengan lapang dada di saat usia Cacha sudah cukup mampu untuk memahami apa arti dari 'anak dari wanita lain'. Tidak, Melinda tidak bisa.
Soal Keramahan yang selama ini Melinda pertahankan pun hanyalah sebuah kepura-puraan. Keramahan yang dia lakukan semata-mata hanyalah sebuah bentuk dari kedewasaan Melinda dalam bersikap bukan karena Melinda menerima kehadiran mereka berdua.
Dan apa yang dia lihat semalam berhasil membuat sikap ramah yang dia pertahankan memudar. Melinda merasa kesal bukan main karena Raya bisa semudah itu dekat dengan adik kecilnya. Tidak bisa dikatakan kesal juga, mungkin Melinda hanya merasa tidak rela.
KAMU SEDANG MEMBACA
COLORS (✓)
Fanfic(Completed) Local Fanfiction Cast : Gfriend and Seventeen Percintaan | Keluarga | Persaudaraan | Drama COLORS Sinopsis : Kehidupan keluarga Senandika terlihat begitu sempurna meskipun tanpa kehadiran sosok seorang Ibu. Sang Ayah yang notabennya ada...
